Haruskah Indonesia Mengimpor Lele Dari Malaysia?


http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2011/04/17/terlalu-ikan-lelepun-indonesia-impor-dari-malaysia/

lele Sangkuriang, hasil budidaya BPAT Sukabumi

Masih layakkah Indonesia menyandang predikat Negara Agraris ? Masih layakkah Indonesia digadang-gadang sebagai Negara Bahari? Negara Maritim? Bahkan julukan zamrud di Khatulistiwapun kini sudah kehilangan esensinya!

Mengapa? Karena Pemerintah Indonesia tidak hanya mengimpor garam , bawang merah tetapi sekarang juga  mengimpor Ikan Lele dan Ikan Nila dari Malaysia.

Impor ikan tawar ini jelas memukul usaha kecil menengah karena harga produk Malaysia lebih murah yaitu ikan lele @ Rp 8.000/kg di tingkat pembeli. Sedangkan ikan lele lokal @ Rp 10.000/kg di tingkat Bandar. Untuk kemalangan yang menimpa para pembudi daya ikan air tawar di Jabar, mereka hanya disarankan untuk menerapkan praktek Cara Berbudi daya Ikan yang Baik (CBIB) tanpa dibantu proteksi yang seharusnya sebelum adopsi CBIB berhasil.

Padahal sebelum kedatangan lele impor ini, banyak anggota masyarakat seperti mantan pegawai yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), anak muda yang memulai wirausaha dan mantan supir angkutan umum yang berhenti karena makin sepi penumpang,  menggantungkan asa pada agrobisnis yang “mudah, modalnya kecil tapi hasilnya lumayan”

budi daya lelebudi daya lele

Mereka  berburu hingga  ke Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar ( BPAT) Sukabumi, untuk membeli benih unggul yaitu benih lele Sangkuriang dan benih Nila Gesit mengikutipelatihannya dan mencoba membudidayakan dengan serius serta berharap dalam 3 bulan sudah bisa memanen lele atau 6 bulan memanen ikan nila ukuran konsumsi.

Langsung sukseskah mereka? Sayangnya tidak! Contohnya hanya 30 % lele berumur 3 bulan yang bisa dipanen karena sudah mencapai ukuran konsumsi. Selebihnya  30 %nya dalam waktu 6 bulan dan sisanya  dalam jangka waktu satu tahun baru mencapai berat konsumsi.

Selain itu ada masalah berbagai macam penyakit yang menyebabkan sejumlah ikan mati. Demikian berulang kali, hampir tak pernah ada pembudi daya yang langsung meraup untung. Sekedar mencapai titik break event point atau kembali modal, mereka sudah bersyukur. Ketika akhirnya mendapatkan keuntungan yang layak, mereka harus menerima dampak kebijaksanaan pemerintah yang tidak berpihak. Kebijaksanaan yang membuat setiapentrepreneur pemula patah semangat. Sungguh  disayangkan,  lowongan kerja susah didapat eh mau menjadi entrepreneur malah bangkrut !

Bagaimana dengan para pembudidaya ikan air tawar di Waduk Cirata, Waduk Saguling dan Waduk Jatiluhur ? Ternyata nasib mereka lebih apes karena pencemaran air dan serangan masal penyakit mengakibatkan  jumlah kerugian mereka lebih besar khususnya  pada panen menjelang lebaran tahun 2010.

Kebijaksanaan pemerintah Indonesia yang lebih membingungkan adalah dengan mengimpor garam dari Pakistan, Australia dan India dengan alasan curah hujan tinggi menyebabkan berhektar-hektar sentra tambak di Jabar tidak lagi berproduksi. Padahal  Indonesia adalah negeri bahari, negeri maritim, negeri kelautan bukan sekedar negeri kepulauan. Jadi bagaimana mungkin Indonesia mengimpor garam sebanyak 1,6 juta ton garam dari total 2,6 juta ton kebutuhan garam nasional.

Bayu Khrisnamurti, Wakil Menteri Pertanian menyatakan bahwa Australia menjadi produsen garam terbesar di dunia karena menggunakan pipa kelaut hingga kedalaman 5 km yang dipompa dan diolah di pabriknya yang berteknologi tinggi.

Pertanyaannya : “Mengapa Indonesia menjadi salah satu “Negara Tertinggal” di Asia Tenggara?”  Padahal Indonesia mempunyai banyak sumber daya manusia yang professional dan kekayaan alam yang mendukung pembiayaan.

Kisah miris lainnya adalah kisah bawang merah yang harganya dikisaran  Rp 25.000/kg pada tingkat eceran, ternyata hasil impor juga. Pada awal tahun 2011, Indonesia mengimpor 17,25 juta kilogram senilai  US$5,9 juta berasal dari negara  Thailand , Filipina , Malaysia, Vietnam , Taiwán  serta dari negara lain termasuk China. Impor bawang merah dibulan Januari 2011 tersebut melonjak  264% bila dibandingkan dengan realisasi impor Desember 2010 di kisaran 4,88 juta kg senilai US$2,7 juta dan melonjak 528 % dibanding Januari 2010
(year on year) sebesar 2,747 juta kg. Sedangkan realisasi impor bawang merah sepanjang 2010 mencapai 73,27 juta kg. Wow !

Jelaslah Indonesia tak bisa lagi menyebut negaranya Negara Agraris. Walaupun Indonesia mempunyai armada  petani bawang merah di Brebes, kebijaksanaan yang tidak memihak menyebabkan harga bawang merah anjlok dikala panen sehingga petani yang sakit hati “rela” membuang hasil panen bawang merahnya di sepanjang jalan pantura.

Nasib petani gulapun tak kalah miris, banjir gula rafinasi yang bebas bea impor mengancam gula lokal walaupun tanaman tebu relatif lebih toleran terhadap perubahan iklim. Selain itu impor gula rafinasi seharusnya diperuntukkan bagi industri skala besar, industri kecil, dan industri rumah tangga yang betul-betul membutuhkan gula tersebut seperti industri makanan dan minuman. Di luar itu, peredaran gula rafinasi dilarang karena tidak sesuai dengan peruntukkannya.

Tetapi pada kenyataannya 80 % dari total gula konsumsi adalah gula rafinasi. Padahal seperti yang dikatakan Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sari stok gula di dalam negeri ini sebenarnya cukup walau tanpa mengimpor gula. Produksi nasional sekitar 2,3-2,4 juta ton. Sementara itu kebutuhan konsumsi rumah tangga hanya  sebesar 2 juta ton.

Yang paling membuat gonjang-ganjing adalah harga cabai merah yang berada dikisaran Rp 25.000-Rp 40.000 sedangkan cabai rawit pernah mencapai harga Rp 120.000/kg. Tetapi nyatanya petani tidak menikmati harga tersebut karena harga cabai merah ditingkat petani hanya Rp 6.000 – Rp 9.000 sedangkan cabai rawit di tingkat petani Rp 40.000 – Rp 60.000. Untuk menyiasati harga cabai yang melambung Indonesia mengimpornya dari Thailand dan China tapi berimbas pada harga beli ditingkat petani.

Bagaimana dengan harga beras yang semenjak lebaran 2010 belum pernah turun? Ternyata Pemerintah telah memutuskan untuk mengimpor beras dalam bulan-bulan sebelum memasuki musim panen raya bulan Maret 2011. Kebijakan itu diharapkan mampu memperkuat stok beras Bulog dan meredam spekulasi. Tapi menohok para petani penghasil beras.

Yang terakhir adalah sanjungan Zamrud di khatulistiwa untuk Indonesia. Memangnya Indonesia masih layak? Deforestasi dimana-mana. Dalihnya pengalihan lahan tidak subur menjadi perkebunan kelapa sawit. Tetapi kok tanah subur di pulau Jawa juga ikut diembat ?

Dilain pihak, walau Indonesia menjadi  pengekspor CPO terbesar kedua di dunia tetapi harga minyak goreng dalam negeri balap lari dengan harga pasar dunia. Hingga membuat terpuruk usaha kecil menengah yang menggunakannya.

Bagaimana nasib petaninya ? Ada sih yang kaya tapi segelintir. Segelintir yang tidak berarti dibanding tumbal yang harus dibayar karena hilangnya hutan, yaitu berupa pasokan  sekian ton oksigen perharinya.  Indonesia sudah tidak layak disebut sebagai paru paru dunia.

Bukan Zamrud di Khatulistiwa  !  Bukan Negara Agraris !  Bukan Negara Maritim atau Kelautan !

Jadi, enaknya Indonesia dinamakan Negara apa ya ?

Punya usul ?

wajah zamrud khatulistiwawajah zamrud khatulistiwa

sumber gambar : disini dan disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s