Pak SBY, Mengapa Menteri Anda Gemar Mengimpor?

singkong gatotkaca

sumber foto : disini 

Karena pembantu pak SBY urusan perdagangan ini mempunyai kegemaran mengimpor barang. Tak peduli harus berseberangan dengan menteri lain seperti Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhamad serta Menteri Perindustrian, MS Hidayat. Tak peduli barang yang diimpornya menyangkut hajat hidup masyarakat banyak atau tidak. Bahkan dia tak peduli dampak keputusannya mengakibatkan petani bangkrut, terlilit hutang pupuk dan benih tanaman serta hidup dibawah kategori sejahtera.

Bukankah seyogyanya impor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang sangat mendesak di dalam negeri? Tetapi mengapa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia mengimpor singkong 4,73 juta ton senilai US$ 21.009 pada periode Januari-Juni 2011. Jumlah itu terdiri atas impor dari Itali senilai US $20.064 dan dari Cina US$ 1.273.  Padahal Negara Indonesia mempunyai banyak potensi berupa lahan subur yang belum terkelola, sumber daya manusia yang siap diarahkan dan hasil budidaya singkong yang menghasilkan singkong raksasa, hasil persilangan antara singkong Gatotkaca dan singkong karet.

Pemerintah juga memaksa petani  kentang di Bandung Selatan, Jawa Barat gigit jari karena mengimpor kentang dari Negara Cina dan Bangladesh dengan harga murah. Padahal gara-gara hujan turun sepanjang tahun 2010, para petani gagal panen. Kalaupun panen, 1 hektar tanaman holtikura tersebut hanya menghasilkan 10 ton dari seharusnya 20 ton.

Wajar ketika dua bulan yang lalu harga kentang super mencapai harga Rp 7.000/kg di tingkat petani, petani merasa lega karena membayangkan dapat membayar hutang gagal panen tahun sebelumnya. Tapi sayang, ternyata pemerintah tidak sependapat terbukti dengan impor besar-besaran dengan harga Rp 3.000-Rp 4.000/kg yang entah mengapa dilakukan ketika hasil panen sedang bagus.

kentang super

Selain kentang dan singkong, kegemaran menteri perdagangan mengimpor barang memang luar biasa. Mulai beras, gula, bawang merah, cabai merah hingga baju bekas. Tapi yang paling fenomenal memang “prestasi” beliau mengimpor ikan lele dari Malaysia. Tindakan ini berhasil memukul pembudidaya lele lokal yang menjual seharga Rp 10.000/kg sedangkan harga lele impor hanya Rp 8.000 ditingkat penjual. Sebetulnya harga Rp 10.000/kgpun petani sudah megap-megap karena harga pakan yang mahal mengakibatkan petani hanya memperoleh selisih tipis pada kalkulasi break event point (BEP) bahkan sering merugi. Penyebabnya? Pakan yang mahal! Gara-gara bahan baku berupa tepung ikan impor yang mahal harganya yang terdapat pada komposisi pakan/pelet ikan mengakibatkan harga pelet dikisaran Rp 8.000/kg. Seharga dengan harga beras kualitas sedang/konsumsi masyarakat banyak.

Padahal tak kurang pakar ITB sudah berulangkali bereksperimen menggunakan sampah organik pasar Caringin untuk membuat pelet ikan. Hasilnya? Seperti biasa hanya menjadi berkas laporan dosen terkait atau hasil skripsi yang tersimpan apik di lemari buku sang sarjana baru. Salah siapa? Salahnya“jembatan”!! Ya, karena selama ini tidak ada yang menjembatani hasil penelitian dengan masyarakat yang membutuhkan. Harusnya pemerintahlah yang menjadi jembatan. Sehingga dalam kasus ini, petani lele bisa menekan biaya produksi dengan membuat pakan/pelet sendiri.

Perseteruan paling gres tentunya antara Menteri Perdagangan dengan Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad yang mengharamkan impor dan bertekad swasembada garam. Untuk mencapai swasembada garam, Fadel Muhammad mengajukan Rp 150 milyar diluar Kredit Usaha Rakyat (KUR) petani pada tahun 2012 dan menyiapkan 24.800 hektar tersebar di 9 lokasi utama produksi garam diantaranya Madura, Cirebon, Indramayu serta di seluruh NTT dan NTB.

Walaupun ada sindiran miring pada Fadel Muhammad terkait kebijakkannya, pastilah akan lebih banyak yang mendukung. Bahkan kalaupun kelak harga garam menjadi sedikit lebih mahal , dukungan pada Fadel Muhammad tetap tinggi karena sebagai bangsa yang tinggal di wilayah kelautan sudah seharusnya kita malu mengimpor garam dari Australia dan Pakistan. Please deh…….mereka kan bukan Negara maritim!

Sedangkan untuk impor gula, rupanya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa telah sigap dengan mencanangkan revitalisasi industri gula sepanjang tahun 2010-2014 yang akan membangun 10-25 unit pabrik gula demi tercapainya swasembada gula sebanyak 5,7 juta ton pada tahun 2014.

Sudah waktunya pemerintah berfikir jernih, jangan hanya terpaku pada ketersediaan barang untuk menjaga kestabilan. Tanpa mempedulikan kemampuan rakyat membeli sembilan bahan pokok (sembako). Dan bagaimana mungkin rakyat membeli sembako ketika hasil pertanian seperti kentang, singkong dan garam diimpor pada saat panen raya? Apakah  dengan dalih demi kestabilan harga dan ketersediaan barang harus  mengorbankan kesejahteraan rakyat miskin?

Mungkin hanya Menteri Perdagangan yang dapat menjawab.

**Maria Hardayanto**

sumber gambar : disini dan disini

sumber data : Pikiran rakyat 13, 20 September 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s