Baju Kotak-kotak Jokowi-Ahok

Layakkah Jokowi-Ahok memimpin DKI Jakarta? Sulit menjawabnya, daripada memperdebatkan kelayakan mereka dibanding pesaing lainnya, bagaimana apabila mengobrol perihal yang lebih menarik, yaitu baju kotak-kotak mereka?

Ahok menggunakan baju kotak-kotak, okelah…..tapi Jokowi, badannya yang cungkring terlihat tambah cungkring. Harusnya memilih jaket yang casual mungkin ya, karena sebagai calon pemimpin mereka harus tampil berwibawa dan layak. Walau Jokowi mempunyai jawaban sendiri untuk baju kotak-kotaknya:

“Memakai baju kotak-kotak ini menjadi tanda saya siap mengemban tugas menjadi gubernur dan mengajak penduduk untuk bersatu membangun Jakarta,” sedangkan Ahok berpendapat:

“Ide baju kita menunjukkan pimpinan Jakarta bukan duduk di meja, tapi kerja keras. Kerjaan kami turun ke lapangan,” Jawaban Ahok tersebut mungkin tepat apabila ditujukan pada konstituen yang melek media.

Tapi berapa banyak jumlahnya? Bagaimana dengan pemilih yang tidak pernah mempedulikan berita walikota pendukung Esemka ini? Mereka adalah warga kota yang asyik dengan dunianya sendiri. Mencari sesuap nasi, mengurus rumahtangga dan bingung mengatur lembaran ribuan agar cukup hari demi hari?

Merekalah penghuni Jakarta sesungguhnya. Warga kota yang lebih suka menonton sinetron, infotainment dan OVJ untuk melupakan kepenatan daripada harus mendengarkan orang ribut mengupas berita di MetroTV dan TVOne. Apakah mereka mengenal Jokowi dan Ahok? Ataukah mereka justru lebih akrab pada Foke, incumbent yang bebas memasang gambarnya dimana saja dan kapan saja?

Jadi? Kemungkinannya 50 %, warga masih memilih penampilan daripada “isi”. Kemenangan SBY adalah buktinya, pemerintahan SBY pertama sudah menuai banyak kritik tapi kok tetap menang. Jumlahnya telak, sekitar 60 %. Demikian juga ketika Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf memenangi pilkada Jabar. Tidak hanya sekedar karena Dede Yusuf adalah mantan artis, tapi “polesan” iklannya meyakinkan. Berpasangan mengenakan jas. Wah bukan Sunda pisan. Padahal pesaing, incumbent Danny Setiawan dan Iwan Sulanjana (mantan pangdam Siliwangi) menggunakan baju tradisional Jabar. Sehingga dalam hal wajah dan sosok iklan mereka semua tampak menjanjikan. Adu program menjadi tidak ada artinya, toh semua program yang dijanjikan “mengambang”tidak ada program terukur dan terlalu umum.

Bagaimana geliat warga Jakarta menanggapi baju kotak-kotak Jokowi-Ahok? Masih terlalu dini untuk mengatakan sukses atau gagal. Yang jelas wong Solo mendukung penuh dengan memburu kemeja tersebut di pasar Klewer, Solo. Sayangnya Jokowi dan Ahok ternyata membeli di Pasar Tanah Abang. Dan disanapun habis hingga akhirnya tim sukses memutuskan untuk membuat 76.000 baju yang akan dibuat UMKM untuk memberi lapangan kerja mereka.

Baju kotak-kotak ini menjadi salah satu cara mengumpulkan donasi. Dijual via twitter@infokemejaJB atau mengirim pesan pendek di nomor 085780558593 dan 085313669655. Kemeja Jokowi-Ahok dilepas dengan harga Rp 100 ribu untuk ukuran S, M, dan L; Rp 110 ribu ukuran XL; sedangkan XXL dan XXXL dijual Rp 125 ribu.

Menurut Koordinator team relawan Jokowi-Ahok, baju tersebut laku 1.000 potong dalam sehari (31 Maret 2012) karena ada suatu perusahaan swasta yang akan menggunakan baju tersebut sebagai baju seragam Jum’at mereka.

Hmm…suatu cara yang cukup cerdas untuk menggalang rasa simpati massa. Lebih elegant dibanding ketika Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf mengatakan hanya mengandalkan sekian ratus juta rupiah hasil menggadaikan rumah sebagai dana kampanye.

Ada pernyataan Jokowi yang tidak boleh dilewatkan, yaitu bahwa baju kotak-kotak yang dimilikinya hanya dua buah:

”Ya kalau habis dipakai langsung dicuci, dikeringkan dan dipakai lagi. Istilahnya ‘mbahrenggo’  kumbah garing dinggo (dipakai, dicuci, dipakai lagi-red) sampai pemilihan nanti,” katanya berkelakar

Wow….wow …. jawaban yang amat sangat merakyat. Tapi apakah Jokowi-Ahok tetap akan menggunakan prinsip “mbahrenggo” ketika terpilih? Artinya hidup sederhana dan mengutamakan rakyat yang dipimpinnya?

Atau seperti Ahmad Heryawan-Dede Yusuf, bersikap merendah untuk kemudian mengabaikankan beberapa MOU yang ditandatangani bersama diantaranya untuk meningkatkan kesejahteraan petani?

Kita tunggu bersama. Solo jelas berbeda dengan DKI Jakarta. Tapi sebaiknya memang jangan meremehkan sebelum yang bersangkutan membuktikan. Karena terkadang persoalan harus dilihat dari kejauhan, jangan hanya digeluti hingga terbelit dalam gulungan persoalan hingga tak mampu keluar. Persis seperti yang dialami Foke.

**Maria Hardayanto**

sumber  data:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s