Ahmad Bakrie Award, Topeng Aburizal Bakrie?

Ahmad Bakrie Award

Sulit menolak kenyataan penghargaan Achmad Bakrie Award  yang diumumkan Minggu malam tanggal 14 Agustus 2011 adalah sesuatu yang brillian. Karena keluarga Bakrie melalui Freedom Institute berhasil mencuri simpati dengan memberi penghargaan pada anak bangsa Indonesia berdedikasi tinggi yang sebelumnya terlupakan atau malahan tidak dikenal publik.

Bandingkan dengan penghargaan untuk insan di jagad hiburan. Banyak sekali ragamnya, bahkan mereka yang baru muncul dua atau tiga tahun bisa mendapat award. Atau bandingkan dengan kekonyolan tragedy pemberian Bintang Republik Adipradana oleh pak SBY untuk istrinya sendiri.

Komparasi yang jomplang. Tanpa bermaksud memuji berlebihan, kita harus adil mengatakan bahwa kali ini mereka benar. Mereka memilih orang-orang tepat yang dengan santun menyampaikan tanda terimakasih atas penghargaan tersebut. Orang-orang yang bekerja tanpa pamrih dan diganjar Achmad Bakrie Award 2011 adalah :

  • NH Dini, penerima penghargaan bidang Kesusastraan yang terkenal dengan bukunya “Pada Sebuah Kapal” dan menulis berpuluh buku ini menyesalkan ketidak pedulian pemerintah RI terhadap dunia sastra dan membandingkan dengan Negara Malaysia yang menghargai sastrawannya dengan menggelari Sastrawan Negara dan memberi santunan.
  • Satyanegara, penerima penghargaan bidang Kedokteran. Tokoh yang menjadi dokter karena ibunya. Penemu protein dan antibody yang dapat menghambat pertumbuhan dan memusnahkan sel-sel tumor. Dia juga penulis satu-satunya buku teks ilmu bedah saraf dalam bahasa Indonesia. Pelopor yang menentukan standard rumah sakit di Indonesia berdasarkan riset-riset terbaru dunia ini menutup kata sambutannya dengan menyatakan bahwa penghargaan Bakrie Awards sangat berarti baginya.
  • Jatna Supriatna, penerima penghargaan untuk bidang sains yang merupakan pakar keanekaragaman hayati dan lingkungan ini pernah digigit primata yang telah terkena virus HIV/AIDS. Dalam kata sambutannya dia mengaku senang karena ada bentuk kepedulian terhadap konservasi di Indonesia.
  • FG Winarno, penerima penghargaan untuk bidang teknologi ini merupakan pimpinan Pusat Pengembangan Teknologi Pangan (Pusbangtepa) yaitu suatu lembaga di IPB yang mengembangkan berbagai jenis teknologi yang langsung dibutuhkan masyarakat sehingga masyarakat mampu memilih dan mengolah sumber pangan yang ada disekitarnya menjadi menu pangan bergizi.
  • Adrian B. Lapian penerima penghargaan bidang sosial. Sejarawan Maritim yang tak henti mengingatkan bahwa Indonesia adalah Negara kelautan yang ditaburi pulau-pulau bukan Negara kepulauan yang dikelilingi laut. Sayang penulis buku Sejarah Kelautan ini wafat tanggal 19 Juli 2011 sebelum sempat menerima penghargaannya.
  • Hokky Situngkir, penerima hadiah khusus untuk Ilmuwan Muda Berprestasi. Hokky (33 tahun) sarjana (S1) yang mendapat gelar kehormatan profesor setiap menjadi narasumber di luarnegeri ini menggunakan teori fisikanya untuk mendesain ulang batik. Ambisi lainnya adalah memproyeksikan semua hasil budaya Indonesia seperti songket dan ulos.

Aburizal Bakrie  memang bersalah dalam kasus Lapindo yang belum tuntas hingga kini. Menyisakan begitu banyak keluarga yang kehilangan rumah, pekerjaan hingga masa depan anak-anak merekapun bak kabut gelap.

Karenanya penolakan penghargaan Achmad Bakrie Award ditahun-tahun sebelumnya oleh FranzMagnis Suseno, Goenawan Mohamad dan Daoed Joesoef  bisa kita pahami.

Tapi penghargaan atas dedikasi tanpa pamrih yang dilakukan tokoh-tokoh tersebut adalah satu soal, sedangkan dosa-dosa Aburizal Bakrie dan keluarganya adalah soal lain lagi. Khususnya karena pemerintah sudah lalai mengapresiasi warganya yang berjasa.

Jadi ketika Aburizal Bakrie berdiri di dua perahu dan mengambil celah yang menguntungkan. Kita tidak bisa menyalahkan sekaligus tidak bisa mengucapkan syukur : untung ada Aburizal Bakrie !

Suatu dilemma yang tidak perlu terjadi apabila pemerintah RI peduli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s