Konferensi Tunza dan Perjuangan Hutan Kota (Baksil 1)


 

1316754043782667783Selamat Datang Peserta Konferensi Tunza 2011 di kota Bandung

 

Apabila tidak ada  aral melintang  pada tanggal 27 September hingga tanggal 1 Oktober 2011, kota  Bandung akan dibanjiri tamu dari mancanegara.  Tak kurang dari  pesepak bola asal Kamerun Samuel Eto’o , petenis Rusia Maria Sharapova dan aktor Jacky Chen akan menghadiri Tunza International Children & Youth Conference On the Environment 2011. Suatu konferensi internasional yang digagas  oleh United Nations Environmental Program (UNEP) , diikuti oleh sekitar 1.000  anak-anak (10-14 tahun) dan pemuda (15-25) tahun dari seluruh negara dan diselenggarakan setiap dua tahun sekali.

Konferensi Tunza  adalah konferensi untuk meningkatkan kepedulian dan kesadaran generasi muda dunia akan pentingnya green economy, green lifestyle, pelestarian  hutan, konsumsi berkelanjutan dan keadaan lingkungan global. Hal ini terutama karena para peserta adalah anak-anak yang diharapkan menjadi pemimpin masa depan.

Kata Tunza berasal dari bahasa Kiswahili yang berarti “memperlakukan dengan hati-hati dan kasih sayang”, sedangkan dalam pelaksanaanya Tunza merupakan  program penyedia informasi dan instrumen bagi generasi muda  tentang mengapa kita harus peduli pada bumi  dan bagaimana sebaiknya kita beraksi untuk merawatnya.

Hasil akhir konferensi Tunza tahun ini adalah Deklarasi Bandung yang diharapkan dapat menjadi masukan untuk  United Nations Conference on Sustainable Development “Rio+20″ di Brasil tahun mendatang.

13167045002070010613

Keterangan gambar : Toronto’s Best Winner, Honorable Mention by Jonathan Kwan of Markham Ontario

sumber gambar : disini dan disini

Mengapa memilih Bandung?  Karena Bandung mempunyai history sebagai pemberi inspirasi sama halnya dengan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika 1955.

Kali ini Bandung akan memperkenalkan Babakan Siliwangi  sebagai leading icon percontohan hutan kota bagi seluruh negara di dunia.

Babakan Siliwangi, suatu kawasan lindung  dengan luas 71.000 m2 (7,1 ha)  yang terletak  berbatasan dengan jalan Taman Sari dan jalan Siliwangi Bandung  atau terletak di tengah-tengah kota Bandung memang layak disebut hutan kota. Seperti oase yang menjadi “model the world city forest”.

Sebetulnya luas ruang terbuka hijau di Babakan Siliwangi  yang masih memiliki pohon tegakan hanya  tersisa sekitar 3,8 ha dan berbentuk tapal kuda karena di dalam kawasan tersebut sudah berdiri Sarana Olahraha (Sorga) dan  Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) ITB tempat diselenggarakannya konferensi.

Sisa ruang terbuka hijau seluas  3,8 hapun menimbulkan polemik karena pada tahun 2004, DPRD Bandung memberi persetujuan pada pemerintah kota Bandung untuk membangun rumah makan Babakan Siliwangi yang  sebelumnya terbakar.  Tetapi baru pada Desember tahun 2007 pemkot Bandung membuat perjanjian kerjasama dengan PT Esa Gemilang Indah. (PT EGI) untuk membangun rumah makan seluas 2.100 m2 dan gedung seni kebudayaan seluas 5.000 m2.

Gerak  pemerintah kota yang lambat dan  AMDAL yang tak kunjung rampung membuat warga gemas melihat Babakan Siliwangi tak terurus. Penuh brangkal sisa kebakaran. Selain itu  warga kota Bandung juga mulai tersadarkan akan kebutuhan hutan kota menyebabkan aksi tak sehat antara  penebangan pohon oleh sekompok oknum tak dikenal dan penanaman kembali pohon secara  sembunyi-sembunyi. Hingga akhirnya pada awal Juni 2011, perwakilan komunitas  yang tergabung dalam Bandung Inisiatipmembuat serangkaian lomba bertajuk : Sayembara Desain Babakan Siliwangi.

Juara 2 Sayembara Desain Babakan SiliwangiJuara 2 Sayembara Desain Babakan Siliwangi

 

Sayembara  di ikuti oleh kelompok peserta anak (SD) , remaja (SMP-SMA) dan umum bertujuan agar setiap warga memiliki kesadaran dan turut berpartisipasi menata ruang publik di kota Bandung. Hasil adikarya para pemenang inilah yang ingin diadopsi pada penataan kembali Babakan Siliwangi sebagai hutan kota. Karena sesuai Peraturan Daerah Tentang  Tata Ruang dan Tata Wilayah, kota Bandung belum mampu memenuhi ruang terbuka hijau  sebanyak 20 %  dari luas 16.729 ha. Jumlah penduduk Bandung yang berkisar  2,6 juta jiwa, belum termasuk commuter menjadikan Bandung sebagai kota ke3terpadat di Indonesia.

Tetapi masalahnya pemerintah kota Bandung sudah terlanjur mengikat kerjasama dengan PT  EGI termasuk penyetujuan penataan ulang kawasan Babakan Siliwangi  sesuai profit  oriented mereka. Hal yang bertolak belakang pastinya karena pembangunan seperti itu pasti merusak ekosistem yang dipersyaratkan hutan kota. Bagaimana mungkin kita mengharapkan ada sekawanan kera bercengkrama di atas mobil yang sedang diparkir karena pengemudinya sedang makan di rumah makan yang dibangun PT EGI. Di pihak lain, maukah  konsumen mengendarai mobilnya ke kawasan yang sudah dikelupas aspalnya hanya untuk makan siang?

Satu-satunya alternatif  adalah pembayaran kompensasi karena MOU  pemerintah kota Bandung dengan PT EGI  yang dimulai tahun 2007  baru  berakhir tahun 2027.  PT EGI pasti juga sudah menggelontorkan  dana cukup banyak sebelum tercapai kontrak. Sehingga dia bisa menuntut pihak pemerintah kota Bandung ke pengadilan.

Masalah cukup rumit yang  tidak bisa  dipandang enteng  Walikota Bandung, Dada Rosada dengan mengatakan :  ” Ini kegiatan sementara, jadi tidak mengganggu MOU dengan PT EGI”  Karena warga kota Bandung sudah bergerak untuk menuntut udara bersih dengan membangun sendiri hutan kota dan dilegitimasi tak kurang oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Wakil Presiden Budiono dan  1.000 anak serta pemuda dari seluruh penjuru dunia peserta Tunza International Children and Youth Conference on The Environment 2011 yang mendeklarasikan “Deklarasi Bandung”.

Perhelatan Tunza mungkin hanya sekedar seremonial. Seremonial yang dipandang tinggi hingga pesepak bola asal Kamerun Samuel Eto’o , petenis Rusia Maria Sharapova , bintang film Jacky Chen dan fotografer Yan Arthur Bertrand berkenan hadir. Karena seperti Konferensi Asia Afrika yang dikenang hingga kini maka sebaiknya pemerintah kota Bandung bertindak lebih arif. Jangan memposisikan diri sebagai penentang, atau akan ditulis sejarah dengan tinta merah. Dan jangan menganggap kecil kekuatan rakyat yang menuntut haknya. Hak untuk mendapatkan udara bersih. Karena seperti yang dikemukakan pakar DPKLTS, Mubyar Purwasasmita , bentuk pemukiman kota Bandung yang berbentuk cekungan mengakibatkan penduduk Bandung hanya mendapat supplyudara bersih selama 32 hari pada tahun 2011 berkurang 13 hari dari tahun 2010 sebesar 55 hari.

Jadi wahai penguasa kota Bandung, kepada siapakah kau berpihak?

**Maria Hardayanto**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s