Fatwa haram memilih pasangan tertentu

oleh Imam Shamsi Ali

Tidak dipungkiri hiruk pikuk pemilu menjadikan sebagian seperti kalap dan kehilangan pertimbangan rasionalnya. Tidak tanggung-tanggung juga terjadi di kalangan pimpinan agama, yang justeru seringkali mengendepankan aspek sentimen di atas pertimbangan rasionalitas. Akibatnya dalam mengambil sikap seringkali mengesampingkan nilai-nilai logika dan rasionalitas.

Dalam beberapa minggu terakhir sudah ada beberapa orang, atau kelompok, yang mengeluarkan statamen atau tepatnya fatwa mengharamkan bagi umat Islam untuk memilih pasangan capres-cawapres tertentu. Dan kebetulan secara partai politik, satu dari dua calon itu dipersepsikan didukung oleh umat Islam, maka seolah-seolah memilih pasangan capres-cawapres yang lain melanggar hukum Islam alias haram.

Tapai benarkah demikian? Benarkah bahwa umat Islam sudah diplot untuk menentukan pilihannya kepada capres-cawares tertentu? Apakah fatwa itu memang dapat dijustifikasi secara agama? Atau fatwa itu sekali lagi adalah fatwa murahan yang tidak memiliki bobot hukum yang perlu ditaati? Bermanfaatkah fatwa tersebut atau justeru merupakan blunder terhadap ajaran Islam itu sendiri?

Dalam pandangan saya fatwa seperti ini sama sekali tidak mengikat dan bahkan justeru bisa berakibat fatal terhadap umat ini sendiri karena:

Satu, alasan yang disampaikan adalah jejak rekam pendukung Jokowi-JK yang dianggap anti Islam. PDIP dalam hal ini dianggap dalam jejak kebijakan politiknya selama ini dianggap selalu merugikan umat Islam, khususnya ketika mengambil keputusan RUU yang berkaitan dengan norma-norma agama.

Ulama yang mengeluarkan fatwa ini kurang jeli bahwa proses-proses politik adalah proses tarik ulur berdasarkan kepentingan masing-masing. Kalau pertimbangan ini murni, sudah pasti tidak akan pernah ada partai dengan basis Islam yang mau kerjasama/koalisi dengan PDIP. Kenyataannya di tahun 2004, PPP yang sebenarnya paling kental asas Islamnya (dan PBB) ternyata koalisi dengan PDIP (Megawati dan Hamzah Haz). Belum lagi koalisi partai-partai Islam dengan PDIP di beberapa pilkada, yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu.

Tapi yang paling menarik, ternyata jejak langkah partai pengusung Prabowo-Hatta (partainya Prabowo) juga banyak menolak RUU yang berbasis syariah. Mungkin yang palign nyata adalah RUU jaminan halal dan RUU pornographi ternyata juga ditolak oleh Partai Gerindra. Hal ini seharusnya membuka mata para ulama itu, tidak sekedar mengikuti arus gelombang sentiment yang dihembuskan oleh politisi tertentu sehingga terjatuh dalam penilian sepihak yang tidak imbang.

Dua, fatwa semacam ini tanpa disadari telah menjatuhkan wibawa fatwa Islam yang seharusnya memiliki karisma dan nilai di mata umat. Murahnya fatwa berhamburan demi dukungan kepada capres-cawapres tertentu menjadikan fatwa-fatwa Islam semakin tidak memiliki nilai di mata umat. Khawatirnya adalah ketika suatu saat nanti ada fatwa yang memang betul-betul menyentuh hukum Islam yang sesungguhnya akan dilihat sebelah mata oleh umat ini.

Oleh karenanya mengumbar fatwa seperti ini tanpa disadari menjatuhkan wibawa fatwa, bahkan hukum Islam itu sendiri. Sedikit-sedikit keluar fatwa haram tanpa mempertimbangkan secara jeli dan secara dalam konsekwensi dari fatwa tersebut.

Tiga, dalam sebuah tatanan masyarakat atau negara yang berdaulat diperlukan sebuah sistim yang jelas, termasuk dalam hal institusi keagamaan. Pertanyaan besar di sini adalah siapa sesungguhnya yang berhak mengeluarkan fatwa dan menjadi hukum yang mengikat bagi bangsa ini? Apakah semua orang, atau semua kelompok merasa memiliki hak untuk mengeluarkan fatwa lalu mengaku sebagai hukum yang mengikat umat?

Jika hal seperti ini terjadi, di mana semua orang atau kelompok berhak mengeluarkan fatwa dan merasa bahwa fatwa itu mengikat umat secara keseluruhan, maka sudah pasti akan terjadi perang fatwa di kalangan umat ini. Masalahnya ketika sampai kepada sebuah permasalahan sosial, termasuk capres-cawapre ini, akan terjadi perbedaan penglihatan dari sudut pandang yang berbeda di kalangan anak-anak umat, termasuk ulamanya.

Empat, murahnya mengeluarkan fatwa seperti ini rentang menjadikan agama sebagai komoditi kepentingan tertentu, termasuk komoditi politik. Dan kalau ini terjadi maka agama telah terjatuh ke lembah yang rendah, menjadi alat yang (mohon maaf) jangan-jangan diperjual belikan untuk kepentingan tertentu.

Sejarah perpolitikan Indonesia, bahkan dunia, memperlihatkan demikian. Tidak jarang para politisi melakukan pendekatan-pendekatan kepada ulama tertentu dengan janji-janji tertentu, bahkan dengan “hadiah” tertantu agar ulama tersebut memberikan dukungan dalam bentuk apapun, termasuk fatwa haram itu. Tentu saya tidak berburuk sangka dalam hal ini. Saya hanya mengingatkan apa yang terjadi di dunia lain.

Lima, dan yang paling berbahaya adalah ketika fatwa ini benar-benar dianggap mengikat bahwa ulama tersebut telah menggali lobang bagi jutaan saudaranya untuk dikubur dalam dosa-dosa yang tidak perlu. Apa maksudnya? Ada berjuta-juta umat ini yang memiliki penilian yang berbeda, termasuk dalam melihat fenomena penacpresan ini, sehingga sudah pasti akan memiliki pilihan yang berbeda. Dengan fatwa ini berarti jutaan umat ini sudah dipaksa untuk terjatuh ke dalam lembah dosa karena memilih pasangan haram.

Akibatnya apa? Mereka adalah pendosa, mereka adalah orang-orang kotor, mereka adalah ahli neraka. Sementara yang lain adalah orang-orang suci, orang-orang bertakwa, orang-orang taat, dan ahli Syurga. Dan kalau ini terjadi maka sungguh sebuah sikap arogansi yang menurut saya paling berbahaya. Karena tidak ada arogansi yang paling besar dan berbahaya dari arogansi keagamaan.

Semoga Allah melindungi!

https://www.facebook.com/ImamShamsiAliOfficial?fref=ts

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s