Pembangunan Salah Kaprah

oleh: piki

“tolak insinerator”, “tolak pembangunan lebak siliwangi”, “tolak pembangunan dago-punclut”

bagi masyarakat yang tinggal di bandung, pernyataan-pernyataan seperti itu tentu pernah kita lihat terpampang di spanduk-spanduk, atau jadi headline di media massa. alasan-alasan lingkungan, seperti isu daerah resapan air, isu pencemaran udara, dan daerah terbuka-hijau adalah alasan-alasan utama penolakan-penolakan tersebut.

kita mungkin bertanya-tanya, apa sih maunya orang-orang yang katanya peduli ini? mengapa pembangunan-pembangunan harus ditolak? bukankah pembangunan adalah sesuatu yang baik? pemerintah kota bandung juga memiliki pertanyaan yang kurang lebih sama. dulu, seorang petinggi di departemen kehutanan pernah melontarkan pertanyaan yang mungkin bisa menggambarkan betapa frustasinya pemerintah terhadap penolakan-penolakan pembangunan: “apakah kita harus selalu mengalah pada kepentingan monyet?”. menggelikan memang, pembukaan hutan untuk pembangunan selalu mendapat penolakan dengan alasan lingkungan, termasuk didalamnya, konsevasi.

apakah pembangunan itu buruk? pasti tidak. Soeharto dinobatkan sebagai bapak pembangunan, karena jasa-jasanya dalam pembangunan. masalahnya, dalam bahasa indonesia dan pemahaman umum, pembangunan selalu dikaitkan dengan membangun sesuatu secara fisik. padahal, pembangunan belum tentu berhubungan dengan sesuatu yang secara fisik harus dibangun. tujuan pembangunannya sendiri, seharusnya meningkatkan kualitas hidup manusia. tidak ada manusia yang tidak ingin memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan lebih baik lagi.

disini, kita bisa bersepakat tentang peningkatan kualitas hidup. masalahnya, kita punya pemahaman yang berbeda tentang kualitas hidup. pembangunan itu harusnya bisa meningkatkan kualitas hidup orang banyak, seperti cita-cita pembangunan itu sendiri. kita perlu bertanya lebih jauh tentang akibat-akibat yang timbul dari pembangunan. dampak positif dan negatifnya tentu. misalnya, pembangunan menyebabkan hilangnya daerah resapan yang berdampak pada krisis air bagi masyarakat banyak. apakah hal tersebut sesuai dengan cita-cita pembangunannya? apakah jika sekelompok masyarakat menderita kanker karena pencemaran udara dari sampah yang dibakar di insinerator, cita-cita pembangunan bisa dicapai? di sisi lain, pembangunan jalan tampaknya perlu dilakukan untuk membuka akses, dan pembangunan insinerator tampaknya perlu dilakukan karena kita diambang krisis sampah.

pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang mendorong penolakan-penolakan dengan dalih lingkungan hidup. yang membuat masalahnya tampak pelik, adalah dampak dari bentuk-bentuk pembangunan yang kita tahu saat ini tidak akan terjadi langsung. maksudnya, tidak semerta-merta setelah hutan dibuka, krisis air terjadi, atau setelah insinerator berjalan, masyarakat langsung terkena kanker. ada sejumlah waktu yang dibutuhkan sampai dampak-dampak buruk itu terjadi. tapi tentu kapanpun dampak itu terjadi, kita tidak menginginkannya, bukan?

jadi, cita-cita orang yang merencanakan dan menolak apa yang kita pahami sebagai ‘pembangunan’ tetap sama, yaitu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. yang berbeda hanya perspektif waktu serta kesadaran akan dampak dari pembangunan itu saja. selalu ada pilihan-pilihan kreatif untuk menyelesaikan masalah-masalah yang perlu diselesaikan dengan ‘pembangunan’. mengolah sampah sendiri misalnya untuk mencegah krisis sampah, atau mencari alternatif media transportasi yang cocok untuk meningkatkan akses. tinggal pilih saja.

(Catatan Walhi Jabar)penebangan pohon demi pembangunan fisik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s