Mengintip calon presiden RI

 

Image
Shamsi Ali
 
Ketika saya terpikir menuliskan ini, saya sudah membayangkan bagaimana sikap, respon, penilaian teman-teman dalam memahami tulisan saya ini. Masalahnya, di tengah-tengah hebohnya dukungan kepada masing-masing jagoan, saya harus menentukan pilihan berdasarkan ijtihad politik dan arahan hati nurani saya sendiri.Apalagi, ijtihad politik saya ini seolah menentang arus pilihan parta-partai yang mengatas namakan perjuangan umat Islam. Sehingga boleh jadi dengan menuliskan ini akan ada sebagian yang menjatuhkan “palu” keraguan terhadap komitmen perjuangan Islam yang saya miliki.

 

Tapi saya tidak terlalu peduli dengan itu semua. Pertama, karena bagi saya menentukan pilihan hidup, apalagi dalam pilihan politik, alamiahnya didasarkan kepada pilihan nurani yang independen. Bahkan pilihan saya menjadi seorang Muslim bahkan menghabiskan umur dalam perjuangan di jalan dakwah, juga karena pilihan independen. Oleh karena itu, ketika saya memutuskan untuk memilih satu dari dua calon presiden, maka itu merupakan pilihan yang harus saya ambil.

Yang pasti adalah bahwa pemilihan presiden kali memang mengasyikkan. Keasyikannya adalah karena terjadi distribusi dalam segala hal. Secara kedaerahan, walau ini ke depan seharusnya dijadikan masa lalu, kedua calon mewakili Jawa dan luar Jawa. Secara jejak dalam pemerintahan, keduanya memiliki calon wakil presiden yang pengalaman. Dan secara dukungan kelompok agama Islam, keduanya mendapat dukungan. Walaupun sekali lagi, dalam jangka panjang ke depan, bangsa ini harus mampu (minimal secara tersurat) tidak lagi memakai sekat-sekat seperti itu dalam menejemen negara dan bangsa.

Di satu sisi juga ada hal-hal yang masih menyedihkan dan perlu diperbaiki. Salah satunya adalah masih semaraknya kecenderungan kampanye hitam pada masing-masing pihak. Dan dalam kampanye hitam itu, tidak jarang fitnah berseliwerang. Tapi yang paling menyedihkan adalah ketika fitnah itu dilakukan atas nama perjuangan agama/Tuhan.

Bukan saya tidak setuju memakai agama dalam berpolitik karena saya yakin jika agama ditempatkan secara proporsional maka agama bisa menjadi “moral force” dalam menata political corruption yang mendominasi dunia perpolitikan hari ini. Yang saya tidak setuju adalah ketika agama dijadikan komoditas politik, khususnya ketika kampanye politik menyentuh sisi keagamaan dan keimanan seseorang. Bagi saya, biarlah kegiatan politik itu berjalan secara alami dan proses demokrasi terjadi tanpa rekayasa.

Beberapa waktu lalu saya pernah menyampaikan beberapa kelebihan kedua calon. Walaupun memang saya akui sejak itupun saya memaksakan untuk menemukan kelebihan-kelebihan dari Prabowo subiyanto, jika diperhadapkan dengan Jokowi. Kecuali tentunya kelebihan itu karena didukung oleh mayoritas partai berbasis Islam, bukan mayoritas orang Islam. Kelebihan pada Prabowo paling tidak ada pada ‘solidaritas’ terhadap partai-partai Islam saja.

Masalahnya benarkah mayoritas kader, atau minimal pemilih partai-partai tersebut akan memilih pilihan partainya? Sebuah tanda tanya besar yang hingga kini belum terjawab. Realita mengatakan bahwa partai-partai pendukung Prabowo misalnya, khususnya partai gong alias Golkar, sudah mengalami perpecahan internal. Sebagian, bahkan Fahmi Idris, seorang politisi senior Golkar mengatakan boleh jadi sebagian besar anggota Golkar justeru akan memilih kadernya sendiri, yaitu Jusuf Kalla.

Kali ini saya tidak membicarakan itu lagi. Karena sekali lagi itu bukan urusan saya lagi. Yang perlu saya mantapkan adalah beberapa alasan kenapa saya pada kahirnya harus mengatakan: “saya dukung Jokowi – JK dalam pemilihan presiden RI mendatang”.

Apa alasannya:

Pertama, saya menilai karakter Jokowi – Jusuf Kalla adalah karakter alami atau apa adanya. Seringkali Jokowi menyebutnya: “biasa saja”. Kalau sekarang ini Jokowi dekat dengan rakyat, karena memang dari dulu dekat dengan rakyat. Kalau Jokowi itu berpihak ke orang-orang lemah, dari dulu demikian, bahkan dia sendiri mengalami kehidupan orang-orang miskin di pinggir kali.

Jadi kalau sekarang ini seringkali dilihat turun menemui rakyat, itu bukan karena pencitraan sebagaimana tuduhan selama ini. Hidupnya memang demikian dan kebijakannya dalam waktu pemerintahan di Solo juga demikian. Bahkan kesederhanaan Jokowi juga tercermin dalam kehidupan keluarganya yang sangat sederhana.

Demikian juga dengan kehidupan JK. Walaupun beliau adalah orang yang kaya, tetapi gaya hidup beliau tetap sederhana dan tidak berlebihan. Saya diingatkan oleh seorang walikota dunia, Michel Bloomberg, yang juga sangat sederhana walau dalam kenyataan beliau adalah salah seorang milyuner dunia saat ini.

Karakter itu bukan saja dalam kesederhanaan. Tapi yang paling penting adalah karakter prilaku itu sendiri. Sopan, santun, tawadhu’ dan merakyat. Mungkin berbeda dengan orang lain ketika saat ini nampak sopan, tapi beberapa hari lalu menggunakan kata-kata kasar menyerang lawan politiknya. Itu menandakan ada perubahan “mendadak” yang sudah pasti tidak alami.

Kedua, saya menilai bahwa Jokowi itu walaupun diangkat oleh partai, tapi dalam kebijakannya belum tentu terdikte oleh partai atau kepentinghan elit partai. Ini terbukti ketika menjadi walikota Solo. Di saat para elit PDIP dipeluk erat oleh para pebisnis besar untuk membangun kerajaan bisnis di Nusantara, justeru Jokowi sibuk membangun pasar-pasar tradisional. Yang sudah pasti mal-mal itu menguntungkan para pebisnis, sementara pasar-pasar tradisional berpihak kepada kepentingan rakyat.

Apalagi JK yang jelas sudah membuktikan bahwa partai itu adalah jalan menuju kepada posisi politik untuk bisa berbuat lebih baik kepada bangsa. Sehingga sebagai mantan nomor satu partai Golkar bukan berarti berbuat dan berbakti untuk kepentingan Golkar tapi untuk kepentingan bangsa yang lebih luas.

Sehingga tuduhan-tuduhan yang mengarah kepada “dipakai” apalagi “boneka” saya kira tuduhan yang berlebihan. Kalau Jokowi hormat kepada Ketua PDIP itu wajar-wajar saja. Apalagi karakter Jokowi yang memang respek kepada siapa saja, khususnya kepada yang lebih senior.

Ketiga, pendekatan yang dilakukan oleh Jokowi dalam menyelesaikan berbagai masalah adalah pendekatan kemanusiaan yang berorientasi kerakyatan. Artinya, pendekatan yang dilakukan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada bersifat humanis. Contoh terdekat adalah ketika memindahkan PKL dari tempat lama ke fasilitas baru yang dibangun di kota Solo.

Sudah pasti memindahkan orang-orang dari tempat kerjaaan yang sudah puluhan tahun ke tempat baru yang walaupun lebih indah, tidak mudah. Hal itu karena mereka sudah terbiasa dan sudah merasakan pemasukan di tempat tersebut. Apakah di tempat baru mereka ada garansi untuk mendapatkan pemasukan? Ternyata Jokowi mampu melakukan itu dengan pendekatan sederhana dan manusiawi.

Apalagi sepak terjang Jusuf kalla dalam masa jabatannya sebagai wakil presiden. Menyelesaikan konflik SARA terkadang paling berat. Masalahnya SARA itu bersentuhan dengan emosi, bahkan orang siap mempertaruhkan nyawa karenanya. Tapi dengan kelihaian dan kecekatan dan pendekatan yang non militeristik, JK berhasil menyelesaikan perdamaian di Maluku, Poso, dan yang paling penting adalah konflik Aceh yang sudah menelan ribuan nyawa itu.

Semua ini membuktikan bahwa dalam dunia yang makin global ini, diperlukan pendekatan-pendekatan alternative dalam menyelesaikan permasalah Indonesia dan dunia. Amerika saja masih memakai “otot” (senjata) dalam menyelesiakan berbagai permasalahan. Semoga JKW-JK nanti bisa memberikan masukan kepada dunia bagaimana menyelesaikan permasalahn-permasalahan kekerasan dunia dengan cara-cara yang lebih manusiawi.

Keempat, poor oriented economics. Jokowi dan JK tidak menjadikannya sebagai slogan politik atau kampanye. Tapi keduanya sudah membuktikan bahwa program ekonomi yang diperlukan Indonesia ke depan adakah ekonomi yang berorientasi kerakyatan. Indonesia perlu kuat dan mampu bersaing dengan negara-negara dunia lainnya. Tapi keinginan untuk menjadi negara besar dalam perekonomian jangan sampai menjadikan rakyat terlupakan. Akhirnya kekayaan dinikmati oleh segelintir masyakarat atas nama semua masyarakat.

Saya sangat tertarik dengan konsep pemberdayaan ekonomi rakyat melalui pemberdayaan pasar-pasar tradisional. Karena melalui kegiatan tersebut rakyat akan memasarkan langsung produk-produk mereka tanpa melalui cukong yang terkadang menghisap darah orang-orang miskin. Dan dengan itu mereka akan termotivasi untuk melakukan aktifitas ekonomi yang berorientasi pembangunan atau permberdayaan perekonomian mereka.

Jusuf Kalla telah membuktikan dengan pembangunan airport terbesar dan terindah di Indonesia. Dimulai di Makassar dengan bandara hasanuddin, hingga ke banda Medan yang hampir menyamai bandara Singapura itu. Semua dibangun dengan memakai produksi dalam negeri, dan yang terpenting dengan tenaga dalam negeri atau anak-anak bangsa.

Kelima, membangun manusia dan bukan sekedar materinya. Dan dari semua itu, intinya adalah membangun mental positif manusia. Sebab berbagai permasalahan yang dihadapi oleh bangsa saat ini bermula dari kebobrokan mental manusia. Coba perhatikan pelayanan anak-anak bangsa kepada sesama bangsa di bandara saja. Saya memakai contoh ini karena sudah beberapa kali mengalami “treatment” yang menyakitkan. Ketika check in biasanya dicuekin. Tapi ketika mengatakan bahwa saya mau ke AS, dan bahkan sudah tinggal di AS hampir 20 tahun, berubah drastis. Seolah Amerikalah yang menjadikan saya mulia dan terhormat.

Apalagi kalau kita berbicara tentang korupsi yang merajalela itu. Korupsi terbesar justeru dilakukan oleh orang-orang yang sudah berharta dan bahkan bertahta. Tapi karena masalahnya adalah masalah mental maka berapapun tidak akan pernah mencukupi.

Saya senang melihat bahwa pendekatan JKW-JK sangat imbang. Selain penguatan ekonomi rakyat, pembagian kue negara secara rata, juga dibangun di atas mental yang “qana’ah” (meminjam bahasa agama). JKW dan JK membuktikan bahwa kekayaan bukan alat untuk membedakan diri dari orang lain. Kaya tidak perlu membangun istana besar dengan kuda-kuda piaraan dan koleksi mobil-mobil mewah. Tapi semua itu menjadi bagian dari amanah yang harus dipakai secara proporsional dan dalam batas-batas yang sesuai.

Keenam, tegas dalam sikap. Ada perbedaan antara keras dan tegas. Rasul itu adalah orang yang “halim” atau lembut dalam sikap (kata dan perbuatan). Tapi sudah pasti ketegasan beliau tidak lagi diragukan.

Saya menilai JKW – JK memiliki ketegasan yang sangat besar ketika sudah sampai kepada hal-hal yang krusial. Ketika sebuah sikap atau pilihan yang akan diambilnya itu menentukan kepentingan banyak maka JKW-JK tidak akan terdikte oleh siapapun. Walaupun mereka mendengar masukan, bahkan kritikan dari orang lain.

Saya termasuk pernah ragu dengan independensi Jokowi dalam memutuskan masalah. Mungkin karena belum kenal secara baik, apalagi dengan berbagai berita yang memang menggambarkan kalau Jokowi itu tidak tegas, dan hanya sebagai boneka. Saya menganalisa, mengamati, menunggu, hingga akhirnya harapan terakhir adalah bagaimana Jokowi akan memutuskan calon wapresnya?

Hal ini penting karena saya juga tahu ada kepentingan dahsyat yang tarik menarik ketika akan ditentukan cawapres Jokowi tersebut yang rasanya tidak perlu saya sebutkan di sini. Tapi akhirnya Jokowi memutuskan cawapresnya adalah JK meyakinkan saya bahwa sejatinya Jokowi ternyata tegas mengambil keputusan, walau itu tidak popular secara internal di partai pendukungnya.

Kalau JK tidak diragukan lagi. Saya masih teringat ketika presiden SBY tidak mau secara tegas meminta kembali pak JK untuk jadi cawapresnya walaupun ingin tetap didukung oleh partai Golkar. Maka permintaannya ketika itu adalah cawapres dari Golkar dan tidak menyebutkan nama pak JK secara tegas. Menurut orang dalam karena SBY sudah tidak senang dengan gaya tegas JK untuk mengambil keputusan walau itu secara birokrat kurang popular.

Ketujuh, solving oriented management. Saya adalah penceramah atau boleh dikatakan orator dan terbiasa berceramah atau berpidato. Maka ketika saya melihat Jokowi pidato atau bahkan biacara, saya agak pessimis apakah JKW ini akan mampu menyelesaikan permasalahn-permasalahan yang besar? Ternyata baru saya sadar bahwa menyelesaikan permasalahan itu tidak selalu mengandalkan kemampuan berbicara. Dan itulah Jokowi.

Jusuf Kalla juga demikian. Beliau adalah orang yang berbicara sedikit dan apa adanya. Jusuf Kalla tidak diplomatis dalam menyampaikan ide atau menyampaikan konsep yang muluk-muluk (sophisticated). Tapi biasanya dalam bahasa beliau “yang terpenting adalah delivery”. Yaitu bagaimana mengeksekusi program-program yang ada di atas kertas itu.

Nah itulah sebagian alasan kenapa saya lebih cenderung mendukung JKW-JK dalam pemilu kali ini. Tentu suara saya ini tidak ada apa-apanya karena memang hanya suara pribadi. Tapi sebagai salah seorang warga saya juga punya hak untuk menyampaikan pendapat.

Pendapat ini juga mungkin berseberangan dengan sebagian teman-teman dekat saya selama ini. Tapi itulah sesungguhnya saya. Saya dalam mengambil sikap dan keputusan tidak sekedar ikut-ikutan atau hanyut dalam buaian emosi dan retorika. Tapi mengamati, menghayati, dengan yang penting adalah melalui pertimbangan “akal sehat & hati nurani”.

Semoga pendapat saya ini tidak dilihat sebagai bukti kelemahan iman dan kurangnya komitmen kepada Islam. Karena sesungguhnya kalau perbedaan ijtihad politik itu dijadikan alasan menghakimi keimanan/keislaman seseorang, maka yang demikian adalah penilaian yang sangat tidak bijak, bahkan sempit.

New York, 2 Juni 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s