Kami Potensi, Bukan Benalu !

Kemeriahan 17 Agustus usai. Ritual tahunan seperti upacara bendera, lomba makan kerupuk, lomba balap karung, lomba panjat pinang, lomba lari dengan menggigit sendok berisi kelereng selesai digelar tanpa makna. Rutinitas kembali bergulir.

Rutinitas yang seolah bertolak belakang dengan gema pidato kenegaraan presiden SBY menjelang hari Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus. Pidato yang menyatakan Indonesia telah bangkit sebagai kekuatan baru yang keluar dari predikat Negara ketiga dan segera memasuki bagian dari sepuluh Negara dengan skala ekonomi terbesar di dunia. Apakah isi pidato hanya cerita dongeng menjelang tidur? Karena :

    • Indonesia masih mengimpor beras, garam, gula, cabai, buah-buahan seolah abai akan potensisumber daya alam.
    • Korban lumpur Lapindo tak kunjung dikembalikan haknya atas rumah, penghasilan apalagikesejahteraan hidup.
    • Korupsi milyaran hingga trilyunan rupiah yang ditayangkan hampir tiap saat tatkala lebih dari 30 persen rakyat Indonesia nyaris belum pernah melihat seikat uang sebanyak Rp 1.000.000 (satu juta rupiah).
    • Tenaga Kerja Wanita yang terpaksa meninggalkan anak dan suami karena belitan kemiskinan. TKI yang terancam hukuman mati tanpa perlindungan hukum yang cukup dan TKI yang dipalak tanpa daya oleh oknum yang dilegalkan ketika pulang mudik ke Indonesia.
    • Kemiskinan yang memaksa warga berdesakan hingga pingsan hanya untuk mendapat sedekah dan zakat berkisar Rp 25.000- Rp 50.000/orang.
  • Arogansi FPI yang merazia rumah makan di Makasar , Cianjur dan memeriksa KTP laki-laki yang kebetulan sedang makan siang di rumah makan di Ciamis menunjukkan inkonsistensi pemerintahdalam menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan.

Padahal ketika kemerdekaan RI diproklamasikan 17 Agustus 1945, para founding father menyatakan kemerdekaan atas penjajahan bangsa asing. Tapi mengapa antar anak bangsa saling menjajah? Mengapa hak asasi tak diakui? Mengapa sulit sekali mencari nafkah di negeri sendiri? Mengapa kesejahteraan hanya dinikmati segelintir warganegara? Mengapa hukum tidak melindungi wong cilik? Jadi apa fungsinya pemerintah yang ditunjuk mengatur negara? Untuk apa rakyat membayar pajak apabila uangnya dihambur-hamburkan pejabat negara tanpa mau tahu betapa sulitnya rakyat mengumpulkan dan membayar pajak? Apa gunanya Indonesia mempunyai 33 orang menteri apabila mereka hanya gontok-gontokan tanpa mempedulikan rakyat terinjak-injak?

Jadi betulkah Indonesia belum gagal kelola, atau hanya sekedar lambat  seperti dikatakan JK?

Tidak mudah menerima pernyataan tersebut mengingat  belanja Negara yang dipertaruhkan sebesar Rp 1.418,5 trilyun hanya untuk alasan lambat apalagi gagal. Sesuai pepatah lama, waktu adalah uang. Maka ada banyak biaya sosial yang dipertaruhkan untuk kata lambat : anak-anak kurang gizi, anak-anak yang dipaksa keadaan untuk tumbuh dijalanan dengan segala resikonya, kegiatan kontraproduktif seperti jalanan macet, birokrasi berbelit dan regulasi tanpa implementasi.

Sedangkan gagal? Beuh! Ibarat iburumah tangga berumur 66 tahun yang kaya raya masih juga gagal mengurus dapur. Ya, urusan dapur. Mengapa si ibu harus membeli 9 kebutuhan bahan pokok dari luar negeri (impor) padahal sawah ladangnya mencukupi. Gula impor, tepung impor, beras impor, bawang impor, bahkan garampun impor. Dasar ibu shopacholic! Pantesan tekor (defisit) melulu!

Jadi? Mau tidak mau anak-anak (rakyat) harus membiarkan sang ibu (pemerintah) jumpalitan sendiri menambal sulam kebutuhan dapur (belanja Negara) yang sebetulnya ditopang pendapatan lebih dari cukup. Anak-anak cukup minta makan saja, kalau tidak diberi ya protes . Caranya bikin tulisan atau demo! Tidak didengar? Ya harus terima konsekuensilah punya ibu yang nggak sayang anak.

Selebihnya rakyat harus hidup dalam semangat solidaritas sosial. Ada koin Prita, ada koin Darsem (perihal koin kita harus sepakat bahwa memberi sedekah harus ikhlas, tidak usah tanya lagi uangnya dibelikan apa), ada yayasan nirlaba dan komunitas-komunitas yang bekerja tanpa pamrih. Mereka memberikan bantuan advokasi, edukasi, pendampingan  penyandang cacat, pengguna napza (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, Dan Zat Adiktif lainnya), HIV/AIDS hingga korban KDRT (kekerasan dalam rumah tangga).

Dengan bekal solidaritas sosial,  rakyat mempunyai harapan. Harapan masa depan yang lebih baik. Sebagai contoh adalah apa yang telah dikerjakan yayasan DPKLTS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda) yang aktif mengedukasi petani untuk bertanam organik dengan metode SRI (System of Rice Intensification). Hemat benih, hemat air, pupuk buatan sendiri dan non pestisida buatan pabrik. Hasilnya di ekspor Emily Sutanto rekanan Solihin GP (mantan gubernur Jabar, Pakar DPKLTS) atau dijual di koperasi DPKLTS Bandung.

1313875987179439098

Dan yang terbaru adalah jejak perjuangan pengguna napza dan terjangkit HIV/AIDS  yang  bergabung dalam tim sepak bola Rumah Cemara Bandung dan mendapat undangan bertanding  di  Homeless World Cup 2011  Paris, Perancis. Semula mereka terkendala dana Rp 100 juta rupiah. Bandingkan dengan 1 x biaya tandang Persib ke Persipura, Jayapura sebesar 900 juta yang dulu  digelontorkan dari dana  APBD. Untung sekarang Persib sudah mandiri, kalo tidak betapa timpangnya. Dan untung berkatKick Andy – Hope mereka mendapat dana sebesar Rp 150 juta sumbangan Irwan Hidayat, Sidomuncul. Maka berangkatlah mereka pada tanggal 18 Agustus 2011.

Harapan. Ternyata masih ada di bumi Indonesia. Karena tatkala pemerintah kewalahan mengurus rakyatnya yang berjumlah 230 juta jiwa, si rakyat bersatu padu dan berkata: Yes, we can! Karena kami bukan benalu, kami adalah potensi. (Maria Hardayanto)

tim Indonesia (Rumah Cemara) dan tim Afrika Selatan di Abu Dhaby Airport (foto : Leo Adym) tim Indonesia (Rumah Cemara) dan tim Afrika Selatan di Abu Dhaby Airport (foto : Leo Adym)

One thought on “Kami Potensi, Bukan Benalu !

  1. ya..!!
    kami bukan benalu, pemuda juga sebenarnya mampu…
    seharusnya, si “ibu” malu, tak bisa beri contoh yang baik untuk anak anaknya.

    tulisan yang bagus teman,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s