Adu Citra : Presiden Lee Myung Bak Dan Presiden SBY !


13122171571997229553Pilih mana?

Pilih mana ?  Pak Sby atau pak Lee Myung Bak?  Soal  gagah dan cakep (mungkin) sih menang pak   SBY……………….   Presiden yang menang mutlak dan mengusung iklan berkalimat : “Kapan lagi punya presiden gagah seperti SBY” ini jelas bukan tandingan presiden Lee Myung-bak. Presiden Korea Selatan yang kurus dan nggak setampan  anggota Boys Before Flower seperti  Kim Hyun Joong dan Lee Min Hoo  ^_^

Presiden Korea selatan, Lee Myung BakPresiden Korea selatan, Lee Myung Bak

Tapi ini bukan sekedar pemilihan fisik,  karena kita  bukan  sedang memilih selebriti tertampan tetapi masalah adu citra yang menggambarkan cara berpikir dan hasil kerja mereka. Toh pak SBY pun tak dapat kita pilih di pemilihan capres mendatang. Jadi ada baiknya kita simak dan pilih  politik pencitraan keduanya.

Bertolak belakang dengan pak SBY,  pak Lee Myung-Bak menjaga citranya dengan ikut membersihkan lumpur dari lorong  sebuah pusat rehabilitasi yang rusak akibat banjir dan tanah longsor di Gwangju, 40km sebelah timur Seoul, Korea Selatan , Jumat, 29 Juli 2011. Sehingga seperti tampak dalam gambar, pak Lee Myung Bak bersimbah air lumpur yang mengotori sepatu boot dan jacketnya.

Presiden Korea Selatan, Lee Myung BakPresiden Korea Selatan, Lee Myung Bak

Sedangkan pencitraan pak SBY benar-benar sempurna. Seorang jurnalis menulis perjalanan pak SBY mengunjungi pengungsi korban bencana di Manokwari dan Wasior dalam blog nya. Isinya tentang kesempurnaan bencana  dan kesempurnaan penampilan di depan kamera.

Sebelum kedatangan pak SBY di Manokwari, para sukarelawan dan pengungsi menyiapkan lokasi pertemuan dengan membersihkan sampah sisa bencana . Menyiapkan jalan baru untuk pak SBY dan  tenda khusus pejabat. Bukan untuk tidur tentunya,tetapi sekedar melindungi pak SBY dari sengatan mentari ketika berdialog (atau monolog?) dengan para pengungsi. Isi pidatonya standar, janji membangun hunian yang memenuhi standar  minimal, janji tanggap darurat dan janji air bersih.

Cerita lain terjadi di Wasior walau tetap tentang penampilan yang mendukung citra sempurna pak SBY. Karena di lokasi sudah tidak ada pengungsi, maka didatangkanlah penduduk disekitar Wasior yang tidak terkena bencana (banjir bandang terjadi 4 Otober 2010 sedangkan pak SBY baru datang tanggal 15 Oktober 2010). Puluhan orang dimampatkan di atas bak truk. Ketika turun diperiksa satu persatu oleh sejumlah tentara kemudian diarahkan untuk duduk dalam formasi tertentu.

diperiksa satu persatu sebelum masuk formaturdiperiksa satu persatu sebelum masuk formatur

Bak pertunjukkan  sempurna, pak SBYpun berdialog (atau bermonolog?) dengan penduduk yang diatur seolah-olah  pengungsi/korban bencana tersebut.

Selesai? Belum! Ada sesi konferensi pers yang membutuhkan lokasi yang tepat. Lokasi dengan tumpukan pohon, bongkahan batu dan hutan Wasior dibelakangnya agar sempurna di depan kamera televisi. Sebagai tempat sandaran mikrofon para wartawan pak SBY   meminta tumpukan kayu ditinggikan. “Biar suara saya lebih bagus,” katanya. Tentu saja para staf dan polisi lapangan bersegera  bahu membahu melaksanakan instruksi tersebut.

Pak SBY menunjuk tempat konferensi pers yang diinginkanPak SBY menunjuk tempat konferensi pers yang diinginkan

Di setiap kegiatannya, pak SBY  selalu didampingi petugas yang membawa alat pengeras suara nirkabel yang menjamin suaranya bisa terdengar jernih dan bagus. Tak terkecuali di lokasi bencana, petugas tersebut selalu membawa alat yang cukup besar itu kemanapun pak SBY melangkah. Siap sedia apabila pak SBY tiba-tiba ingin menyatakan sesuatu, sehingga suaranya bisa terdengar jernih dalam sekejap. Setelah selesai alat dibungkus rapi, diletakkan dengan alat penyangga khusus dan dibawa kembali ke Jakarta.

Semua sigap meletakkan perekam suara pak SBYSemua sigap meletakkan alat pengeras suara pak SBY

Ya ini memang sekedar cerita tentang hasrat tampil sempurna. Cerita yang tidak berarti ketika rakyat yang dipimpinnya hidup sejahtera dalam negara yang subur makmur gemah ripah loh jinawi. Tapi ketika kata sejahtera masih sekedar kata, belum menjadi nyata. Mungkin rakyat lebih menyukai presiden yang mau berbecek ria membersihkan lumpur, memulung sampah dan merangkul anak jalanan.

Presiden Lee Myung Bak (lagi)Presiden Lee Myung Bak (lagi)

Ah, rumput tetangga memang tampak lebih hijau. Entahlah aslinya.

sumber gambar : disinidisini dan disini

sumber data :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s