Makna Air Mata T. Bachtiar

 

kawasan karst Citatah (dok. T. Bachtiar)

 

T. Bahtiar, pengamat dan pencinta lingkkungan dari Kelompok Riset Cekungan Bandung tercekat, menelan airmata dan terdiam ketika sedang membahas kerusakan karst Citatah, Kabupaten Bandung Barat. Peristiwa ini terjadi dalam  seminar “Pelestarian Kawasan Karst Citatah”  di ruang Redaksi Pikiran Rakyat, 10 Juni 2010.

Tidak semua peserta yang hadir mengerti apa yang dirasakan dan dipikirkan T. Bachtiar. Seperti halnya tidak semua orang mengerti mengapa pemakaian kantong plastik harus dihentikan. Juga tidak mengerti  mengapa ada orang yang merasa bersalah apabila harus menggunakan styrofoam dan membuangnya. Dan tidak mengerti  mengapa banyak orang yang cerewet melihat air bersih dibuang percuma. Serta tidak mengerti mengapa aliran listrik yang tidak perlu harus dimatikan, toh dia sanggup membayar tagihan listrik ?

Karena semua berkaitan dengan keserakahan manusia yang tidak peduli keberlangsungan hidup generasi penerusnya.

Penambangan secara brutal di kawasan karst Citatah  tidak saja mengakibatkan perbukitan kapur yang terbentuk sekitar 30 juta tahun itu akan punah tetapi juga keberadaan mata air disana. Mata air yang hilang itu dulu ada  beberapa buah tetapi kini tinggal satu , letaknya di sisi utara Pasir Pawon, debitnyapun mengecil (catatan T. Bachtiar).

Pertanyaannya : “Seberapa besar kepedulian kita akan penghancuran kekayaan alam yang terjadi di depan mata kita ?”

“Seberapa besar kepedulian kita akan keserakahan pemakaian kantung plastik berbahan baku minyak bumi sedangkan cadangan minyak bumi kita hanya cukup untuk 40 tahun lagi  ? (dengan catatan, hitungan pemborosan sama seperti sekarang).

“Seberapa besar kepedulian kita akan krisis air yang pasti akan menimpa generasi penerus, selama kita masih beranggapan bahwa air hujan dengan sendirinya akan menjadi air tanah, tanpa usaha penyimpanan air ?”

“Seberapa besar kepedulian kita akan kualitas hidup generasi penerus ?

Krisis air , krisis minyak bumi, miskin kekayaan alam !! ………………itulah potret buram generasi penerus yang membuat T. Bachtiar  menangis, para pegiat lingkungan aktif berjalan kaki, bersepeda, sibuk menabung air dan emoh menggunakan kantung plastik.

Berlebihankah ?

Jawabannya ada pada hati sanubari kita yang terdalam.

 

selamatkan kawasan karst Citatah (dok. T. Bachtiar)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s