Biopori, Adu Gengsi IPB dan ITB

Ganesha Hijau dalam Menabung Air

Biopori atau lebih tepatnya Lubang Resapan Biopori dibuat dengan menggunakan alat bor Biopori yang dirancang Ir Kamir Raziudin Brata Msc, seorang pengajar Fakultas Pertanian IPB, profilnya dapat klik disini

Lubang Resapan Biopori berdiameter 10 cm – 15 cm menjadi salah satu alternatif ibu rumah tangga yang sudah peduli untuk memisah sampahnya tapi enggan bercape ria membuat kompos.

Semua sampah organik dapat diimasukkan kedalam lubang sedalam 1 meter ini, termasuk sampah organik yang harus mendapat perlakuan khusus seperti  : kulit telur, potongan tulang bahkan kulit durian.

Jumlah Lubang Resapan Biopori disarankan berjumlah cukup banyak agar semua sampah organik rumah tangga dapat tertampung dan tabungan airpun mencukupi. Lebih jelasnya tentang pembuatan dan cara kerja Lubang Resapan Biopori dapat dilihat disini

Pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB) ini memang sedang gencar dilakukan bersamaan dengan kampanye kebersihan dan penghijauan kota karena harga alat lubang Biopori termasuk murah, dapat digunakan untuk satu daerah RW (Rukun Warga), sehingga himbauan bahkan peraturan daerah tentang kewajiban setiap rumah tangga menanam minimal 1 pohon dan membuat minimal 1 LRB adalah suatu keniscayaan.

Karena  ketika masyarakat dihimbau untuk menjaga lingkungan, mereka membutuhkan solusi, solusi mudah memisah/membuang sampah organik (sampah anorganik yang berjumlah sekitar 25 % dari total sampah akan mudah dikelola apabila tidak tercampur sampah organik).

Solusi mudah juga untuk menabung air ketika kampanye hemat air didengungkan. Dan jawabannya ada pada LRB,  berhubung biaya pembuatan sumur resapan cukup mahal dan cukup riskan pembuatannya ketika suatu rumah sudah dibangun tanpa meninggalkan pekarangan tak bersemen sepetakpun.

Kelihatannya semua sudah baik-baik saja, oke-oke saja, tinggal prung dikerjakan oleh warga yang peduli pada lingkungannya. Bahkan kelompok kelompok pecinta lingkungan di ITB membuat ratusan LRB disepanjang jalan Dago.

Mengapa jalan Dago ? Karena jalan prestisius di wilayah Bandung Utara inipun sudah terlanda banjir cileuncang di setiap hujan (banjir cileuncang = banjir disebabkan selokan mampet atau dapat juga disebabkan lebar serta tinggi selokan tidak memadai, air banjir akan surut seiring berhentinya hujan)

Pemilihan jalan Dago juga disebabkan karena merupakan pusat keramaian dan pusat perhatian masyarakat , selain itu juga dekat dengan kampus ITB, di jalan Ganesha. Kelompok Seni Rupa ITB pun berniat membuat LRB cukup banyak , karena sumur resapan dikampus ITB yang cukup luas tersebut hanya berjumlah 1 buah. Yah bukan anak Seni Rupa namanya kalau tidak “nyeni”,mereka bermaksud mewarnai paralon-paralon diatas lubang LRB agar menyala di malam hari.

Sukseskah ? Belum ! Karena masih ada suara sumbang : “wah, bagaimana kalau bakteri-bakteri pembawa penyakit  yang ada di LRB mencemari sumur, baik sumur pompa maupun sumur tradisional/timba ?”

Pertanyaan  sama yang saya temukan ketika sedang mengadakan pelatihan dan berusaha saya jawab dengan pengetahuan awam sbb :

  1. Ketika sampah organik masuk LRB, dia akan dimakan dan diolah oleh cacing-cacing hingga berubah menjadi kompos.
  2. Kedalaman LRB maksimal adalah 1 meter sedangkan kedalaman  sumur sekarang bertambah dalam hingga 20 meter lebih berhubung sediaan air tanah yang menipis, sehingga perembesan air lindi (kalaupun ada), sangat kecil kemungkinannya.

Jawaban saya ini ternyata “nyambung” dengan jawaban seorang alumnus ITB, yang masih mengingat kebiasaan leluhur jaman dahulu yang membuat lubang di tanah untuk membuang sampahnya.

Jawaban-jawaban diatas tentunya membutuhkan pengkajian ilmiah, bukan berdasarkan perkiraan semata atau  tinjauan masa lalu yang belum tentu benar juga.

Jadi bagaimana dong ? Mungkin ini saatnya ilmuwan ITB dan IPB bersatu membuat penelitian untuk mendapatkan jawaban ilmiah yang dapat diterima masyarakat  sehingga mereka tidak resah dan dapat membuat LRB dengan tenang atau bahkan mungkin ada penemuan baru ?

Karena sekali lagi, masyarakat membutuhkan sosialisasi dan solusi , bukan sekedar kampanye  dan peraturan.

Salam persatuan  !

dok. foto : Ganesha Hijau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s