Merah Putih, I Love You


Sang Saka di Karst Citatah 17 Agustus 2011Sang Saka di Karst Citatah 17 Agustus 2011

sumber foto : galeri. tribunjabar.co.id

Pernah melihat bendera Indonesia, bendera merah putih dipasang terbalik? Apa reaksimu? Penulis  mengenal seseorang yang segera mencari kantor polisi terdekat untuk menegur penghuni rumah tempat bendera tersebut dipasang terbalik. Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk apabila pemilik rumah marah alih-alih berterimakasih sudah diberitahu.

Suatu ironi, karena kejadian tersebut mencerminkan dua sisi : Orang yang peduli dan tidak terima atas pelecehan symbol negara. Sekaligus mafhum bahwa begitulah kondisi masyarakat, mengibarkan bendera hanya karena dihimbau pak RT atau hanya karena kebiasaan.

Kebiasaan tidak menghargai symbol negara dan merasa terpaksa mengikuti upacara bendera sudah menjadi penyakit yang harus disembuhkan. Pada peringatan HUT Kemerdekaan RI kemarin misalnya beberapa PNS malah duduk-duduk dan ngobrol yang diikuti sekelompok guru dan muridnya. Tak mempedulikan bendera Merah Putih sedang dikibarkan dan lagu Indonesia Raya sedang dinyanyikan.

Hal tersebut menjelaskan mengapa banyak murid bolos mengikuti upacara bendera dengan berbagai alasan sekaligus menjelaskan tragedy pemukulan anak saya, Bimo oleh seorang anggota TNI karena tidak menghentikan laju sepeda motor ketika melihat bendera Merah Putih sedang dikibarkan. Tindakannya memang responsive tetapi pemahamannya benar. Artinya dia tidak mengerti mengapa warganegara Indonesia tidak menghargai upacara pengibaran bendera Merah Putih?

Pemahaman tersebut baru saya peroleh sebulan setelah kejadian pemukulan dari bapak Iwan Sulanjana, mantan Pangdam III Siliwangi yang menjelaskan tentang penghargaan tanpa syarat untuk semua symbol Negara. Korps anggota TNI tidak bisa memahami mengapa penghargaan masyarakat terhadap upacara bendera dan symbol-simbol Negara begitu rendahnya.

“Apa arti seorang manusia tanpa kewarganegaraan. Tanpa negara yang melindunginya? Bukankah sama artinya dengan tak mempunyai rumah? Menggelandang seperti gelandangan di jalan dan taman-taman kota. Dia takkan dihargai. Dihina. Dipandang sebelah mata. Dengan pemahaman seperti itu bukankah seharusnya seorang warganegara menghargai negara bak seseorang menghargai rumahnya. Direncanakan arsitektur bangunannya, diperbaiki ketika rusak, dipelihara kebersihannya dan merasa tersinggung apabila ada orang asing yang slonong boy masuk ke rumahnya. Apalagi berani-berani merampas sebagian kepemilikan rumahnya. Walaupun hanya seluas 1 sentimeter persegi.

Bagaimana apabila ada saudara kandung main jual hak milik rumah bersama tersebut?  Ya, marah jugalah! Jangankan sebagian bangunan rumah, amarah pasti timbul apabila ada saudara kandung berani menjual hasil panen rambutan di pekarangan tanpa bilang dan mengantongi uangnya sendiri. Ibarat merampok harta kekayaan keluarga dengan mengabaikan nasib saudara kandungnya.

Karena itu jangan heran apabila warga Papua marah dan  protes eksploitasi emas dan tembaga di wilayahnya.  Warga Lumajang dan Jabar Selatan menolak eksploitasi pasir besi yang merusak lingkungan dan tidak ada manfaat langsung untuk warga. Juga eksploitasi karst Citatah, Padalarang Bandung yang mengakibatkan hilangnya 3 sumber mata air, longsor dan terancamnya tempat pendakian tertua di Indonesia.

Warga setempat hanya diam tak berdaya, untung ada komunitas Forum Pemuda Peduli Karst Citatah(FP2KC) yang terus menerus berjuang agar moratorium karst Citatah dihargai dan dilaksanakan karena seperti dituturkan T. Bahtiar dari sekitar 20.000 km2 karst Citatah hanya tersisa 30 % yang dikategorikan baik.

Untuk sekian kalinya pemerintah daerah lebih memihak  kepentingan pengusaha daripada masyarakat dan bencana lingkungan yang pasti timbul akibat eksploitasi besar-besaran tersebut. Dan untuk kesekian kalinya pemerintah mandul tanpa adanya LSM dan komunitas yang senantiasa mengawasi dan berjuang agar pemerintah daerah kembali ke jalan yang benar!

Merah putih sebagai symbol Negara pada tanggal 17 Agustus 2011 kemarin dikibarkan di kawasan karst Citatah, untuk mengingatkan bahwa ada kebijaksanaan yang keliru. Ada porsi yang lebih menuntut perhatian pemerintah. Jangan hanya meributkan kasus Nazarudin yang timbul di hilir, karena pokok permasalahan ada di hulu. Sudah waktunya rakyat sebagai pemilik sah negeri kembali ke posisinya danmenjewer abdi Negara yaitu pemerintah pusat hingga pemerintah daerah karena tidak becus mengemban amanah.

Rakyatlah pemilik sah rumah ini, pemilik negara bernama Indonesia. Karenanya rakyat harus menghargai panji Merah Putih, mengerti peraturan pemasangan dan jangan membiarkan sang Saka menginap berhari-hari diatas tiang bendera. Hargailah upacara pengibaran bendera, toh tidak diadakan setiap hari.  Merah putih memang hanya symbol tapi symbol pemersatu. Pemersatu negara Indonesia Raya. Seperti syair yang diuntai penuh makna oleh WR Supratman sebagai berikut :

Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,

Bangsa dan tanah airku,

Marilah kita berseru,

Indonesia bersatu.


Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg’riku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.

(Catatan tertinggal dari pemasangan bendera di Karst Citatah, Bandung 17 Agustus 2011) **Maria Hardayanto**

Dibawah Sang Saka : Eksploitasi Besar-besaranDibawah Sang Saka : Eksploitasi Besar-besaran Karst Citatah

sumber foto :  tempointeraktif

Batupun dijarah dan diangkut ke Korsel (foto : Budi Brahmantyo)Batupun dijarah dan diangkut ke Korsel (foto Batu Kuya : Budi Brahmantyo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s