Bahagia Keluar Dari Zona Nyaman

 

 

13740927051500636460

Ilustrasi/Admin (Kompas.com)

 

“Buanglah sampah pada tempatnya”, seolah menjadi satu-satunya adagium yang saya ketahui semenjak kecil. Sampah sisa aktivitas sehari-hari dibuang pada tempat sampah, dikumpulkan dan diangkut oleh petugas yang menerima uang jasa, dan selesailah urusan. Rumah bersih dari sampah, kinclong, tanpa mengetahui dengan jelas kemana sampah tersebut dibawa dan dibuang.

 

Hingga terjadi peristiwa tragis, pada tanggal 21 Februari 2005 tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Leuwigajah longsor. Sekitar 137 rumah tertimbun sampah setinggi kurang lebih 3 meter dan 143 orang meninggal dunia. Ketika itulah timbul tanya dalam hati :”Mungkinkah sampah dari rumah tangga saya termasuk didalamnya?” Saya membayangkan berbagai sampah yang biasa saya buang, tidak hanya sampah dapur tetapi juga aneka kaleng, plastik dan ….. pembalut wanita, duhhh…

 

Setelah TPA Leuwigajah longsor, terjadi tragedy susulan : “Bandung berubah menjadi lautan sampah.” Bau busuk sampah tercium hingga berkilo-kilometer dan berlangsung berbulan-bulan lamanya. Saya sungguh bingung. Bagaimana mungkin manusia tidak bisa menyelesaikan masalah sampah? Bukankah sampah hanyalah barang sepele yang tak berguna? Bukankah seharusnya sampah mudah dilenyapkan? Bukankah Kota Bandung melahirkan banyak pakar, baik lulusan ITB, UNPAD dan perguruan tinggi lainnya? Kemana mereka? Apakah mereka enggan menyumbangkan ilmu ‘melenyapkan sampah’?

 

Karena ingin tahu, saya membaca berbagai referensi tentang sampah dan pengelolaannya. Sayapun bertemu dengan para pakar lingkungan hidup di Bandung untuk berdiskusi. Saya juga mengikuti berbagai pertemuan yang membahas tentang pengelolaan sampah.

 

Hasilnya tidak semua manis. Selain artikel tentang sampah ternyata minim, di suatu pertemuan seorang narasumber dengan entengnya berkata : “Membuang sampah adalah perbuatan zalim.” Alasan pernyataannya adalah karena perbuatan membuang sampah telah membuat orang lain menderita. Tentu saja saya merasa marah. Karena bukankah membuang sampah merupakan aktivitas yang tak terelakkan dari kegiatan manusia? Bukankah yang terpenting bagaimana mencari solusinya? Mengapa harus saling salah menyalahkan?

 

Untunglah tidak semua bersikap sama, misalnya Bapak Supardiyono Sobirin yang mengajak ke rumahnya untuk melihat eksperimen olah sampah. Serta David Sutasurya dan YPBB Bandung yang mengenalkan gerakan nol sampah (zero waste) sebagai gaya hidup.

 

Selain informasi dari mereka, saya merasa penasaran membaca berbagai artikel yang mengungkap kisah tentang menangguk rupiah dari sampah. Berbekal alamat yang saya peroleh dari redaksi surat kabar, saya mendatangi pabrik pengolahan sampah, baik organik maupun anorganik.

 

Hasilnya ternyata mengecewakan, pabrik komposter sampah organik menjanjikan sampah bisa berubah menjadi kompos hanya dalam waktu 2 minggu asalkan membeli aktivator buatan pabriknya. Waduh ini sih namanya bukan solusi tapi membuat masalah baru karena bukankah artinya pengelolaan sampah menjadi tidak berkelanjutan? Bagaimana jika pabrik mereka tutup, apa yang harus kita perbuat?

 

Kenyataan miris saya dapati ketika mengunjungi pabrik daur ulang sampah plastik. Banyak pekerja perempuan harus berimpitan dalam ruang yang sempit dan tertutup sampah ketika memilah sampah. Ruang yang minim cahaya dan tentunya minim perlindungan kecelakaan kerja. Padahal mesin pencacah plastik dan pembuat biji plastik berada tidak jauh dari lokasi mereka. Setiap percikan api berpotensi menyebabkan kebakaran. Mungkin pengusaha melakukan hal tersebut untuk menekan biaya. Tingginya biaya transportasi dan bahan bakar, nyaris tidak sebanding dengan harga biji plastik daur ulang yang teramat murah.

 

Mungkin ada yang bertanya, mengapa saya mau-maunya wara-wiri ingin tahu permasalahan sampah? Jujur sulit menjawabnya. Karena setiap saya mengupas lapisan permasalahan, semakin banyak yang saya ketahui tetapi juga semakin banyak pertanyaan yang muncul. Rasanya seperti menemukan dunia baru yang mengasyikkan, tidak hanya karena bertambah ilmu tetapi juga mulai memahami bahwa ada banyak hal yang bisa saya perbuat.

 

Walau pelan tapi pasti paradigma saya tentang pengelolaan sampah berubah. Saya meyakini bahwa masalah sampah bukan terletak pada teknik mengolah sampah tetapi pada gaya hidup. Mungkin ketika itulah titik balik saya berawal. Jika tidak mau mewariskan sampah pada anak cucu, gaya hidup saya harus berubah. Saya harus menerapkan 3 R yaitu meminimalisir sampah dulu (reduce) sebelum berpikir untuk menggunakan ulang (reuse) apalagi mendaur ulang (recycle) sampah.

 

Jika dulu saya selalu membawa kemasan kecil berisi tisu sekarang saya menggantinya dengan sapu tangan. Saya menolak air minum dalam kemasan (AMDK) dan saya tidak mau membeli produk dalam styrofoam.

 

Jika dulu mungkin saya akan mengatakan ‘aneh’ atau ‘katrok’ pada pembeli yang membawa tas belanja sendiri, sekarang saya termasuk kategori pembeli tersebut. Saya merasa ‘berdosa’ jika terpaksa menerima kantong plastik. Bukan sok suci tapi karena tahu betapa mahalnya hargayang harus dibayar untuk setiap kegiatan mendaur-ulangnya. Tidak hanya membahayakan pelaku daur ulang seperti yang telah saya saksikan tetapi juga memerlukan bahan bakar yangmeningkatkan suhu permukaan bumi dan menimbulkan perubahan iklim.

 

Tidak ingin sekedar berkegiatan sendiri, saya mendampingi komunitas pelestari lingkungan yaitu komunitas Engkang-engkang, warga masyarakat di bantaran sungai Cidurian dan komunitas @sukamulyaindah, warga masyarakat di pemukiman padat penduduk kecamatan Sukajadi, Bandung.

 

Bukan aktivitas heroik karena saya membutuhkan teman yang beraktivitas sama. Agar kami saling menyemangati, saling melengkapi. Bersama-sama kami mengolah sampah organik yang merupakan 70 % dari total sampah perkotaan. Juga mengolah sampah anorganik. Tanpa komunikasi dan berbagi ilmu maka kegiatan berubah menjemukan dan terhenti dengan sendirinya.

 

Hasil kegiatan saya pribadi maupun bersama komunitas, saya bagikan dengan menulis di Kompasiana. Agar tercatat, sehingga memudahkan saya dan yang lainnya ketika membutuhkan data/informasi. Karena yakin bahwa sejatinya kerusakan lingkungan disebabkan ketidaktahuan dan ketidak pedulian yang berlangsung sistemik.

 

Pemahaman melestarikan lingkungan hidup tidak kita peroleh sejak usia dini, baik di lingkungan keluarga maupun di sekolah. Oksigen dan karbondioksida hanya dimaknai sekedar kata yang tercantum dalam buku sekolah dan soal-soal ujian. Apalagi kata-kata membingungkan seperti global warming, gas rumah kaca dan kampanye menakutkan yang menyatakan bahwa plastik baru akan terdegradasi ribuan tahun kemudian.

 

Kini, sekian tahun berlalu. Masih hangat dalam ingatan, ketika saya sebagai layaknya ibu rumah tangga lainnya berbelanja bulanan sebanyak 2- 3 troli di supermarket. Belasan kantong plastik saya terima, umumnya hanya berumur sekian jam. Apalagi kantong plastik yang saya terima dari tukang sayur, dalam hitungan menit sudah berakhir di tong sampah. Apakah kala itu hidup saya lebih nyaman ? Karena sekarang saya harus melipat kembali reusable bag (tas pakai ulang) setiap selesai menggunakan dan menyimpannya baik-baik dalam tas bepergian.

 

Dengan tegas saya bisa menjawab: “Tidak.” Saya nyaman dengan perubahan gaya hidup saya. Saya merasakan kebahagiaan yang tentu saja tidak bisa dikalkulasi apalagi diukur secara kuantitatif.

 

Bahagia karena mampu mandiri sampah. Bahagia karena telah berbagi. Bahagia karena mendengar kicauan burung di pepohonan, Dan bahagia melihat secercah asa bahwa kerusakan lingkungan hidup tidak akan bertambah parah karena semakin banyak yang peduli. Semakin banyak agen perubahan yang menyumbangkan pikiran dalam bentuk tulisan atau turut serta sebagai partisipan kampanye lingkungan. Sekecil apapun peran perubahan yang dikerjakan pasti akan berdampak. Dan saya bahagia menjadi bagian perubahan tersebut.

 

**Maria Soemitro**

 

Catatan : Kini komunitas Engkang-engkang dan komunitas @sukamulyaindah merupakan 2 komunitas perkotaan yang termasuk dalam “Menuju Kampung Proklim”, salah satu program Kementerian Lingkungan Hidup yang mengapresiasi perubahan gaya hidup komunitas.

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/07/17/bahagia-keluar-dari-zona-nyaman-574269.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s