Bandung Heurin Ku Tangtung

SEKILAS KOTA BANDUNG YANG “HEURIN KU TANGTUNG”

 A. Profil Kota Bandung
1. Geografis Kota Bandung

Wilayah dataran tinggi Bandung, secara administrasi pemerintahan terdiri dari Kabupaten Bandung. Dimana pada bagian tengah wilayahnya terdapat wilayah Kota Bandung, terutama yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Subang, Sumedang, dan Kabupaten Garut yang terdiri dari gunung-gunung.

Karena daerahnya seperti itu, Dataran Tinggi Bandung sering disebut Cekungan Bandung. Bentang alamnya mirip dengan sebuah mangkok raksasa yang dikelilingi gunung-gunung berapi. Dibagian tengahnya, pada satu dataran yang paling rendah mengalir Sungai Citarum. Alirannya yang pernah terbendung secara alami, menjadi sumber inspirasi lahirnya cerita rakyat Sangkuriang.

Cekungan Bandung bisa dinikmati jika kita berada di suatu tempat yang agak tinggi seperti dari atap bangunan bertingkat yang terletak di pusat kota. Atau yang paling enak, pemandangan sekitar dataran Tinggi Bandung bisa dinikmati kesegala penjuru arah melalui menara kembar Mesjid Raya Bandung – Provinsi Jawa Barat setinggi 81 Meter. Cukup dengan merogoh kocek Rp. 2000, bisa memandang dataran tinggi Bandung sepuas-puasnya. Apabila pandangan diarahkan ke Utara, berjejer gunung api Burangrang (2.064 meter), Gunung Tangkuban Perahu (2.076 meter), Bukit Tunggul (2.209 meter), Gunung Cangak dan Gunung Manglayang.

Disebelah Timur, terdapat krucut-krucut gunung berapi kecil antara lain Mandalawangi (1.650 meter), Mandalagiri, Gandapura, Kamojang dan lain-lain. Disebelah selatan berjejer gunung api Malabar (2.343 meter), Patuha (2.434 meter), dan Gunung tilu. Sedangkan disebelah barat terdapat satuan pematang homoklin bukitan Rajamandala-Padalarang. Beberapa puncak pematangnya antara lain Pasir Pabeasan, Pasir Balukbuk, dan Pasir Kiara.

Gunung-gunung itu bisa dilihat jika berdiri di teras Taman Ganesa yang berbentuk setengah lingkaran. Salah satu sisi taman tersebut terletak di Jalan Ganesa, berseberangan dengan kampus ITB. Di atas teras itu terdapat petunjuk gunung-gunung di sekitar dataran tinggi Bandung berikut dengan ketinggiannya. Gunung Manglayang (1.811 meter) disebelah timur, Mandalawangi (1650 meter), Graha (1.159 meter), Jaya (2.416 meter), Papandayan (2.660 meter), Kendang (2.607 meter), Masigit ( 2.076 meter), Dayeuh luhur (1.010 meter), dan Gunung Lalakon (970 meter) disebelah barat.

Wilayah yang kini bernama Dataran Tinggi Bandung, sebelumnya merupakan perairan yang sangat luas. Dengan bentuk yang merupakan danau, perairan ini membentang sejauh 50 kilometer dari arah barat ke timur, sejak daerah yang kini dinamakan Padalarang sampai Cicalengka. Sisi utara-selatan membentang sejauh 30 Kilometer, daerah Dago Pakar sampai Soreang, kota kecamatan yang kini dijadikan Ibu Kota Kabupaten Bandung. Karena luasnya perairan itu, penduduk menamakannya Situ Hyang, artinya sama dengan “Danau tempat bersemayamnya para dewa”. Situ Hyang bentuknya menyerupai dua buah danau yang terbagi karena perbukitan Selacau dan Lagadar yang terletak di sebuah tempat yang lebih tinggi, Situ Hyang seperti dua buah danau yang letaknya berhadap-hadapan. Dalam Bahasa Sunda, dua buah danau yang letaknya saling berhadap-hadapan itu disebut “ngabandung”, Kata itu pula yang seringkali dihubungkan dengan asal nama “Bandung”.

B. Keunggulan Lokal Kota Bandung

1. Arus Kepadatan Kota Bandung

Dari jarak Jakarta – Bandung atau sebaliknya sekitar 150 – 180 Kilometer, terlihat jauh apalagi jika terjebak macet. Tetapi, jarak yang jauh tidak selamanya membutuhkan waktu perjalanan lebih lama. Buktinya, setelah Jakarta – Bandung dihubungkan jalan Tol, waktu tempuh bisa menjadi spearuhnya. Bahkan dengan kendaraan pribadi, waktu tempuh Jakarta – Bandung atau sebaliknya hanya dua jam.

Berfungsinya jalan bebas hambatan tersebut, pada kenyataanya telah mendorong kecenderungan sebagian masyarakat memilih roda transportasi. Yakni dari semula menggunakan transportasi jalan baja (kereta api) beralih menjadi transportasi jalan raya. Terjadi perubahan kecenderungan ini bukan hanya berperanguh terhadap jumlah penumpang kereta api.

Terutama bagi sebagian masyarakat Ibu Kota, berfungsinya jalan tol Jakarta – Bandung telah mengubah keputusan dalam melakukan perjalanan ke Bandung. Hal ini tercermin dengan meningkatnya kunjungan ke Bandung pada hari libur, apalagi pada hari libur panjang, dimana sebagian besar menggunakan kendaraan pribadi. Pada gilirannya, hal itu sangat besar pengaruhnya terhadap Kota Bandung. Baik terhadap aktivitas bisnis dan ekonomi penduduknya, maupun terhadap pengaruh lain yang mengikutinya.

Kota Bandung dijadikan pilihan karena dianggap masih memiliki beberapa kelebihan yang tidak dijumpai di tempat asalnya. Selain faktor lingkungan alam, kota ini masih menyimpan kekayaan lain yang bisa dijadikan pilihan dalam wisata belanja dan wisata kuliner yang bisa dipenuhi tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Disamping itu, banyak di antara mereka merasa sudah akrab dengan kota ini karena pernah tinggal, atau menuntut ilmu di Bandung.

Pada tahun 2005, jumlah kendaraan bermotor di Kota Bandung sekitar 600.000 buah dengan laju peningkatan sekitar 10-15 persen per tahun. Sebaliknya panjang jalan hanya mengalami pertambahan rata-rata sekitar dua persen per tahun.

Karena sebagian besar tempat yang menjadi tujuan wisata berada di pusat kota, pada hari libur ruas jalan di wilayah itu seperti Jalan Ir. H. Djuanda (Dago), Jalan R.E. Martadinata (Riau), Jalan Sukajadi, Jalan Merdeka, Jalan Setiabudi, dan jalan lain di sekitarnya merupakan arus jalan yang menjadi macet.

Untuk mengantisipasinya, selama tahun 2005 paling tidak dilakukan lima kali perubahan arus lalu – lintas. Jalan yang semula dua arah, diubah menjadi jalan satu arah, sehingga rute perjalanan yang dilalui berputar-putar sebelum sampai ke tujuan. Bagi para pemakai jalan yang berasal dari luar kota, kebijaksanaan itu membuat mereka tersesat dan membingungkan.

2. Ikon Kota Bandung Sebagai Daya Tarik

a. Factory Outlet

Dalam keadaan sulit, seseorang bisa salah langkah sehingga nasibnya terpuruk . Tetapi bisa juga sabaliknya. Kesulitan telah melahirkan ide baru sehingga aktivitas usaha yang sebelumnya tidak terpikirkan. Coba saja, siapa sangka pakaian jadi yang menumpuk di gudang karena tidak jadi diekspor, ternyata masih memiliki nilai eknomi dan menjadi lading baru. Bahkan berkat pakaian jadi yang dinamakan “sisa ekspor” itu, Bandung yang sejak zaman penjajahan Belanda dikenal “Kota Fesen”, kini menjadi kota “FO”.

FO merupakan akronim dari factory outlet. Ikon baru Kota Bandung itu berasal dari penjualan pakaian jadi sisa ekspor. Entah karena barang-barang itu ditolak, atau karena kelebihan produksi sehingga tidak jadi diekspor. Kuncinya sangat boleh jadi karena konsumen mencari barang-barang bermerk , namun harganya murah.

Selain sisa ekspor, penjualan barang bekas menjadi cirri kota ini, terutama sejak terjadinya krisis moneter tahun 1997. Karena tempat penjualannya merupakan bangunan gedung yang dikelola secara professional, para calon pembeli tidak perlu malu-malu seperi halnya kita berbelanja di tukang loak. Tempatnya nyaman, apalagi barang-barang yang ditawarkan tidak sedikit merupakan barang bermerek.

Keberadaan gerai FO lebih banyak berkonsentrasi didaerah-daerah bagian utara Kota Bandung, seperti Jalan RE. Martadinata (Riau), Jalan Ir. H. Djuanda (Dago), Jalan Dr. Setiabudi dan Jalan Sukajadi. Daerah itu merupakan tempat paling mudah dicapai oleh mereka yang masuk Kota Bandung melalui pintu tol Pasteur.

FO sebenarnya merupakan istilah baru dalam perdagangan pakaian jadi di Kota Bandung. Istilah itu baru lahir sekitar tahun 2000, ketika salah seorang pengusaha pakaian jadi didaerah ini mendirikan usahanya dengan nama Factory Outlet Store (FOS). Walaupun tempat usahanya tidak berumur lama, namun istilah itu berhasil memasyarakat. Orang-orang Indonesia rupanya senang dengan istilah-istilah asing. Barangkali karena merasa lebih keren. Sehingga sejak itu, setiap usaha yang menjual pakaian jadi selalu dinamakan factory outlet, padahal barang-barang yang dijualnya belum tentu berasal langsung dari pabrik.

Konsep awal penjualan pakaian jadi sisa ekspor tersebut, pada mulanya lahir sebagai jalan keluar industry pakaian jadi (garment) di Bandung dalam mengatasi kesulitan mengurangi timbunan produknya yang menumpuk di gudang. Bandung adalah produsen tekstil dan produk tekstil terbesar di Indonesia. Hampir 50 % produk tekstil nasional dihasilkan dari daerah ini. Selain berupa tekstil, tidak sedikit diantaranya yang berupa pakaian jadi (garmen) yang semula bertujuan memenuhi permintaan pasar luar negeri.

Namun, tidak semua produk tekstil dari daerah ini bisa lulus di kirim ke Negara tujuan, Sebagian dari barang-barang tersebut terdapat di antaranya yang tidak jadi dikirim ke pemasannya di luar negeri karena berbagai hal. Namun hal itu tidak berarti, produk tersebut tidak memenuhi persyaratan. Sebagian lainnya ada yang karena kelebihan produksi, sehingga pengrimannya ditunda atau dibatalkan. Barang-barang seperti inilah yang kemudian dipasok untuk memenuhi persediaan tempat penjualan yang dinamakan factory outlet.

Karena tidak dikhususkan dalam pemasaran di dalam negeri, gerai yang dijadikan tempat penjualan barang-barang tersebut bukan merupakan bangunan khusus. Pada mulanya, terdapat diantaranya yang menggunakan gudang penyimpanannya atau perumahan. Tempat-tempat penjualan semcam itu sebenarnya sudah ada sejak tahun 1990-an, tetapi lokasinya tidak mencolok karena berada di tengah daerah pemukiman.

b. Sentra Sepatu Cibaduyut Ada Sejak Tahun 1920-an

Cibaduyut terletak tidak jauh dari terminal Bus Antar Kota Leuwipanjang yang merupakan daerah pinggiran Kota Bandung, sehingga tidak sulit untuk mencapainya. Bagi mereka yang menggunakan kendaraan pribadi bisa melalui pintu tol Kopo atau pintu tol Muh. Toha.

Sebagai daerah pinggiran yang saat itu termasuk wilayah Kabupaten Bandung, Cibaduyut merupakan perkampungan padat yang tekesan kumuh. Rumah-rumah berhimpitan. Biasanya, salah satu tuang kosong atau ruang tamu dijadikan bengkel pembuatan sepatu dan sandal. Namun wajah daerah itu berubah setelah tahun 1987, pemerintah membangun TVRI Stasiun Bandung (kini : TVRI Jabar dan Banten).

Jalan mulus yang melintasi daerah itu dimanfaatkan penduduk dengan membangun kios-kios tempat penjualan sepatu dan alas kaki lainnya. Perkembangan yang sangat pesat, sebagai daerah yang ditetapkan menjadi salah satu kawasan unggulan Kota Bandung, Cibaduyut kini menjadi salah satu tujuan tempat berbelanja. Barang-barang yang dijajakan tidak lagi hanya sebatas alas kaki dan produk lainnya yang terbuta dari kulit atau sejenisnya. Berbagai jenus makanan khas dari Bandung seperti peyeum sampeu (tape singkong), kripik kentang, kripik tempe, dan panganan lainnya yang bisa dijadikan oleh-oleh Kota Bandung.

Industry kecil rumahan alas kaki didaerah ini sebenarnya sudah berumur tua, sejak tahun 1920-an. Mula-mula hanya dikerjakan oleh satu-dua orang penduduk yang bekerja di toko merangkap tempat pembuatan alas kaki milik orang-orang cina di Kota Bandung. Pada hari libur, mereka membawa pulang pekerjannya.

Seperti pada umumnya industry kecil, para perajin kemudian menularkan keterampilannya pada anggota keluarga lainnya. Begitu dan seterusnya sehingga jumlah pengrajin semakin banyak. Setiap penduduk berusaha membangun ekonomi keluarganya dengan memanfaatkan rumah mereka sebagai tempat pembuatan alas kaki.

Namun, karena kurang kesadaran pengarjinnya, sepatu Cibaduyut pernah turun pamor dan memperoleh julukan “Bomis”. Artinya dipakai hari rabu hari kamis sudah mengelupas haknya. “sekarang kami bisa mengadu kualitas dengan alas kaki produk daerah lain”. Bahkan dengan meningkatnya keterampilan, para perajin mampu membuat alas kaki model apapun. Termasuk alas kaki buatan luar negeri. “berikan saja gambar atau foto sebagai contohnya”.

Dewasa ini sudah tercatat kurang lebih 845 unti usaha yang bergerak dibidang pembuatan dan penjualan dengan menampung tidak kurang dari 3.556 pekerja. Unit-unit usaha tersebut tersebar di beberapa desa sekitarny. Namun nasib usaha itu tersebar di beberapa desa sekitarnya. Namun nasib usaha mereka tidak sebaik tahun 2001 dan 2002. Produksi sepatu Cibaduyut selama dua tahun itu mencapai 8,8 juta dan 8,5 juta pasang.

Pada tahun 2003 dan 2004, produksinya rata-rata 3 juta pasang dan tahun 2005 sebanyak 4 juta pasang. Gejala penurunan produksi tersebut selain karena makn meningkatnya harga bahan baku, juga akibat persaingan yang semakin tajam. Kios-kios di sentra usaha pembuatan sepatu Cibaduyut itu kini tidak lagi memasarkan alas kaki lokal, mauknya sepatu impor buata cina dengan harga yang lebih murah merupakan salah satu tantangan paling berat.

c. Tempat Makanan dan Jajan Kota Bandung

Kreativitas bisnis masyarakat Kota Bandung dalam bidang jasa kuliner sangat luar biasa. Kehebatannya bukan hanya menyangkut menu unggulannya, tetapi tempat-tempat makanannya juga dirancang sedemikian rupa agar menarik banyak pengunjung. Mau makan di awang-awang sambil berkeliling memandang Kota Bandung tanpa sedikit pun beranjak dari tempat duduk? Atau mau makan diatas bukit menikmati suasana malam yang romantis.

Apalagi setelah hubungan Jakarta-Bandung makin singkat dengan selesainya jalan tol Purbaleunyi (Purwakarta, Bandung, Cileunyi) jarak dan waktu tempuh bukan lagi masalah. Mereka bisa berangkat pagi. Setelah makan siang dan belanja sekadarnya lalu membeli oleh-oleh, hari itu juga sudah kembali lagi ke rumah masing-masing.

Bandung menjadi pilihan berbagai tempat wisata kuliner karena kota ini menjanjikan banyak pilihan. Selain karena faktor harga yang relative murah disbanding Jakarta, masyarakat Bandung memiliki totalitas semangat dalam membangun usahanya. Mereka berani menciptakan desain arsitektur yang bisa membuat pengunjung merasa lebih betah dan nyaman. Bahkan mungkin terkaget-kaget.

Sebuah kafe di Jalan H.O.S Tjokroaminoto (pasirkaiki) yang dibuka menjelang pertangan Februari 2007, sangat boleh jadi merupakan kafe pertama yang secara sengaja dibuat bergelap-gelap. Untuk memasuki kafe, pengunjung dibimbing oleh pramusaji berkacamatan infra merah. Bagaimana makan di tempat gelap, bisa-bisa salah comot miliki tetangga yang duduk disebelah. “Tapi asyik juga” komentar seorang pengunjung sambil terkekeh-kekeh.

Sejumlah kafe sengaja memilih tempat yang lokasinya berada di atas puncak bukit, atau daerah-daerah yang lebih tinggi yang terletak dikawasan Bandung utara. Walaupun untuk mencapainya membutuhkan waktu lebih lama. Lokasinya yang berada didaerah elite Dago Pakar sekaligus mencerminkan prestise pengunjungnya karena mereka merasa dimanjakan dengan pemandangan Kota Bandung dimalam hari.

Rumah makan/restoran internasional dan China pada umumnya lebih memilih tempat-tempat formal yang tersebar di pusat kota yang menjadi pusat pemukiman, pusat perbelanjaan, dan pusat kegiatan ekonomi dan bisnis lainnya sesuai dengan segmen yang dibidiknya. Kesan formal tersebut berbeda dengan rumah makan Sunda yang lebih mengedepankan suasana santai mengesankan tidak formal.

Kesan ini berusaha diperkuat dnegan desain arsitekturnya yang menyerupai bangunan tradisional Sunda. Bangunan gedung yang semula berbentuk bangunan modern kemudian didesain, baik interior maupun eksteriornya sehingga mengesankan bangunan tradisional Sunda. Gentungnya ditutupi ijuk atau alang-alang, dan dinding tembok dilapisi anyaman bambu. Agar lebih serasi, mebelernya terbuat dari Bambu. Rumah makan Sunda biasanya dilengkapi kolam ikan atau air terjun buata sehingga mampu menimbulkan kesan suasana pedesaan di daerah Priangan.

Membicarakan rumah makan Sunda, Kota Bandung sebenarnya pernah punya rumah makan Sunda paling kesohor, yakni Rumah Makan Babakan Siliwangi. Dinamakan demikian karena bangunan rumah makan tersebut terletak di lembah Babakan Siliwangi. Lokasinya yang strategis, berada di sisi selatan Jalan Siliwangi, menempati areal seluas 3,8 hektar.

Rumah makan ini didirikan tanggal 10 Oktober 1072 atas gagasan wali kota Otje Djundjunan. Untuk memberi kesan kuat tradisional Sunda, bangunan yang dijadikan tempat makan didirikan beberapa buah saung dalam berbagai ukuran. Dari tempat ini, pengunjung bisa meninjau lembah Babakan Siliwangi yang saat itu masih berupa beberapa petak sawah. Daerah sekitarnya masih hijau penuh pepohonan. Tapi hari Minggu terdapat adu ketangkasan domba. Namun rumah makan ini pada tahun 1996 mengalami kemunduran karena berganti-ganti pimpinan, setelah empat tahun tidak bisa diselamatkan lagi. Sebanyak 70 karyawannya terpaksa dirumahkan.

(daftar pustaka belum diposting)

Suparlan Parsudi, 1986,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s