Yuk, Makan Bareng di Ruang Publik…………….

1330284932903101840

bersantai, makan dan mendengarkan musik di ruang publik (dok. Maria Hardayanto)

Urang Sunda mengenal kata “botram” yaitu makan bersama di ruang publik dengan membawa nasi dan laukpauknya dari rumah. Yang dimaksud ruang publik bisa berupa taman di Kebun Binatang, taman bunga Cibodas, taman-taman di tempat pemandian air panas hingga taman di halaman rumah sendiri. Ya, sangat mengasyikkan botram di halaman rumah sendiri bersama teman-teman terdekat walaupun lauknya hanya sambal dan ikan peda goreng ^_^

Nostalgia botram menyeruak manis ketika melihat gelaran acara yang diusung Keuken pada Minggu 26 Februari 2012. Di sepanjang jalan Saparua Bandung, di depan gelanggang olah raga (GOR) Saparua, puluhan  meja dan kursi berjajar berisi warga Bandung yang sedang makan dan minum. Bedanya warga tidak usah membawa makanan/minuman sendiri dari rumah karena berseberangan dengan meja kursi  mereka, berbagai makanan dan minuman dijajakan di stand-stand yang berjajar rapi mulai dari dari utara hingga selatan jalan Saparua.

Gelaran yang pernah berlangsung tanggal 24 Juli 2011 di jalan Cikapundung ini memang selalu menggunakan ruang publik. Ruang milik warga yang telah lama berubah menjadi area tak nyaman dan tak aman. Ruang milik warga yang berubah fungsi menjadi tempat parkir dengan menafikan perlunya ruang untuk pedestrian. Pedestrian harus selalu mengalah. Bersaing dengan pot-pot tanaman yang menyesaki trotoar atau beresiko terserempet kendaraan roda empat/ kendaraan roda dua ketika berjalan turun dari trotoar.

Bagaimana dengan anak kecil yang ingin berlarian atau penyandang difabel yang membutuhkan ruang untuk melintas? Nampaknya tak pernah terpikirkan pemerintah kota. Padahal  Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  pasal 25, 44 dan pasal 45 menyatakan  Pemerintah wajib menyediakan jalur pedestrian yang aman dan nyaman bagi pejalan kaki, penyandang difabel dan pengguna jalan usia lanjut.

Bahkan “Car Free Day” yang digagas dan dilaksanakan untuk mengurangi polusi serta memberi ruang bagi pedestrian berubah menjadi polusi suara. Karena setiap beberapa meter berbagai stasiun radio bersaing suara dengan promosi iklan, berbagai kampanye hingga band ABG yang memperkenalkan album barunya. Sungguh tak nyaman.

Keuken rupanya menangkap gejala tak sehat ini dengan menggunakan ruang publik secara terkoordinir. Ruang publik dimanusiawikan dengan mengoptimalkan penggunaannya. Mengkolaborasikan antara kebutuhan publik, makanan dan musik dengan tepat. Tidak jor-joran sehingga publik dapat menikmati makanan dengan nyaman. Mendengarkan musik dengan santai. Dihargai kebutuhannya akan kenyamanan dan keindahan.

Mungkin mirip Park(ing) Day setiap tanggal 16 September dimana publik menuntut ruangnya. Tetapi dengan suasana yang lebih spesifik. Khas Bandung. Pengisi stand umumnya anak muda yang berwirausaha kuliner. Karena itu standnyapun unik-unik mulai dari kribO (keripik bojes) yang menawarkan berbagai macam keripik (rasa pedasnya nendang ^_^) dan para penjualnya yang menggunakan wig kribo berwarna-warni. Kemudian Risoles Melepuh, Different Taste of Mother’s Recipe (macaroni shcotel, klappertart, mashed potato), es kering (garing di luar dingin di dalam) hingga Mas Solo yang berjualan mie bakso dan J&C yang mengusung kue kering jengkol andalannya dan memperkenalkan edisi terbaru: kue kering durian (mmmm……maknyus rasa duriannya).

Benar-benar lengkap, pengunjung dipersilakan mencicipi dan memilih bahan baku masakan sebelum menikmatinya dengan santai. Berbagai steak, berbagai makanan oriental seperti tom yum noodle, Korean Fried Chicken hingga beragam appetizersdan dessert, semua ada.

Acara  berlangsung dari pagi hingga malam hari. Tidak hanya mencicipi dan makan, pengunjung juga mendapat kesempatan melihat langsung pembuatan makanan tersebut dari para chefnya. Karena tenant yang bersangkutan umumnya menunjukkan kebolehannya dengan membawa lengkap peralatannya. Mulai dari pisau, talenan oven hingga tempat pembakaran dan arangnya.

13302881111527742140

demo masak

Keuken sendiri menyiapkan area khusus untuk “chef special”. Di gelaran 24 Juli 2011, wakil walikota Bandung, Ayi Vivananda menunjukkan kepiawaiannya memasak daging sapi lada hitam. Di gelaran 22 Februari 2012, Ridwan Kamil memasak sarapan pagi, disusul Tita Larasati yang memasak tortilla.

13302878291153120471

Chef dadakan beraksi (Tita Larasati dan Shinta ;atas), Ridwan Kamil (kiri bawah). Bahan makanan (kanan bawah)

Selain stand makanan, ada pagelaran musik dan stand komikara dimana pengunjung bisa melihat proses menggambar komik. Sekedar mewakili minat warga Bandung yang penuh minat dan kreasi  diantaranya berkesenian.

13302863681756156299

selain stand makanan ada pertunjukkan musik, penjualan souvenir (kanan atas) dan stand Komikara

Bergembira ria dengan makanan tetapi tetap harus menjaga lingkungan, mungkin demikian pesan Keuken. Para tenant dilarang “perang banner” . Untuk mempromosikan dagangannya dipersilakan  menggunakan papan tulis. Stand-standpun menggunakan kotak bekas buah-buahan sebagai rangka. Ada sih unsur plastik, tapi sudah diminimalisasi.  Bagaimanapun keberadaan plastik memang diperlukan, tergantung bijak atau tidak kita menggunakannya.

Keuken juga menyiapkan  banyak tempah sampah organik dan tempat sampah anorganik yang keren-keren. Sayangnya tidak saja pengunjung yang masih terbalik-balik ketika membuang sampah. Petugas kebersihannyapun rupanya agak bingung. Maklum sampah yang berhasil disapu terdiri dari 2 sampah tersebut sehingga ketika dimasukkan ke tempat sampahpun menjadi rancu.

1330286617804368287

tempat sampah yang keren, isi tempat sampah organik ,,,,,,ups plastik dan tetrapak (kanan)

Selain kepedulian dengan cara menyiapkan tempat sampah, Keuken juga  memberikan kesempatan kepada sukarelawan penyelenggara Earth Hour 2012 untuk mengkampanyekan hemat energy dengan cara mematikan lampu 31 Maret 2012 nanti.

Terimakasih ya, Keuken ^_^

**Maria Hardayanto**

13303076121646865491

pintu masuk lokasi dimana disediakan tempat parkir sepeda (dok. Maria Hardayanto)

13303091192111727785

jajan, makan dan bersantai di ruang publik (dok.Maria Hardayanto)

1330310702677555429

para chef beraksi (dok. Maria Hardayanto)

13303120381099912855

es kering dan beragam juice (dok. Maria Hardayanto)

1330312984165016577

beragam masakan dari beragam stand (dok. Maria Hardayanto)

13303131141158746438

kue-kuenya, enak banget…… (dok. Maria Hardayanto)

13303142091677650623

keripik bojes yang pedas dan funky (dok. Maria Hardayanto)

13303143581057205528

berbagai peralatan dibawa untuk unjuk kebolehan (dok. Maria Hardayanto)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s