Mengapa Indonesia Memilih Nuklir ?

Pasca gempa dan tsunami yang melanda Jepang  pada tanggal 11 Maret 2011, menebarkan teror tersendiri yang disebabkan meledaknya reaktor nuklir Fukushima akibat overheating,  walaupun pihak Badan Keselamatan Nuklir dan Industri Jepang (NISA) menegaskan, tak kan ada efek bagi kesehatan selama warga mengungsi seperti yang diperintahkan. Bahkan perbandingan tingkat radiasi dapat dijelaskan sebagai berikut :

  • Tingkat radiasi yang diukur di dekat reaktor pada Senin, 14 Maret 2011 pukul 13.12 sebesar 34,2 microsievert,
  • sedangkan paparan radiasi rontgen perut dengan sinar -X di rumah sakit mencapai 600 microsievertdan
  • seseorang yang melakukan perjalanan pulang-pergi naik pesawat dari  Jepang ke Pantai Timur AS akan menerima radiasi sebesar 200 microsievert.

Mungkin public acceptance yang berhubungan erat dengan minimnya informasi mengakibatkan  masyarakat selalu menghubungkan meledaknya reaktor nuklir dengan sejarah kelam Hiroshima dan Nagasaki kemudian disusul musibah Chernobyl  menambah teror tanpa pemberitaan berimbang. Karena  reaktor Serba Guna Siwabessy Serpong Indonesiapun pernah meledak, tapi dilain pihak reaktor Kartini aman dan selamat saat gempa dahsyat mengguncang Yogyakarta pada 27 Mei 2006 yang lalu.

Tidak ada teknologi yang aman 100 %, berdasarkan hasil studi oleh Paul Scherrer Institute, Swiss terhadap 4.290 kecelakaan dalam industry energy antara tahun 1969 -1996 menunjukkan bahwa nuklir adalah sumber energy yang paling aman dibanding gas alam, minyak dan batubara.

Batu bara juga menghasilkan emisi CO2, NOx, SOx, serta partikel debu yang dilepaskan ke udara. Emisi CO2 batu bara mencapai 1250 gram CO2/kWh sedangkan tingkat emisi nuklir hanya 25 gram CO2/kWh. Karena membantu mengurangi pemanasan global,  China ( mempunyai 27 unit PLTN), Rusia (11 PLTN) dan India (6 PLTN) sebagai kekuatan baru ekonomi dunia sekaligus penyumbang emisi terbesar dunia yang menempati peringkat ke 2,3 dan 4 berencana menambah reaktor nuklirnya masing-masing 50 unit (China), 14 unit (Rusia) dan 18 unit (India). Dibanding bahan bakar fosil, pembangunan PLTN memang lebih mahal tetapi jauh lebih murah dalam pengoperasian.

Diagram PLTN tipe BWRDiagram PLTN tipe BWR (prototype Fukushima)

Prinsip Kerja Reaktor Nuklir

Dikembangkan sejak tahun 1950, sebagian besar PLTN menggunakan air sebagai pendingin dan moderator (light water reactors). PLTN memanfaatkan energy hasil reaksi fisi (pembelahan inti atom U atau Pu yang menghasilkan energy) didalam reaktor. Energi yag berupa panas ini digunakan untuk menguapkan air untuk memutar turbin dan membangkitkan listrik. Pada dasarnya prinsip kerja PLTN hampir sama dengan PLTU dan PLTG, kecuali bahwa di dalam PLTN tidak ada combustion.

Komponen utama dalam reaktor nuklir adalah bahan bakar, biasanya berupa pellet UO2 dengan titik leleh 28000 Celcius yang disusun dalam tabung silinder dan dirangkai dalam suatu perangkat bahan bakar. Satu PLTN memiliki sekitar 200 perangkat bahan bakar yang panjangnya mencapai 4 meter. Moderator adalah komponen  PLTN yang berfungsi memperlambat. Komponen utama berikutnya adalah zat pendingin berupa air yang membawa dan memindahkan panas dari teras ke penukar panas neutron yang dilepaskan dari reaksi fisi. Populasi neutron diatur oleh batang kendali yang sekaligus mengatur daya.

Perkembangan Teknologi PLTN

Teknologi PLTN telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Keselamatannyapun dibuat secara alamiah melekat (inherent) dan semakin tidak bergantung pada operator atau alat aktif (passive safety). Sejak awal tahun 1950-an hingga kini, PLTN dibagi menjadi beberapa generasi :

PLTN Generasi 1, dikembangkan pada rentang waktu 1950-an hingga tahun 1960-an. Generasi ini merupakan prototype awal reactor pembangkit daya yang bertujuan untuk membuktikan bahwa energy nuklir dapat dimanfaatkan untuk tujuan damai. Contoh PLTN generasi ini adalah shippingport (type PWR), Dresden (type BWR) dan Magnox (type GCR).

PLTN Generasi II dikembangkan setelah tahun 1970-an. Mayoritas PLTN yang sekarang sedang beroperasi di seluruh dunia bisa digolongkan dalam Generasi II. Sebagian sudah di refurbish dan mengalami perpanjangan masa operasi. PLTN Generasi II dijadikan sebagai reaktor daya komersial acuan dalam pembangunan PLTN hingga akhir tahu 1990-an. Contoh PLTN generasi ini adalah PLTN type PWR, CANDU, BWR, AGR dan VVER.

PLTN Generasi III dan III+ adalah hasil perubahan desain secara evolusioner sambil memanfaatkan pengalaman dari operasi sebelumnya. Dikembangkan mulai akhir tahun 1990-an dengan tujuan meningkatkan faktor keselamatan dengan memanfaatkan system keselamatan melekat dan memperbaiki keekonomian reaktor. Jenis ini banyak dibangun Negara-negara Asia Timur. Contoh PLTN Generasi III adalah System 80+. Perbaikan desain yang evolusioner untuk meningkatkan faktor ekonomi secara signifikan menghasilkan PLTN Generasi III+ yang lebih ekonomis, contohnya AP1000, ABWR dan EPR.

PLTN Generasi IV adalah hasil pengembangan inovatif yang memiliki aspek ekonomi tinggi, tingkat keselamatan lanjut, menghasilkan limbah dengan kuantitas sangat rendah, sulit dipoliferasi (diselewengkan untuk tujuan non damai) dan bebas dari kemungkinan melelehnya teras (melt-free) atau bebas kecelakaan nuklir.

Desain PLTN Generasi IV dirancang tidak hanya untuk memasok daya listrik, tetapi juga untuk memasok energy termal untuk industry proses. Oleh karena itu PLTN Generasi IV tidak lagi disebut sebagai PLTN tetapi Sistem Energi Nuklir (SEN).  Enam tipe reactor Generasi IV adalah : Very High Temperature Reactor (VHTR), Sodium-cooled Fast Reactor (SFR), Gas-cooled Fast Reactor (GFR), Liquid metal cooled Fast Reactor (LFR), Molten Salt Reactor (MSR) dan Super Critical Water cooled Reactor (SCWR).

The Evolution of Nuclear Power

The Evolution of Nuclear Power

Mengapa memilih Energi Nuklir ?

“Dengan pertumbuhan ekonomi dalam negeri 6-7 % per tahun, maka diperlukan pertumbuhan energy sekurang-kurangnya 10 % per tahun,”menurut Kepala BATAN, Dr. Hudi Hastowo. Karena itu apabila kebutuhan listrik Jawa-Bali saat ini adalah 30.000 MW maka diproyeksikan akan meningkat menjadi 80.000 – 100.000 MW pada tahun 2025. Solusi energy yang dapat dimanfaatkan adalah sebagai berikut :

  • Energy surya, membutuhkan investasi yang mahal yaitu $8/watt serta effektivitas tapak yang kecil yaitu 0,1 kW per m2.
  • Energy angin sangat ramah lingkungan dan biaya perawatan yang rendah. Sayangnya potensi angin di Indonesia tidak terletak pada tempat dimana listrik kebanyakan diperlukan. Rata-rata kecepatan angin di pulau Jawa adalah kalas 1, kelas terkecil diantara 5 kelas. Lokasi yang paling potensial adalah Indonesia Timur dengan pemanfaatan sebesar 275 MWp pada tahun 2025.
  • Energy panas bumi. Persoalan utama dalam geothermal adalah jauhnya lokasi sumber panas dari daerah yang membutuhkan listrik. Pada tahun 2025 direncanakan pemanfaatan geothermal sebesar 9500 MW.
  • Mikrohidro, terbukti ramah lingkungan dan teknologinya sudah dikuasai oleh Indonesia. Tetapi seperti geothermal, mikrohidro memiliki kesulitan akses ke lokasi. Pada tahun 2025, pemanfaatan mikrohidro direncanakan sebesar 950 MW.
  • Energi laut. Indonesia mempunyai potensi energy laut yang sangat besar yaitu 1650 MW. Permasalahan terletak di teknologi yang belum dikuasai dan perawatan yang terkendala korosi air laut.

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa energy terbarukan walaupun dapat dimanfaatkan seluruhnya, tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan energy listrik Jawa-Bali yang tinggi pada tahun 2025.

Nuklir dipilih karena secara keilmuan, Indonesia sudah mempunyai pengalaman sejak tahun 1964, terhitung sejak reaktor Triga di Bandung menunjukkan kekritisannya (ungkapan yang digunakan untuk menunjukkan terjadinya reaksi fisi berantai terkendali) pada 16 Oktober 1964 (dibangun 1 Januari 1961).

Selain Reaktor Triga 2000 di Bandung, Indonesia juga mempunyai Reaktor Kartini di Yogyakarta  yang dibangun 1 April 1975 dan mencapai kekritisan pada 25 Januari 1979.

Reaktor ke tiga adalah reaktor Serbaguna Siwabessy Serpong yang dibangun 1 Januari 1983 dan mencapai kekritisan pada tanggal 29 Juli 1987.

Nuklir memang tidak sempurna dan mahal untuk dibangun. Tetapi selain target kebutuhan pada tahun 2025 yang harus mulai dipersiapkan semenjak dini, perlu diingat bahwa hingga kini baru 66 % penduduk Indonesia yang menikmati listrik. Sejauh ini nuklir sudah memenuhi 15 % kebutuhan listrik dunia dan mencegah emisi 2,1 milyar ton CO2 per tahun.

Pemilihan nuklir mungkin dapat dianalogikan dengan pemilihan menggunakan pesawat terbang ketika bepergian jauh. Alasan utama orang menggunakan pesawat terbang bukan karena percaya pada pilotnya tetapi karena manfaatnya yang signifikan dibandingkan resikonya. Sebagian besar orang menganggap bahwa Manfaat menggunakan pesawat terbang sebanding dengan resiko yang mungkin terjadi.

Data :

–      Berbagai sumber

–      Kompas cetak 20 maret 2011

–      Majalah Energi Februari 2011

–     Sumber diagram :  disini dan disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s