Pemilu 2014 dan Anak Zaman Peralihan (part II)

“It takes East Timorese to fight East Timorese”

Konsep milisi Sipil (mempersenjatai penduduk sipil dan melatihnya dengan keterampilan militer) untuk membantu militer bukan hal baru di dunia dan di ABRI saat itu. Biasanya militer akan mendapatkan dukungan secara intelijen dari milisi Sipil dan juga bantuan saat pertempuran. Namun yang sedikit membedakan konsep Unconventional Warfare Prabowo ini adalah pendekatannya menargetkan satu kelompok untuk milisi Sipil bentukannya: preman Timor Timur.

Preman menjadi jasa keamanan militer juga sudah dilakukan sebelum di TimTim. Di akhir tahun 70-an, militer menggunakan jasa preman terorganisir untuk “mengamankan” Pemilu. Mengarahkan pemilih untuk mencoblos partai tertentu. Beberapa tahun kemudian grup preman ini akhirnya tak dapat dikendalikan dan meningkatkan tingkat kriminalitas di kota-kota. Di tahun 1982-1984 dilancarkan operasi penembakan gelap para preman yang tak terkendali ini. Publik menyebutnya Petrus (penembakan misterius). Para korban Pe­trus ditemukan masyarakat da­lam kondisi tangan dan lehernya te­ri­kat, tewas. Kebanyakan korban juga dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, la­ut, hutan dan kebun. Pola pengambilan pa­ra korban kebanyakan diculik oleh orang tak dikenal dan dijemput aparat ke­amanan. Tempo pernah memuat pengakuan pelaku Petrus.

Dengan menggunakan preman terorganisir yang juga adalah orang-orang TimTim sendiri, maka kritik terhadap ABRI dari dunia internasional bisa berkurang di samping berkurangnya tingkat kekerasan dari para pemberontak (Fretilin) pro kemerdekaan (akibat tekanan kekerasan milisi Sipil tentunya). Tentunya agar milisi Sipil ini mau ikut kehendak ABRI, mereka diberikan kekuasaan dan kesejahteraan. Inilah bentuk terbaru dari Unconventional Warfare versi Prabowo yang dibahas selama studinya di Seskoad, menurut dokumen tersebut.

mind over matter

Bila di artikel dengan judul yang sama bagian pertama saya mencoba mengulas mengenai euforia kampanye kedua capres, kesamaan para pendukung capres dengan fans bola, soal Hok-Gie dan Zaman Peralihan, maka di bagian kedua ini saya akan membahas soal pengetahuan saya tentang kedua capres. Dengan berbekal informasi dari media ditambah dengan pengalaman pribadi, barangkali saya kemudian bisa memutuskan untuk memilih capres yang mana.

Visi misi keduanya penuh dengan retorika, janji-janji yang bila dipenuhi tentu berakibat pada masa depan negeri yang cerah (tentunya tergantung sudut pandang masing-masing kubu). Materi kampanye mereka pun telah disiapkan dengan baik oleh tim sukses yang profesional (lengkap dengan serangan terhadap lawannya). Kedua pasang capres-cawapres rasanya sudah siap sekali memimpin negeri ini dan tampak yakin dapat memenuhi janjinya, walaupun kita tahu tak mungkin semua janji tersebut terpenuhi selama 5 tahun mereka menjabat.

Bila kita abaikan hiruk-pikuk kampanye kedua kubu capres, maka bahan yang tersisa untuk menjatuhkan pilihan adalah menilai pribadi masing-masing…

View original post 1,825 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s