Prigi Arisandi : Sang Kalijaga Surabaya, Peraih Goldman Environmental Prize 2011

Buku Indonesia Menggugat yang berisi tentang keberanian Bung Karno yang dilandasi oleh sebuah kajian ilmiah tentang penindasan, ketidakadilan, dan ketidakbenaran, telah menginspirasi Prigi Arisandi, pria kelahiran Gresik,  24 Januari 1976 ini untuk melakukan perlawanan karena rusaknya Kali Surabaya di Jawa Timur.

”Saya melakukan perlawanan yang mencerahkan,”kata Prigi ketika ditemui di Pintu Air Jagir, Wonokromo, Surabaya, awal April lalu. Perjuangannya sudah memperoleh hasil meski masih kecil, berupa mulai bersihnya Kali Surabaya sepanjang 41 kilometer (Mlirip, Mojokerto-Jagir, Surabaya).

”Saya tak akan berhenti berjuang sebelum Kali Surabaya bersih dari limbah dan sampah sehingga layak dipakai untuk mandi serta mencuci,” kata Prigi, yang awalnya memprotes reklamasi di pantai timur Surabaya untuk perumahan.

Prigi pun terus ”mengenalkan” Kali Surabaya kepada warga. Jika warga tahu apa saja isi sungai sebagai sumber utama air bersih di kota berpenduduk 3,5 juta jiwa itu, katanya, perlahan tetapi pasti mereka akan berhenti mengotori.

Empat tahun lalu dia mengajak warga Surabaya turut dalam sebuah perhelatan bertajuk ”Wisata Limbah, Menyusuri Sungai Terakhir”.

Prigi Arisandi kini Direktur Eksekutif Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), sebuah sebuah lembaga kajian ekologi dan konservasi lahan basah. Wisata limbah itu dimaksudkan untuk mengajak warga melihat langsung betapa parahnya kondisi sungai yang mengalir di sekitar mereka.

Limbah yang dibuang langsung oleh puluhan pabrik membuat kondisi kali yang membelah Surabaya hingga Gresik itu parah. Tiap hari warna air kali berubah-ubah, dari coklat, hitam, hijau, hingga putih.

Secara kasatmata saja, kondisi sungai di Surabaya ini sudah parah. Namun tindakan nyata, termasuk penegakan hukum, untuk mengatasi hal itu belum ada,” kata suami Daru Setyorini dan ayah tiga putri itu.

Wisata limbah itu rutenya menyusuri Kali Surabaya dari Gunung Sari hingga kawasan industri Driyorejo, Gresik, sepanjang 16 kilometer. Waktu tempuh selama empat jam adalah bentuk satire karena kian sepinya kepedulian warga Surabaya pada keadaan lingkungan di sekitar mereka.

Di sepanjang penyusuran itu, siswa-siswa menyaksikan warna air yang beragam dan berbagai jenis makhluk hidup di dalam sungai. Mereka juga mendapat penjelasan dari Prigi dan kawan-kawan tentang indikator air yang sudah tercemar limbah serta tingkat daya tahan berbagai makhluk hidup dalam air.

Makin bersih

Sepinya reaksi warga kota dan pihak berwenang terhadap rusaknya sungai tak membuat Prigi patah arang. Ia tak pernah berhenti melakukan berbagai hal, dari menggelar aksi massa di jalanan, memberi pernyataan dan peringatan di sejumlah media massa, dihadang petugas, dicibir pemilik pabrik, hingga mendatangi pabrik-pabrik di sepanjang bantaran kali.

Dia tak ubahnya Sunan Kalijaga yang setia menunggu dan menjaga Kali Surabaya. Siapa pun yang ingin melihat betapa buruknya instalasi pembuangan air limbah (IPAL) milik pabrik di sepanjang Kali Surabaya, dia siap mengantarkan ke lokasi.

Sebelum tahun 2008, pipa-pipa besar milik berbagai pabrik membuang langsung limbah ke kali yang menjadi sumber utama bahan baku air minum bagi PDAM Kota Surabaya. Sebuah pabrik kertas terbesar di Jawa Timur, misalnya, mengalirkan sisa pengolahan bubur kertasnya tanpa henti.

Namun, berkat berbagai aksi dan perlawanan yang dilakukan Prigi, kini pabrik umumnya sudah membangun IPAL dan tak lagi membuang langsung limbah cair ke Kali Surabaya. ”Sekarang fokus menyadarkan warga agar tak menjadikan sungai sebagai tempat segala macam sampah,” ujarnya. Dia bahkan sering menggadaikan perhiasan dan mobil untuk memenuhi kebutuhan dana operasional Ecoton, yang kini diawaki delapan orang.

Konsistensi Prigi ini bermula ketika dia dan kawan-kawannya di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, membentuk kelompok pemerhati lingkungan Ecoton pada 1996. ”Kami katanya ilmuwan, tetapi wadah untuk melakukan kajian kritis yang berdasarkan penelitian tak ada di kampus,” kata lulusan S-1 & S-2 Biologi, Fakultas MIPA, Unair, Surabaya ini.

Itu sebabnya, dalam setiap aksinya, Prigi selalu membawa data dan fakta. Pengetahuan di bidang biologi membantu dia bisa berbicara fasih mengenai limbah dan berbagai jenis mikroba dalam air.

Rencana pembentukan Ecoton awalnya ditolak pihak kampus. Meski demikian, Prigi tetap mengajukan pendirian Ecoton. Ia malah mendirikan sendiri kelompok studi itu.

Kegiatan pertama yang dia lakukan adalah mengeksplorasi berbagai tumbuhan di tepi kali dan pantai timur Surabaya. Untuk membiayai eksplorasi, dia membuat proposal penelitian dan mengajukannya ke Ikatan Orang Tua Mahasiswa Unair.

Uang sebesar Rp 250.000 dari pengajuan proposal itu dimanfaatkan Prigi dan 10 teman kampusnya. ”Idenya mencari tahu tentang kekebalan makhluk hidup dan ketebalan hutan mangrove di pantai timur Surabaya. Hasilnya, ternyata pencemaran yang terjadi berawal dari sungai,” ujarnya.

”Perlu ada yang bersuara karena banyak kerusakan,” kata Prigi saat ditanya tentang motivasinya untuk terus berupaya menyelamatkan sungai di Surabaya. Namun, energi terbesar yang mendorong dia adalah sebuah kenangan indah pada masa kecil kala dengan riang dan bebas mandi di sungai yang bersih dari limbah.

”Aku ingin anak-anak juga bisa mandi di sungai seperti pengalamanku dahulu,” ujar lulusan SDN2 Bambe Driyoreji, Gresik ini.

Karena obsesinya itu, Prigi rela menempuh hidup dengan bersahaja. Bahkan, sudah 15 tahun dia menjalani hidup sebagai aktivis lingkungan kendati sering pesimistis apakah bisa hidup dari dunia LSM yang digeluti.

”Tetaplah optimistis bahwa Kali Surabaya bisa jernih karena semakin banyak pihak yang mulai terlibat mengamankan, baik dari aksi nyata maupun lewat kebijakan,” katanya.

Dalam perjalanan aktivitasnya, Prigi telah menerima penghargaan, antara lain:

– Delapan penghargaan (2004-2010), termasuk dari Ashoka Fellow, sebuah yayasan dari Amerika Serikat.
– Ecoton (2000) menerima ”grant” sebesar Rp 60 juta dari Whittley Foundation, sebuah yayasan dari Inggris yang mendukung aksi-aksi konservasi.
– Ecoton (2000) mendapat dukungan dana dari Yayasan Keanekaragamanhayati.
– Goldman Environmental Prize yang diumumkan di San Francisco, AS (2011)

Sumber: Kompas

 

http://indonesiaproud.wordpress.com/2011/04/09/prigi-arisandi-sang-kalijaga-surabaya-peraih-goldman-environmental-prize-2011/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s