Tragedi 1998 Yang Dilupakan

 

oleh : Hai Hai
 
Alih-alih mengungkap Tragedi Mei 98, Presiden-Presiden RI justru berlomba memberi HADIAH kepada orang Cina agar sibuk main barongsai dan asyik merayakan Imlek lalu melupakan pemerkosaan amoi 98?
Kesimpulan
Sejak tahun 1998 Prabowo Subianto dan begundal-begundalnya bahkan kemudian Jusuf Kalla berusaha menggiring opini publik bahwa kerusuhan Mei 1998 adalah kerusuhan SOSIAL karena masyarakat yang tidak tahan lagi menanggung krisis ekonomi dan menghadapi kesenjangan sosial. Itu sebabnya tidak ada dalangnya karena dilakukan secara spontan oleh masyarakat yang frustasi.

Sejak tahun 1998 Prabowo Subianto dan begundal-begundalnya berusaha menggiring opini publik bahwa kerusuhan Mei 1998 adalah AMUK masa membalas dendam atas pembunuhan mahasiswa Trisakti, itu sebabnya tidak ada dalangnya karena dilakukan secara spontan oleh masyarakat yang marah.
Sejak tahun 1998, berdasarkan laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), “Untuk itu, pemerintah perlu melakukan penyelidikan terhadap pertemuan di Makostrad pada tanggal 14 Mei 1998 guna mengetahui dan mengungkap serta memastikan peran Letjen Prabowo dan pihak-pihak lainya, dalam seluruh proses yang menimbulkan terjadinya kerusuhan” Prabowo dan begundal-begundalnya berusaha menggiring opini publik bahwa TGPF memvonis Prabowo merancang kerusuhan Mei 1998 di Makostrad pada tanggal 14 Mei 1998 bersama Adnan Buyung Nasution, Setiawan Djodi, Rendra, Bambang Widjojanto dan lain-lainnya. Itu sebabnya Prabowo mustahil dalangnya sebab tidak mungkin merancang kerusuhan setelah kerusuhannya berlangsung.

Sejak tahun 1998 Prabowo Subianto dan begundal-begundalnya berusaha menggiring opini publik bahwa kerusuhan Mei 98 disulut untuk menjatuhkan Soeharto. Itu sebabnya, sebagai kroni apalagi menantu Prabowo mustahil mendalanginya.
Padahal, kerusuhan Mei 98 dipicu dan dipacu untuk melestarikan kekuasaan Soeharto baik dengan cara memfitnah mahasiswa mengobarkan kerusuhan anti Cina sehingga terpaksa dihentikan dengan kekerasan, maupun menyatakan negara dalam keadaan darurat.
Tujuan pembunuhan mahasiswa pada tanggal 12 Mei 1998 petang adalah memprovokasi mahasiswa untuk melakukan unjuk rasa besar-besaran kebesokannya. Di tengah demonstrasi mahasiswa itulah preman-preman berbaju koko, berseragam SMA dan SMP akan merampok dan membakar gedung-gedung. Dengan cara demikianlah mahasiswa menjadi kambing hitam.
Karena kambing hitamnya tidak mau keluar kampus dan preman-premannya tidak berhasil merampok dan membakar gedung-gedung maka skenario kerusuhan pun diserahkan kepada pakarnya yaitu yang lebih baik kembali nama dari pada gagal di medan tugas untuk dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 1998?

Sayang sejuta sayang. Pada tanggal 14 mei 1998 kambing hitamnya kembali tidak mau keluar kandang meskipun sudah dibujuk, diejek, dimaki, ditakut-takuti, dilempari batu, bahkan ditawari aparat untuk diantar ke MPR.
Meskipun kambing hitamnya tidak keluar kandang, kenapa perusuh mulai merampok dan membakar gedung-gedung? Karena sejak jam 06.00 pagi sang DALANG pergi ke Malang dengan banyak saksi itu sebabnya tidak bisa diajak berkomunikasi? Makanya lebih baik pulang nama dari pada gagal di medan tugas?
Penjarahan saja tidak cukup kejam. Itu sebabnya ditambahkan pembakaran. Penjarahan dan pembakaran saja tidak cukup kejam. Itu sebabnya ditambahkan penganiayaan dan pembunuhan bahkan pemerkosaan. Harus benar-benar kejam agar tidak ada yang marah ketika kambing hitamnya disembelih.

Bukan Kudeta Mustahil Ganyang Cina
Kerusuhan Mei 98 mustahil menjatuhkan Soeharto. Kerusuhan Mei 98 justru memberi peluang kepada presiden untuk melestarikan kekuasaannya dengan membantai mahasiswa atau menyatakan negara dalam keadaan darurat.
Kerusuhan Mei 98 bukan Ganyang Cina. Perasaan anti Cina di Indonesia bersifat pribadi, bukan kelompok. Perasaan anti Cina hanya berkobar di hati beberapa orang non Cina kepada orang Cina tertentu. Di Indonesia tidak ada SATU orang apalagi kelompok non Cina yang membenci SEMUA orang Cina. Di Indonesia memang ada kelompok yang melakukan gerakan anti Ahmadiyah, anti Syiah, anti Kristen secara sistemik dan sistematis namun tidak ada kelompok yang anti Cina secara sistemik dan sistematis.

Kerusuhan Mei 98 bukan AMUK masa BALAS DENDAM atas pembunuhan mahasiswa Trisakti. Bila hendak balas dendam masyarakat pasti menyerang aparat yang berjaga-jaga di luar kampus.
Kerusuhan Mei 98 bukan kerusuhan SOSIAL. Bila tidak tahan lagi menanggung krisis ekonomi rakyat pasti berteriak minta tolong sebelum menjarah.
Hadiah Untuk Orang Cina
Gambar: hai hai
Selain Pasukan Khusus hanya teroris yang mampu menyulut kerusuhan Mei 98. Bila bukan ABRI pasti TERORIS. Bila bukan Pasukan Khusus maka kerusuhan Mei 98 adalah pelecehan dan penghinaan bagi ABRI dan NKRI. Satu-satunya cara untuk menegakkan HARGA diri adalah mengungkap DALANG kerusuhan Mei 1998.
Berdasarkan Keputusan Bersama Menhankam/Pangab, Menteri Kehakiman, Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri, Menteri Negara Peranan Wanita, dan Jaksa Agung, dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Namun sayangnya, sampai hari ini Presiden-Presiden RI dan MA menganggap rekomendasi TGPF kentut belaka. Sementara itu DPR seolah main sinetron macan ompong. Mengaum namun tidak bertaring. Mengusulkan pembentukan Pengadilan HAM Adhoc ke Presiden namun tidak menindaklanjutinya.
Habibie dan SBY berlagak pilon? Masyarakat maklum sebab Habibie adalah Wakil Presiden dan SBY menjabat Kasdam Kodam Jaya saat kerusuhan berlangsung. Membongkar aib sendiri? Tak U U ya! Kenapa presiden Gus Dur yang mulia dan presiden Megawati yang terhormat juga BUNGKAM tentang Kerusuhan Mei 1998?
Tahun 1998, Habibie menerbitkan Inpres No. 26 tahun 1998 tentang penghentian penggunaan istilah pribumi dan non pribumi. Tahun 1999 Habibie menerbitkan Inpres No. 4 Tahun 1999 untuk menjalankan Keputusan Presiden Nomor 56 Tahun 1996 tentang penghapusan SBKRI (Surat Kewarganegaraan Republik Indonesia) bagi warga non pribumi.
Tahun 2000, Gus Dur menerbitkan Keppres No. 6 tahun 2000 Tentang Pencabutan Inpres No. 14 tahun 1967 Tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina, sehingga orang Tionghoa pun bebas main barongsai.
Tahun 2001 Gus Dur mengeluarkan Keppres No. 19 tahun 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (bagi yang merayakannya) sehingga orang Tionghoa pun merayakan Imlek terang-terangan.
Tahun 2002 Megawati mengeluarkan Keppres No. 19 tahun 2002 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional, orang Tionghoa pun asyik merayakan Imlek.
Tahun 2006 SBY mensahkan UU No. 12 tahun 2006 Tentang Kewarganeraan RI dan UU No. 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan, untuk membebaskan orang Tionghoa dari diskriminasi sistem administrasi kependudukan.
Tahun 2014 SBY mengeluarkan Keppres No. 12 tahun 2014 tentang Pencabutan Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera No. 6 tahun 1967, sehingga dalam semua kegiatan penyelenggaraan pemerintahan istilah Tjina/China/Cina diganti dengan Tionghoa dan Republik Rakyat Cina (RRC) menjadi Republik Rakyat Tiongkok (RRT).
Tanya, “Kenapa?” Alih-alih mengungkap Tragedi Mei 98, presiden-presiden RI justru berlomba-lomba memberi HADIAH kepada orang Cina? Agar sibuk main barongsai dan asyik merayakan Imlek lalu melupakan pemerkosaan amoi 98?
HARTA yang musnah bisa diganti namun LUKA dan HINA yang ditanggung amoi-amoi yang diperkosa tahun 1998 diwariskan ke generasi berikutnya. Perasaan HINA yang ditanggung oleh lelaki-lelaki Tionghoa karena nggak BECUS melindungi amoi-amoinya tidak boleh dilupakan dari generasi ke generasi agar hal demikian tidak terulang lagi.

Wayang Pemerkosa Amoi 98

Gambar: lintas.me
Memperkosa perempuan bukan tindakan mudah. Menyeret seorang perempuan dari keramaian lalu memperkosanya jauh lebih sulit lagi. Makanya, kebanyakan pemerkosaan dilakukan oleh orang yang dikenal baik. Seseorang HARUS benar-benar dikuasai nafsu birahi dan merasa AMAN barulah NEKAD memperkosa.
Pemerkosaan berkelompok mustahil terjadi secara spontan karena HANYA perlu satu orang tidak setuju untuk mencegah yang lain melakukannya. Takut yang tidak setuju buka mulut. Itu sebabnya pemerkosaan berkelompok selalu dilakukan TERENCANA. Para pelaku sepakat dulu untuk melakukannya bersama-sama barulah menentukan tempatnya kemudian mencari mangsanya.
Pelaku pemerkosaan pasti meninggalkan korbannya begitu nafsu birahinya terpuaskan. Pemerkosa yang melakukan kekerasan seksual merusak organ sex yang diperkosanya, bila tidak sakit jiwa pasti tentara terlatih yang mengemban tugas melakukan hal demikian.
Pemerkosa amoi 98 bukan orang yang tiba-tiba khilaf. Juga bukan preman-preman yang sepakat melampiaskan birahinya bersama-sama apalagi orang-orang sakit jiwa. Siapakah mereka? Mereka adalah tentara terlatih yang mengemban tugas menyulut kerusuhan Anti Cina.
Kerusuhan Anti Cina Untuk Membantai Mahasiswa
Gerakan mahasiswa menuntut Soeharto lengser dilakukan dengan damai sesuai konstitusi. Itu sebabnya ABRI tidak punya alasan untuk menghentikannya dengan kekerasan. Bila memaksa, maka Indonesia akan dikecam dan dikucilkan sebab pada tahun 1998, mata seluruh dunia tertuju ke Indonesia. Itu sebabnya satu-satunya cara adalah memprovokasi mereka agar bertindak anarki. DALANG kerusuhan Mei 98 melakukannya dengan tiga cara yaitu:
1. Menyusupkan agen untuk memprovokasi mahasiswa melakukan pengrusakan dan penyerangan aparat.
2. Mengerahkan masa tandingan untuk bentrok dengan mahasiswa.
3. Memicu dan memacu kerusuhan Anti Cina lalu menjadikan mahasiswa kambing hitamnya.

Pembunuhan Mahasiswa Trisakti

Gambar: kompas
Karena jendral AH Nasution akan berorasi maka kurang lebih 6.000 mahasiswa dan dosen Trisakti pun hadir untuk mendengarkannya. Namun, sang jendera tidak kunjung datang. Kenapa AH Nasution tidak jadi ke Trisakti? Saya tidak tahu. Media tidak memberitakannya. Tim Gabungan Pencari Fakta pun tidak mengungkapnya.
Pembunuhan mahasiswa Trisakti terjadi antara jam 17. 05-18.30 WIB saat mahasiswa yang gagal ke MPR kembali ke kampusnya. Setelah provokator yang mengaku alumni Trisakti gagal memicu bentrokkan dan beberapa orang aparat yang mengejek dan menghina mahasiswa gagal memacu kemarahan mahasiswa maka sekonyong-konyong aparat menembak dan melontarkan dan gas air mata membabi-buta. Popor senjata dan pentungan menghajar mahasiswa tanpa pilih bulu lelaki atau perempuan. Yang sudah jatuh ditendang dan diinjak tanpa belas kasihan. Pasukan URC (Unit Reaksi Cepat) penunggang motor mengejar mahasiswa yang panik sampai ke depan pintu gerbang.
Puluhan mahasiswa terluka. Enam orang tertembak dan empat mahasiswa gugur ditembus peluru. Hendriawan Sie, 20 tahun ditembak lehernya. Elang Mulya Lesmana, 19 tahun, ditembak dadanya. Hafidhin Royan, 21 tahun, ditembak kepalanya. Hery Hartanto, 21 tahun ditembak punggungnya. Terbukti kemudian, peluru yang digunakan bukan milik ABRI. Bila demikian, siapa yang menembak mahasiswa dengan peluru tajam?
Kapten Agustri Heryanto, Komandan Kompi II Batalyon B Resimen I Korps Brimob yang diadili Mahkamah Militer sehubungan kasus penembakan mahasiswa Trisakti bersaksi, “Tembakannya keras. Lebih keras dari tembakan peluru karet, arah tembakan dari Tol di Citraland.”
Lettu Anneke Wacano (Polwan) bersaksi kepada Komnas HAM tentang Land Rover hijau milik anggota TNI di jembatan layang di depan Kampus Trisakti. Dua anggota TNI seragam hitam membidik ke kampus Trisakti dengan senjata laras panjang berteleskop. Satu kali letusan senjata kemudian keduanya menghilang ke mall Citraland.
Tidak sulit untuk menarik kesimpulannya. Tim Mawar Kopassus dibentuk Prabowo untuk menculik para aktivis. Anggota tim Mawar mengaku hanya komandan tim yang tahu sepak terjang mereka. Anggota Kopassus penyerang LP Cebongan Sleman juga mengaku, hanya komandan tim yang tahu sepak terjang mereka. Itu sebabnya, tidak sulit untuk menelusuri jejaknya. Selain Kopassus pasukan mana lagikah yang bisa digerakkan seenak jidat komandan timnya untuk bertindak seenak jidatnya?

Kampus-Kampus Pada Tanggal 13 Mei 1998
Mahasiswa UI dan Unika Atma Jaya sama-sama mengirim perwakilan ke Trisakti dan menggelar “Solidaritas Trisakti” di dalam kampus. Untuk menghindari keributan dengan masa di luar kampus yang memaksa demo ke MPR, pintu gerbang pun ditutup dan dijaga.
Di Jakarta pada tanggal 13 Mei 1998 tidak ada mahasiswa yang beraksi di luar kampusnya masing-masing.

Kampus Trisakti Pada 13 Mei 1998
Kampus dipenuhi mahasiswa Trisakti, Untar dan Ukrida serta perwakilan barbagai kampus lain. Hanya yang menunjukkan kartu mahasiswa atau yang dikenal boleh masuk.
Sekitar jam 11.00, sekelompok masa berbaju koko dan berpeci, dilarang masuk karena tidak punya kartu mahasiswa dan tidak dikenal. Mereka memaksa masuk dengan bringas namun di halau tanpa tedeng aling-aling. Masa itu melakukan Shalat Ghaib (Shalat dari jauh untuk mayat) di jalan S Parman. Selesai shalat mereka pun berteriak-teriak mengajak mahasiswa ikut ke MPR. Karena diabaikan mereka pun memaki, “Mahasiswa Pengecut!” dan melempari mahasiswa dengan batu.

Sekitar jam 13.00, masa berseragam SMA dan SMP memenuhi Jl Kyai Tapa di luar kampus Trisakti. Seragam mereka tidak lengkap bahkan anak SMP pakai celana panjang. Umurnya terlalu tua untuk anak SMA apalagi SMP. Mereka mencegat lalu membajak truk tanah berwarna kuning yang lalu ditabrakkan ke pom bensin di sebelah terminal Grogol.
Ketika aparat bergerak menghalau, masa melawan dengan lemparan batu sambil berteriak, “Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh!” Sebagian mahasiswa di dalam kampus ikut meneriaki polisi, “Hai anjing LU! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh!”
Dari atas jembatan layang, beberapa orang aparat membidik mahasiswa di dalam kampus dengan senjata laras panjang yang siap diletuskan. Melihat hal demikian, mahasiswa Trisakti dan Untar pun kalap lalu keluar kampus dan menantang aparat untuk menembak. Tantangannya diabaikan mahasiswa pun melempari aparat dengan batu. Aparat kabur. Mundur.
Sekitar jam 14.00, mahasiswa dikejutkan teriakan, “Polisi datang. Siap-siap!” Sebagian mahasiswa segera berlindung yang lainnya justru mencari batu untuk berperang. Bunyi senapan memekakan telinga dan gas air mata mengebul di mana-mana. Mahasiswa-mahasiswa kampus lain pun memutuskan untuk meninggalkan Trisakti. Dipimpin oleh mahasiswa Ukrida dan Untar mereka memanjat ke kampus Untar lalu keluar di Jl. Tawakal dan menghilang lewat jalan-jalan tikus.

Atma Jaya Tanggal 14 Mei 1998
Sejak pagi, masa di luar kampus mengajak mahasiswa ke MPR dan melempari aparat. Di dalam kampus, mahasiswa melakukan orasi mendukung reformasi. Adnan Buyung Nasution juga hadir dan diberi kesempatan berorasi.
Berkali-kali masa di luar kampus memaki dan menghina “Mahasiswa pengecut!” bahkan melempari mahasiswa dengan batu karena menolak ajakan mereka ke MPR.
Aneh bin ajaib! Aparat yang berjaga di luar kampus ujug-ujug menawarkan jasa untuk mengawal mahasiswa ke MPR. Tentu saja tawarannya ditolak mentah-mentah. Melalui radio, mahasiswa mendengar berita kerusuhan yang merebak di Jakarta.

 

Ukrida Tanggal 14 Mei 1998
Mahasiswa pun menjalani waktu dengan ngobrol dan main futsal sambil mendengarkan radio. Sekitar jam 14.00, masa bebaju koko, berseragam SMA dan SMP mendatangi dari Mall Taman Anggrek sambil mengacung-acungkan golok dan pentung. Sambil berteriak, “Bakar! Bakar!” mereka berusaha mendobrak gerbang. Mahasiswa pun mempersenjatai diri dengan kayu dan batu untuk menghadapi penyerang.
Tiba-tiba terdengar suara berondongan senapan dari arah Tanjung Duren. Masa pun lari tunggang-langgang. Sebagian masa dengan wajah ketakutan memohon untuk menyelamatkan diri ke dalam kampus. Permintaannya ditolak mentah-mentah. Yang melepaskan tembakan adalah polisi-polisi polsek Tanjung Duren.
Pada Tanggal 13 Mei 98 Tidak Ada Kerusuhan

 

Gambar: viva.co.id
TGPF: Dari sudut urutan peristiwa, TGPF menemukan bahwa titik picu paling awal kerusuhan di Jakarta terletak di wilayah Jakarta Barat, tepatnya wilayah seputar Universitas Trisakti pada tanggal 13 Mei 1998.
TGPF salah! Pada tanggal 13 Mei 98, selain truck tanah yang dibajak sekitar jam 13.00 lalu ditabrakkan ke pom bensin oleh masa berseragam SMP dan SMA, tidak ada kerusuhan di seputar Trisakti. Sekitar jam 14.00 aparat menghujani kampus Trisakti dengan tembakan dan lontaran gas air mata, namun tidak ada korban.
Beberapa orang bersaksi, antara jam 18.00-19.00, melihat penjarahan di diskotik Top One di Jl. Daan Mogot padahal yang terjadi adalah satpam diskotik sebagian tanpa seragam mengeluarkan botol-botol kosong lalu membantingnya di halaman diskotik untuk membuat barikade beling guna menghalangi orang masuk.
Ada yang bersaksi melihat mall Tomang Plaza (Topaz) dijarah dan dibakar sejak sore dan apinya baru padam malam harinya, padahal, tidak ada kebakaran sama sekali. Yang terjadi sore itu adalah masa membakar sampah dan ban bekas di halaman Topaz.
Sekitar jam 20.00, masyarakat Jelambar berjaga-jaga karena mendengar kabar, di Jl. Angke (antara Jembatan Dua sampai Pesing) sudah terjadi penjarahan bahkan pembakaran, padahal, tidak ada penjarahan apalagi pembakaran.
Ada yang bersaksi, sejak sore terjadi penjarahan dan pembakaran di Jembatan Lima, padahal tidak ada sama sekali. Jl. Hayam Wuruk dan Gajah Mada kondisinya aman-aman saja sampai tanggal 14 Mei 1998 pagi.
Jam 19.00, di Keresek, Jakarta Barat, masa meneriakan yel-yel anti Cina ke dalam komplek perumahan. Tindakannya memancing orang-orang kampung menontonnya. Masa kampung berdiri di belakang provokator, itu sebabnya ketika penghuni komplek keluar, mereka menyangka semua orang yang berdiri di seberang lapangan adalah penyerang. Makanya, ketika diserang dengan batu oleh masa provokator penghuni komplek pun membalasnya. Karena penduduk kampung yang berdiri di belakang masa provokator merasa diserang penghuni komplek maka mereka pun menyerang balik. Terjadilah saling lempar batu dan kayu. Ketika penghuni komplek berhenti menyerang orang-orang kampung pun berhenti membalas. Tidak ada yang terluka karena jaraknya kedua masa terlalu jauh. Karena tidak ada tontonan lagi masa kampung dan penghuni komplek pun pulang.

Kerabatku sekalian, pada tanggal 13 Mei 1998, tidak ada kebakaran apalagi pembakaran di Jakarta. Silahkan melakukan konfirmasi ke Pos Pemadam Kebakaran terdekat dari lokasi yang diisyukan terjadi penjarahan dan pembakaran. Yang terjadi sore hingga malam itu adalah kemacetan total karena sebagian masyarakat panik termakan isyu kerusuhan anti Cina merebak di mana-mana. Yang terjadi hari itu adalah preman-preman berkeliaran di jalan-jalan menyebarkan isyu tentang kerusuhan anti Cina kepada para pengendara. Yang terjadi hari itu adalah preman-preman gagal melakukan kerusuhan dan gagal pula memancing masyarakat untuk melakukan kerusuhan.
Prabowo Tentang Kerusuhan 13 Mei 1998

 

Gambar: jurnal3.com
Tanggal 14 Oktober 1999, di Bangkok, 4 wartawan mewawancari Prabowo. Inilah yang dimuat di Majalah PANJI No. 28/III, 27 Oktober 1999:
Saya mulai dari 12 Mei 1998. Malam itu, pukul 20.00 wib, ketika di rumah Jl. Cendana No. 7, saya ditelepon Sjafrie (Pangdam Jaya saat itu, Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin). Kata dia, “Gawat nih, Wo, ada mahasiswa yang tewas tertembak.” Saya lalu bergegas ke Makostrad. Saya sudah antisipasi, besok pasti ramai. Maka pasukan saya konsolidasi. Kalau perlu tambahan pasukan kan mesti disiapkan tempatnya. Mau ditaruh di mana mereka. Malam itu saya terus memantau situasi. Lalu, terpikir oleh saya, kelanjutan rencana acara Kostrad di Malang pada 14 Mei 1998. Rencananya inspektur upacara adalah Pangab Wiranto. Pangkostrad juga harus hadir. Kalau ibu kota genting, apa kita masih pergi juga?

Keesokan harinya, sejak pukul 08.00 WIB, saya mengontak Kol. Nur Muis dan menyampaikan usulan agar acara di Malang ditunda. Atau, kehadiran pangab dibatalkan saja karena situasi ibu kota genting. Biar saya saja yang berangkat. Jawaban dari Pak Wiranto yang disampaikan lewat Kol. Nur Muis, acara tetap berlangsung sesuai rencana. Irup (Inspektur Upacara—Red.) tetap Pak Wiranto dan saya selaku pangkostrad tetap hadir. Beberapa opsi usulan saya tawarkan kepada Pak Wiranto, yang intinya agar tidak meninggalkan ibu kota, karena keadaan sedang gawat. Posisi terpenting yang harus diamankan adalah ibu kota. Tapi, sampai sekitar delapan kali saya telepon, keputusan tetap sama. Itu terjadi sampai malam hari.
Jadi, pada 14 Mei, pukul 06.00 WIB kita sudah berada di lapangan Halim Perdanakusuma. Saya kaget juga. Panglima utama ada di sana. Danjen Kopassus segala ikut. Saya membatin, sedang genting begini kok seluruh panglima, termasuk panglima ABRI malah pergi ke Malang. Padahal, komandan batalion sekalipun sudah diminta membuat perkiraan cepat, perkiraan operasi, begini, lantas bagaimana setelahnya. Tapi, ya sudah, saya patuh saja pada perintah. Saya ikut ke Malang.

 

Inilah yang dimuat majalah Asiaweek Vo. 26/No. 8, 3 Maret 2000:
Kejadian tersebut bermula hari Selasa, 12 Mei, ketika Prabowo menerima panggilan telepon. Beberapa mahasiswa tertembak selama demonstrasi di Universitas Trisakti. Naluri pertama Prabowo adalah untuk menyalahkan pasukan keamanan yang tidak disiplin. “Kadang-kadang polisi dan tentara kita begitu tidak profesional. Anda dapat melihat beberapa kesatuan seperti itu. Ya, Tuhan, ini bodoh. Itu adalah reaksi pertama saya.”
Merasa situasi darurat segera terjadi, dia pergi ke markas besarnya di Medan Merdeka, yang hanya terletak di samping markas garnisun. Sebagai Panglima Kostrad, tugas Prabowo adalah menyediakan anak buah dan peralatan. “Saya memanggil pasukan, menyiagakan mereka,” katanya. “Pasukan ini selalu di bawah kendali operasional dari komandan garnisun (Pangdam Jaya). Itulah sistem kami. Saya pada dasarnya hanya berkapasitas sebagai pemberi saran. Saya tidak mempunyai wewenang.”
Dia kembali ke rumah setelah tengah malam, tetapi kembali ke markas Kostrad pagi-pagi esok harinya, 13 Mei. Ketika perusuh mulai merampok dan membakar gedung-gedung, Prabowo menghabiskan waktu seharian untuk memikirkan cara bagaimana menggerakkan dan menampung batalion-batalionnya. Kecemasan lain: esok harinya Wiranto telah dijadwalkan memimpin sebuah upacara angkatan darat pada pagi berikutnya di Malang, Jawa Timur, sekitar 650 km lebih dari ibukota yang sedang kacau. Sepanjang tanggal 13 Mei, Prabowo berkata bahwa dia mencoba membujuk Wiranto untuk membatalkan kehadirannya di Malang. “Saya menganjurkan bahwa kita membatalkan upacara tersebut di Malang,” katanya. “Jawabnya: tidak, upacara tersebut tetap berlangsung. Saya menelepon kembali. Itu terjadi bolak-balik. Delapan kali saya menelepon kantornya, delapan kali saya diberitahu bahwa upacara itu harus tetap dilaksanakan.”

Jadi pada jam enam pagi, hari Kamis tanggal 14 Mei, Prabowo tiba di pangkalan udara Halim di Jakarta Timur. Dia mengatakan terkejut, pada situasi yang tegang seperti ini, menjumpai sebagian besar pimpinan militer ada di sana. Selama penerbangan dan upacara, dia mengatakan bahwa Wiranto dan dia tak banyak bicara satu sama lain.
Di halaman 85 bukunya yang berjudul, “Konflik dan Integrasi TNI-AD” yang diterbitkan oleh Institute for Policy Studies tahun 2004, Mayjen Kivlan Zen menyalahkan Wiranto yang kekeh jumekeh ke Malang untuk menjadi Inspektur upacara serah terima PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) dari Divisi I Kostrad ke Divisi II Kostrad walaupun Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto telah menyarankan agar tidak usah berangkat karena saat itu Jakarta sudah genting sebab pembakaran dan kerusuhan terjadi di mana-mana.
Menyingkap Kedok Dalang Kerusuhan Mei 1998

 

Gambar: nguungnguung
Wiranto menjadi inspektur upacara di Malang tanggal 14 Mei 1998 sudah dijadwalkan sejak bulan Maret 1998. Kivlan Zen yang menyiapkan acaranya. Tidak ada alasan yang cukup kuat bagi Wiranto untuk membatalkan kepergiannya. Jakarta aman-aman saja. Sampai keberangkatan Wiranto ke Malang jam 06.00 tanggal 14 Mei 1998 tidak ada situasi gawat apalagi perusuh mulai merampok dan membakar gedung-gedung di Jakarta.
Kenapa Prabowo bersaksi Jakarta sedang gawat dan genting bahkan perusuh mulai merampok dan membakar gedung-gedung padahal saat itu Jakarta aman-aman saja? Karena sang DALANG sudah memberi perintah, seharusnya perusuh mulai merampok dan membakar gedung-gedung pada tanggal 13 mei 1998?
Kenapa Prabowo membantin, “sedang genting” padahal saat itu Jakarta aman-aman saja? Kenapa Prabowo “terkejut, pada situasi yang tegang,” padahal Jakarta aman-aman saja? Karena sang DALANG sudah memberi perintah kepada lebih baik pulang nama dari pada gagal di medan tugas agar perusuh mulai merampok dan membakar gedung-gedung tanggal 14 Mei 1998?

Kambing hitamnya tidak mau keluar kandang pada tanggal 13 Mei 1998. Kenapa perusuh mulai merampok dan membakar gedung-gedung walaupun kambing hitamnya tidak mau keluar kandang pada tanggal 14 mei 1998? Karena sang DALANG sedang pergi ke Malang bersama banyak SAKSI makanya tidak bisa berkomunikasi? Karena wayang-wayangnya tidak berani melanggar perintah sebab lebih baik pulang nama dari pada gagal di medan tugas?
Tahun 1998, Sjafrie Sjamsoeddin adalah Pangdam Jaya. Kapolda Metro Jaya dijabat oleh Hamami Nata. Prabowo adalah Pangkostrad. Kapolrinya Dibyo Widodo. Subagyo HS menjabat Kasad dan Menhan/Pangab dijabat oleh Wiranto.

Dalam kesaksiannya di depan TGPF, Kapolda Metro Jaya, Hamami Nata menyatakan kerusuhan ini (red: kerusuhan Mei 98) sangat terorganisir dan dilakukan orang-orang terlatih. Ia memperlihatkan foto-foto yang membuktikan bahwa pelakunya sangat terlatih. Ia juga mengatakan bahwa alat komunikasi polisi di -jam (dibuat macet dan nggak berfungsi), dan pos-pos polisi dibakar. Ketika ia ditanya oleh tim TGPF, mengapa polisi tidak melakukan penembakan utk menghentikan para perusuh, ia menjawab: “Bagaimana kami mau menembak kalau di tengah-tengah masa itu ada orang-orang bersenjata dari angkatan?”.
Prabowo bersaksi, tanggal 20 Mei 1998, di rumah presiden Soeharto, Wiranto ada di sana, ketika menyangka dirinya akan mendapat pujian, Mamiek Soeharto justru menudingkan telunjuknya sejauh satu inci dari hidung Prabowo dan berteriak, “Kamu pengkhianat! Jangan injak kakimu di rumah saya lagi!” Sampai hari ini kita tidak tahu apa alasan Mamiek menuding Prabowo pengkhianat? Mungkinkah tindakan sang DALANG (tanpa sepengetahuan Soeharto dan Pangab) menyulut kerusuhan anti Cina yang gagal menjadikan mahasiswa kambing hitam dianggap pengkhianatan? Saya tidak tahu! Kalau saja Mamiek Soeharto mau bicara. Namun, kita harus mengakui bahwa kerusuhan Mei 98 hanya menyisakan satu pintu bagi Presiden Soeharto yaitu lengser karena semua pintu yang lainnya sudah dimusnahkan.

sumber :http://politik.kompasiana.com/2014/05/20/dalang-pemerkosa-amoi-98-ternyata-dia-658237.html

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s