David Sutasurya, Sang Pahlawan Lingkungan

David Sutasurya

Pernah dengar seorang Direktur bergaji sebesar UMR (Upah Minimum Regional) ? Pasti anda tertawa,dan berkata : ….lelucon ga penting, garing !

Kemudian apa yang anda bayangkan, apabila saya bercerita tentang pertemuan saya dengan seorang Direktur yang alumnus ITB ? Pasti anda membayangkan saya bertemu dengan seseorang berperut agak buncit, berpakaian merk terkenal, berbau harum, berponsel gadget terbaru, duduk di depan meja kerja mengkilap dengan laptop berlogo gambar apel tergigit diatasnya.

Sayang, anda harus kecewa ! Direktur yang saya temui bertubuh tinggi, tampan, sama sekali tidak buncit, berpakaian bersih tapi sangat sederhana bahkan sudah tua hingga nampak lubang lubang kecil diatas pundaknya, berponsel kuno dan duduk lesehan, menuangkan isi pikirannya ke laptop yang terkadang harus digoyang-goyang ketika layarnya tiba tiba mati karena dia membeli laptop tersebut second-hand alias bekas pakai.

Anda pasti menebak, ach itu sih Direktur gadungan !

Anda salah, dia adalah David Sutasurya pejabat resmi Direktur YPBB (Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi) Bandung. Yayasan yang terbentuk 17 tahun yang lalu.

Anda pasti menjawab lagi , ya iyalah Direktur yayasan kan berarti Direktur lembaga non profit, bagaimana mungkin dia hidup mewah ?

Oho mungkin, bahkan sangat mungkin ! Karena hidup mewah adalah suatu pilihan, demikian juga hidup sederhana. Dan David memilih yang terakhir, bagaimana mungkin dia bisa berbaju mewah ketika mengetahui berapa banyak karbon yang terbuang untuk menghasilkan sebuah t-shirt atau kemeja.

Bagaimana mungkin dia membuang ponselnya dan laptopnya ketika tahu kategori sampah macam apakah barang barang tersebut dan berapa banyak karbon yang dapat dihemat apabila dia tidak mengganti ponsel dan laptop sebelum benar benar rusak.

Sebagai gambaran seperangkat computer membutuhkan 600 liter minyak bumi dalam pembuatannya, sedangkan sebuah ponsel menghabiskan 30 liter minyak bumi. Padahal cadangan minyak dunia menurut ilmuwan Amerika Serikat hanya tersisa untuk 40 tahun kedepan, bahkan ilmuwan Indonesia memprediksi cadangan minyak dunia hanya tersisa 18 tahun lagi apabila gaya hidup boros minyak bumi tidak terkendali seperti sekarang.

Pemborosan yang seiring sejalan dengan makin canggihnya tehnologi dan makin gencarnya pemasaran produk elektronik, gadget serta semua produk yang mencerminkan gaya hidup metropolis hingga membuat konsumen kalap mata tanpa mempertimbangkan apakah dia betul betul membutuhkan produk tersebut.

Ditengah hiruk-pikuk dan gegap gempitanya tingkah polah masyarakat urban, David dan YPBB mengambil sikap untuk mengonsumsi produk dengan arif bahkan apabila mampu mengembangkan kemungkinan kemungkinan penggunaan energy yang terbarukan, salah satu yang sudah berjalan adalah penggunaan kotoran sapi sebagai biogas.

Pemahaman mendasar adalah bahwa lingkungan hidup ini harus berkelanjutan. Tuhan melimpahi umatNya sumber daya alam tak terbarukan untuk sekian generasi dan generasi manusia penikmat sumber daya alam yang tak terbarukan tersebut harus menyiapkan sumber daya alam terbarukan agar lingkungan hidup yang sehat tetap terjaga.

Bagaimana cara arif menghemat bahan baku fosil (tak terbarukan) agar dapat digunakan beberapa generasi ? David bersama YPBB menunjukkan caranya dengan membangun komunitas Zero Waste, acara edukasi dan rekreasi di taman kota ( Kereta Kota ) hingga mengadakan pelatihan pelatihan Zero Waste Event, Global Warming, Diet Karbon, Pengelolaan Sampah Kota dan Kompas Berkelanjutan.

Beberapa istilah diatas mungkin membingungkan dan terasa terlalu ngimpi ! Tetapi tujuankearah kondisi ideal memang harus ditetapkan, karena itu peserta kegiatan yang notabene masyarakat awam diajak untuk memahami bahwa solusi solusi arif itu ada. Contoh sederhana adalah membawa air minum sendiri di setiap pertemuan, toh tidak sulit, dan hasilnya kita tidak menghasilkan sampah anorganik. Sampah yang hingga kini belum dapat teratasi karena semua pihak terkait masih terpaku pada bagaimana mendaur-ulang sampah, dan bukannyabagaimana mengurangi sampah. Padahal semboyan 3 R (Reduce, Reuse, Recycle), jelas menunjukkan bahwa yang harus dilakukan adalah mengurangi dan menggunakan ulang lebih dahulu sehingga recycle (daur-ulang) adalah pintu darurat ketika reduce dan reuse tidak dapat dilakukan.

Yang disasar David dan YPBB adalah masyarakat perkotaan yang cenderung lebih sulit dibandingkan masyarakat pedesaan. Informasi selengkapnya silakan baca disini.

Masyarakat kota sering merasa sibuk, merasa sudah mengerti lingkungan hidup, merasa tidak punya cukup waktu untuk hal tersebut, merasa toh aku punya uang, dan yang paling fatal adalah menunjuk pemerintah sebagai satu satu lembaga yang paling bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan hidup.

Padahal tanpa peran serta masyarakat, pemerintah ibarat macan ompong yang tak berkuku. Menyeramkan tapi tidak mempunyai kemampuan bertindak karena kompleksnya masalah.

Apakah untuk mencapai kondisi ideal, David harus “menderita” berkendaraan angkutan umum, berbaju belel dan berlaptop “aneh” ?

Tidak juga, karena David menjalaninya dengan bahagia, dia menikmati setiap karbon yang berhasil dihemat demi pelestarian lingkungan perkotaan, demi lingkungan bersih dan sehat yang harus diwariskan karena diyakininya bukan hanya milik generasi sekarang.

Untuk pribadinya dan kelancaran operasional YPBB, bisa saja David menerima bantuan dari penyandang dana besar yang sarat kepentingan. Tetapi dia memilih bekerja lepas dan menyerahkan hasilnya pada YPBB agar program pelestarian lingkungan berjalan lancar. Dia sendiri cukup menerima gaji sebesar UMR.

Martirkah dia ? Bukan, dia hanya manusia biasa yang tanpa dia sengaja telah mengisi kekosongan sosok panutan pahlawan lingkungan perkotaan.

Sosok yang diperlukan ketika masyarakat kota sebagai konsumen bak boneka dicekoki iklan iklan produk yang menjual isu peduli lingkungan, ketika edukasi yang aplikatif diperlukan, dan sosok yang diperlukan ketika permasalahan tidak menemukan solusi.

Ah, sebegitu hebatnyakah dia ? Mungkin ya , mungkin tidak. Karena dia sosok yang rendah hati dan sederhana, hanya seringai tampannya saja yang muncul ketika para sukarelawan YPBB mengolok-olok bajunya yang bolong.

Itulah David, tepatnya David Sutasurya.

(sumber data : Earth From Above)

David Sutasurya, dengan anaknya yang cantik, Nira

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s