Para Pengamen di Jalanan Itu Ternyata Mahasiswa

satu mobil dikerubuti 10 pengamen dadakan (dok Maria Hardayanto)

 

 

 

“Naik naik ke puncak gunung….tinggi tinggi sekali …. bla….bla…”

Terdengar suara riuh rendah segerombolan anak muda berpakaian bagus menyanyikan lagu anak-anak tersebut. Mereka bergerombol mengerumuni mobil yang berhenti karena lampu merah, menadahkan tangan, berpindah dari satu mobil ke mobil lainnya. Apabila Anda penumpang mobil yang enggan memberi uang maka berhati-hatilah, karena lagunya akan berbeda :

“Janganlah pelit….. janganlah pelit …………bla bla…..”

 

 

 

 

sigap begitu lampu merah menyala

 

Siapa mereka?

Mereka adalah anak-anak muda dari golongan menengah keatas dengan berbagai latar belakang pendidikan. Ada kelompok siswa sekolah menengah atas (SMA), adapula mahasiswa. Umumnya satu kelompok tidak saling mengenal dengan kelompok lainnya. Tapi mereka seolah seia sekata untuk mengamen di sekitar jalan Dago, Bandung, khususnya di malam-malam hari libur seperti Sabtu malam dan Minggu malam. Karena semua orang mafhum bahwa pada malam-malam tersebut orang-orang tajirhilirmudik di seputar jalan Dago, baik penduduk Bandung maupun dari luar kota. Sehingga yang disasar adalah kendaraan pribadi, bukan kendaraan umum (angkot).

menunggu lampu merah menyala kembali

 

Bagaimana awalnya?

Setahu penulis, kejadiannya berawal ketika bencana tsunami menerjang Aceh dan setiap komunitas/instansi berlomba-lomba menghimpun bantuan. Tak terkecuali mahasiswa. Beberapa kelompok mahasiswa dari universitas terkenal di Bandung mengumpulkan uang di pinggir jalan Dago sambil membawa kotak amal bertuliskan Dana Amal Korban Tsunami Aceh. Berapa jumlahnya dan bagaimana penyalurannya? Entahlah. Karena penulis kehilangan kontak dengan salah satu partisipan yang dulu rajin menggalang dana seperti itu.

Tetapi ada kemungkinan dana yang terkumpul cukup besar. Terbukti langkah tersebut ditiru kelompok-kelompok liar yang meneruskan dengan jalan mengamen secara agresif. Penulis hitung ada sekitar 7 kelompok yang beroperasi di perempatan jalan Cikapayang saja. Belum termasuk pengamen diperempatan simpang Dago-Dipati Ukur dan perempatan jalan Dago- jalan Riau. Ada yang membawa kotak kardus amal dan mengatakan mereka mengumpulkan dana untuk panti asuhan. Ada yang sekedar menadahkan tangan dan mengatakan mereka mengumpulkan uang untuk berlibur ke Pangandaran karena tidak ingin menyusahkan orang tua.

Apa salahnya mengamen?

Apabila kita buka Kamus Bahasa Indonesia-Inggris, akan diketemukan kata Pengemis = beggar, sedangkan kata pengamen = singing beggar. Sama saja bukan? Pembedanya hanyalah pengamen = Mengemis dengan nyanyian. Masih mending kualitas nyanyiannya setaraf Klantink, pemenang Indonesia Mencari Bakat (IMB) atau Iwan Fals yang konon sering mengamen. Ini sih ……… ya ampun cemprengdan ngasal !. Tanpa modal alat musik tertentu selain bertepuk-tepuk tangan.

Mengamen di jalan sebenarnya juga menyalahi peraturan daerah (perda) Kota Bandung tahun 2005 mengenai Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan (K3) pasal 39 ayat C mengenai larangan mengamen di simpang jalan, lampu merah. Setiap pelanggaran akan dikenai sanksi sesuai pasal 51 yaitu hukuman denda sebesar Rp 250.000 (Dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Apa yang mereka cari?

Sekelompok pengamen elite tersebut menjawab bahwa mereka melakukannya untuk kebersamaan.Mengapa harus dengan jalan mengamen? Kebersamaan bisa mereka dapatkan dengan melakukan aktivitas positif bersama. Misalnya berkebun, lari pagi, bermusik hingga kegiatan ekstrim seperti membacakan buku dipanti tuna netra yang hingga kini kekurangan sukarelawan atau bergabung dengan kegiatan pecinta lingkungan yang kini aktif membersihkan sungai-sungai di Bandung. Hasilnya pasti positif, ketertiban lalu lintaspun tidak terganggu.

Jawaban yang terbanyak adalah untuk mengumpulkan uang. Jawaban yang naïf. Bahkan penyandang cacat (difabel) banyak yang enggan mengemis. Padahal dengan mengemis seorang penyandang difabel mampu meraup Rp75.000/setengah hari. Tetapi banyak diantara mereka yang memilih mencari nafkah dengan cara layak walau hasilnya tidak seberapa.

Sebagai contoh bidang jasa perbaikan alat elektronik. Sekelompok mahasiswa yang berjuang di bidang tersebut pasti akan mendapat lebih banyak uang daripada seorang penyandang difabel. Karena selain mobilitas mereka lancar, mereka bisa menguasai banyak cara pemasaran efektif, diantaranya secara online.

Begitu banyak bidang yang membutuhkan sentuhan kreatif anak-anak muda ini. Apakah tak terpikirkan oleh mereka? Apakah system pendidikan di Indonesia telah salah membentuk mereka sehingga mereka berpikir cara menghasilkan uang adalah dengan menadahkan tangan?

Atau pola pikir hedonis telah membentuk kepribadian mereka sehingga enggan bercape-ria. Memilih mengemis karena menghasilkan uang banyak dalam waktu singkat sekedar untuk bersenang-senang. Walau harus mengorbankan harga diri.

Ironisnya ketika pemuda/i berintelektual tinggi ini sedang mengemis , ratusan ribu anak muda lainnya yang kebetulan tidak beruntung mengecap perguruan tinggi sedang bekerja keras sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) dengan resiko disiksa dan dibunuh. Ditindas di dalam maupun di luar negeri, tetapi mereka tetap melakoni kerja dengan tawakal.

Sebersit asa tetap ada di hati penulis. Karena tidak semua pengamen intelek rela difoto, beberapa diantara mereka memalingkan wajah.

Walau sebagai ibu, hati ini tetap terasa miris …….. duh anak-anak perempuan berkeliaran di lampu merah ketika waktu menunjukkan pukul 21.00 malam. Masa depan macam apa yang hendak kau raih , Nak?

 

betul-betul gesit......

 

cantik dan modis

 

kelompok lainnya lagi

 

menunggu sasaran

 

lampu merah menyala : serbuuuu.....

 

One thought on “Para Pengamen di Jalanan Itu Ternyata Mahasiswa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s