Masalah Plastik Ibarat Masalah PSK (2)

3. Kehadirannya Tak Terhindarkan

Kehadiran PSK sudah kita dengar ceritanya sejak jaman nabi, sedangkan plastik baru diketemukan dan dipublikasikan oleh Alexander Parkes pada tahun 1862.

Tetapi keberadaan keduanya tanpa disadari tak terhindarkan, berapa kali sudah tempat PSK dirazia tetapi mereka selalu muncul lagi dan muncul lagi.

Sedangkan bagaimana mungkin kita menghindari plastik ? Dari bangun pagi hingga tidur di malam hari, hidup kita dikelillingi plastik. Sikat gigi, ember, lemari es, laptop, kacamata hingga piring melamin semuanya terbuat dari plastik. Kita menjadi tergantung pada plastik karena  belum ada produk substitusi yang mengungguli sifat-sifat plastik.

Pemakaian yang bijaksana tentunya baik, tetapi ketika kita larut pada perilaku “sekali pakai” timbullah bencana. Timbulan sampah ada dimana-mana, pasar menjadi lebih kotor karena plastik memicu bau dan gas beracun, dan orangpun enggan tinggal di dekat TPS (Tempat Pembuangan Sampah Sementara)

doc : google

4. Masalah Besar Yang Diusahakan Dianggap Tidak Ada

Mengapa Diusahakan ? Karena kebijaksanaan (khususnya Pemerintah) yang berkenaan dengan PSK sering tidak memperhatikan dampaknya, tidak memberikan solusi.

Lokalisasi dihapuskan, warung remang remang dirazia, tanpa memperhatikan dampaknya sehingga para PSK berpencar menjajakan diri dimana-mana akibatnya penyebaran HIVpun semakin sulit  dipantau.

Bagaimana dengan plastik ? Setali tiga uang !  Sadar dampak pemakaian plastik yang semena-mena tidak menjadikan Pemerintah menyikapinya dengan bijaksana. Minimal peraturan daerah yang mendukung, masalah sampah plastik dianggap sama dengan masalah sampah lainnya. Padahal jelas berbeda, harga plastik yang murah bahkan gratis menimbulkan perilaku sekali pakai sehingga sampah plastikpun tak terbendung.

Tidak demikian halnya dengan kaleng dan kaca/beling, harganya relatif mahal, sehingga konsumen mengurangi pembelian produk dengan kemasan tersebut. Padahal pemulung dengan senang hati menerima sampah kaleng dan botol kaca/beling, sedangkan sampah plastik mereka ogah !

Nampaknya lebay banget membanding-bandingkan PSK dan plastik !! Tetapi bencana dipelupuk mata rupanya diabaikan para pemangku kepentingan untuk memberikan solusi pada masyarakat. Masyarakat diberi madu beracun yang terasa manis ketika dicecap tetapi mematikan akibatnya. Mati perlahan , karena dimulai dari lingkungan hidup yang rusak mengakibatkan kerusakan ekosistem dan dapat ditebak masyarakat yang hidup dalam lingkungan sehatpun makin jauh dari impian.

Akhirnya sebagai bagian dari masyarakat  yang tidak dipedulikan masalahnya, kita hanya dapat bersikap bijaksana. Mengkonsumsi untuk produk-produk yang memang dianggap perlu dan tak tergantikan. Karena masalah lingkungan hidup bukan sekedar masalah hari ini tetapi masalah yang berkaitan dengan banyak aspek (sosial, budaya, agama hingga berimplikasi ke kesehatan dan pendidikan), dan lingkungan hidup macam apa yang akan kita wariskan kelak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s