Kampanye Lingkungan Ala si Rime……


kampanye lingkungan online nya Rime
kampanye lingkungan online nya Rime

Alumni biology ITB tahun 2003 ini memang sering membuat ulah yang mengherankan. Ulah yang tidak biasa untuk rata-rata gadis. Misalnya bergabung dengan  WWF Forest Friend. Suatu kampanye lingkungan di dunia maya yang diselenggarakan WWF Indonesia – Jerman. Cukup banyak pesertanya, sebelum ditentukan 3 pasangan paling potensial untuk berlomba.  Beruntung Rima terpilih menjadi finalis, berpasangan dengan Lena Gottschalk seorang gadis Jerman yang masih duduk di bangku SMA.

Setiap pasangan finalis harus membuat miniblog sahabat pena. Isinya tentu saja kampanye sadar lingkungan dan “merayu” sebanyak mungkin pembaca untuk memilih mereka.    ” Ciee…  latihan kampanye pilkada nih,”seloroh kami, yang dijawab senyuman manis Rima.  Karena berbeda dengan jumlah suara pilkada yang akan mengantar seseorang ke kursi kekuasaan. Jumlah suara sepasang finalis WWF Forest Friend tidak sekedar menunjukkan kalah atau menang tapi keberhasilan finalis tersebut dalam upaya penanaman pohon di lokasi yang telah dipilih.

1 suara (vote) = 10 pohon. Dikalikan dengan jumlah suara, maka sejumlah itu pulalah yang akan ditanam di Taman Nasional Tessa Nilo, Provinsi Riau. Lokasi tersebut dipilih karena tim riset WWF menemukan bukti keberadaan harimau Sumatera dan merupakan wilayah yang sedang direstorasi.

Lancarkah usaha Rima mengumpulkan suara? Sayangnya tidak, di awal kampanye.  Berbeda denganRima yang sudah lulus kuliah, pekerjaannyapun  mengharuskan Rima mempunyai jejaring sosial yang luas sedangkan  Lena masih duduk di SMA sehingga jumlah pertemanannya masih sedikit. Tetapi berbekal semangat dan tekad kuat,  2 orang berbeda latar belakang,  berbeda umur bahkan berbeda negara  ini bisa kompak dan berjuang keras mengumpulkan suara. Ternyata tidak mudah, dan beberapa  penolakan “mengajak  kita  mengernyitkan dahi” :

  • “Bumi ini sudah dijaga dan diatur oleh Tuhan… Kalau terjadi kerusakan, dia bisa mengembalikan kondisinya sendiri.. Manusia tidak bisa melawan kehendak Tuhan. Dari pada kamu sibuk kampanye, mendingan kamu beribadah, minta Bumi ini segera diperbaiki.”
  • “Saya ga mau mendukung program seperti ini.. Karena ini hanya menguntungkan pihak tertentu saja.”
  • “Saya ga mau dukung beginian… Saya maunya mendukung secara langsung… yah, semacam jadi aktivis gitu lah….”
  • “Saya ga mau dukung, karena saya ga percayaglobal warming.”

Aneh ya, ternyata beragam sekali pendirian orang hanya untuk memberi vote yang berguna bagi pelestarian lingkungannya. Padahal tidak diminta sumbangan uang , pikiran, …….mmmm mungkin hanya perlu pengorbanan sedikit waktu  karena ketika membuka situs WWF Forest Friend agak lama, walau tetap tidak sebanding apabila kitalah yang harus menanam pohon. Tidak usah 10 pohon. 1 pohon saja kita tanam  pastinya membutuhkan waktu lebih dari 10 menit.

Sesudah banyak “makan ati” karena harus meyakinkan banyak orang bahwa memberikan vote kepada mereka sebetulnya suatu pekerjaan mudah yang memberi manfaat besar, akhirnya  :  Yaaay, Yes we won….. teriak Rima. Mereka  menang dengan 2.833 suara. Dan terbanglah Rima ke Jerman dan Riau untuk menanami Tessa Nilo dengan 28.330 pohon. Wow  asyiknya!

Ulah Rime ( yang bernama cantik Rima Putri Agustina ) lainnya  adalah ketika tasnya yang sudah sobek-sobek dibuang ibunya.”Memalukan, masa lulusan ITB tasnya sobek” mungkin demikian omel si ibu.

Wah , ngga punya tas (padahal perlu), pingin beli ( sayang uangnya, mendingan untuk beli buku). Rima pun menemukan jalan keluar : menjahit tas sendiri ! Jahit tangan, bukan hasil mesin jahit!  Karena dia tidak menguasai mesin jahit.  “Kainnya bekas  OSPEK” kata Rima, entahlah apa yang dimaksud dengan kain bekas  OSPEK  atau semacam  upacara perkenalan mahasiswa ITB.  Tapi tas  kain bekas OSPEK tersebut sungguh luar biasa, ngga kalah keren dengan tas yang kita beli di toko. Walau apabila diperhatikan dengan seksama terlihat jahitan tangan Rima yang tidak rapi 😛

13008963122111696333

tas daurulang Rime (dok. Maria Hardayanto)

Ulahnya yang lain lagi, mirip dengan saya. Yaitu membuat pos-it-note  dari kertas  bekas struk belanja, struk setor ke bank, struk  ATM juga bekas bon pembelian yang tidak diperlukan lagi karena hanya membeli perlengkapan pribadi.

Semula saya mengumpulkan dengan tujuan sewaktu-waktu mudah diketemukan. Tetapi seiring berjalannya waktu karena tumpukan itulah yang terdekat jadilah kertas kertas tersebut menjadi catatan belanja,  catatan resep hasil browsing internet, atau sekedar kertas memo yang memang sering tiba-tiba kita butuhkan. Di dekat meja telephone atau diatas meja kita.

Mencoba ikut melestarikan lingkungan memang bisa lewat berbagai cara. Dan Rima sudah membuktikannya mulai dari yang njlimet seperti kampanye online dan harus meyakinkan para calon voter bahwa pilihannya benar, hingga menyimpan sehelai struk ATM yang biasanya langsung dibuang tapi ternyata masih bisa berguna.

post-it-notenya Rimepost-it-notenya Rime

13008985891142588238

Sumber : http://kopipakegula.blogspot.com/

sumber gambar : disini dan disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s