Manusia Tertimbun Sampah

Pernahkah ada kejadian  manusia tertimbun sampah di belahan dunia lain ? Hasil  surfing  sementara di dunia maya tidak diketemukan.

Mungkin hasilnya  : ya ,  bisa juga : tidak !

Tapi realita longsornya  sampah di TPA Leuwi gajah, Bandung  yang memakan korban hingga puluhan  orang dan TPA Galuga, kab Bogor menimbun 4 orang pemulung serta 7 lainnya menderita luka-luka seharusnya tidak bisa dianggap masalah sepele.

Masalah yang  dilematis, karena para pemulung  tidak mungkin ngasruk ke Leuwipanjang atau ke Galuga apabila tersedia pekerjaan yang lebih baik di tempat lain.

Di lain pihak, walaupun  UU no 18 tahun 2008 tentang pemisahan sampah sudah cukup lama disahkan tapi ibarat macan kertas, masyarakat tetap dengan kebiasaannya menyatukan  sampah organik dan anorganik untuk diangkut tukang sampah ke TPS dan  Dinas Kebersihan bertugas layaknya “tukang angkut sampah” dari TPS ke TPA  kemudian  ……..  selesai !

Sebetulnya sulitkah memisah sampah ?

Jawabnya : “Sulit !” alias tidak sederhana.

Pemisahan sampah anorganik dan organik tidak sama dengan 4 : 2 = 2.

Contohnya : dimana harus membuang sampah  plastik berisi sisa-sisa makanan seperti  rendang ? Atau plastik berisi makanan basi ? Kemudian kertas berlapis plastik pembungkus nasi rames ?  dan masih banyak contoh lainnya.

Kalaupun kita berniat baik dengan membersihkan pembungkus makanan, bekas kemasan produk seperti kecap serta kresek dari sampah organik pastinya kita bingung , harus dibuang kemana sampah anorganik ini karena pemulung tidak setiap saat lewat di depan rumah kita.

Sedihnya lagi kalau kita sudah capek memisah sampah ternyata ujung-ujungnya tukang sampah menyatukan lagi  kedua macam sampah tersebut.

Jadi  undang-undang tidak mungkin diterapkan begitu saja tanpa pembenahan system dan sosialisasi yang intens karena membutuhkan perubahan tingkah laku. Perilaku yang sudah terpola sejak dini. Bahkan masyarakat sudah terbiasa berfikir pasif, hal yang mungkin terjadi karena warisan budaya feodal memaksa untuk tidak banyak bertanya.

Coba tanyakan ke sembarang orang, anggap dia adalah responden yang diambil secara acak : “Tahukah dia , bahan baku plastik ?”  “Bahan baku styrofoam ?”  hampir dipastikan tidak banyak yang tahu bahwa bahan baku plastic  dan styrofoam adalah minyak bumi. Kalaupun tahu, pasti mereka akan bertanya : “Apa salahnya menggunakan plastik  ?”  Saya kan membutuhkan plastik untuk membuang sampah.

Karena itu dibutuhkan sosialisasi bahaya plastik bagi lingkungan seperti bahaya racun yang dikandung plastik,  hingga sulitnya plastik terurai dialam karena membutuhkan ratusan tahun.

Beberapa pabrik plastik mencoba mengenalkan plastik ramah lingkungan yang mudah terurai di alam, yaitu berbahan baku sama tetapi mendapat campuran tertentu sehingga dalam waktu relatif singkat dapat terurai di alam.

Analogi termudah menyikapi plastik ramah lingkungan yang berbahan baku minyak bumi  adalah misalkan kita siram/buang bensin, solar atau minyak tanah ke tanah dan tanah tersebut kita tanami pohon produktif, apakah yang akan terjadi ?

Banyak ahli menganjurkan banyak cara, tetapi yang terpenting adalah niat baik berlandasan lingkungan yang semakin rapuh, kemauan kuat serta disiplin tinggi.

Pernahkah kita melihat iklan penyelamatan lingkungan hidup ? Khususnya dari departemen terkait.  Hampir tidak ada, kalaupun ada itu adalah iklan perusahaan besar yang telah memasarkan produk-produk tidak ramah lingkungan tapi berusaha “menebus dosa” lewat program CSRnya.

Bandingkan dengan iklan pajak,  iklan konversi minyak tanah ke gas bahkan iklan “kasus century”. Apakah dana penayangan iklan sosialisasi penyelamatan lingkungan yang berarti penyelamatan generasi selanjutnya sungguh tidak ada ?

Selain  sosialisasi, integrasi dan kordinasi  semua pihak  adalah yang terpenting.

Dimulai unit terkecil dari masyarakat yaitu keluarga, andai setiap keluarga diharuskan memisah sampahnya  karena tukang sampah hanya mau mengangkut sampah organik  pada hari  A, sampah anorganic hari B.

Tukang sampah bisa memilah sampah anorganik dan menjualnya ke pengepul.  Sedangkan sampah organik dibuat kompos dan hasilnya ditampung oleh Dinas Pertamanan untuk memupuk  lahan RTH (Ruang Terbuka Hijau) yang digadang-gadang pemerintah.  Bahkan Dinas Pertanian dapat menyalurkan ke petani sebagai pupuk organik.

Apakah hal tersebut diatas terlalu idealis hingga tidak mungkin dilaksanakan ? Apabila kita menengok penanganan sampah di beberapa negara maju, hal tersebut bukan tidak mungkin.

Bahkan  apabila pemerintah mau bersikap keras, teguh dan disiplin menerapkan undang undang no 18 tahun 2008, warga pasti akan patuh , toh perubahan ini untuk penyelamatan lingkungan, tempat  mereka  hidup dan mewariskannya pada generasi berikut.

Pernahkah terbayang  bahwa Indonesia bisa menerapkan pemakaian helm untuk pengendara sepeda motor ?

Pernahkah terbayang bahwa Indonesia akhirnya bisa menggratiskan biaya sekolah SD dan SMP  ?

Dan yang paling fonumenal, pernahkah terbayang bahwa Indonesia pernah berhasil dalam program KB (Keluarga Berencana) ?  Padahal pastinya banyak kontroversi yang terjadi pada  jaman OrBa dimana banyak anak dipercaya sebagai banyak rejeki !

Jadi penerapan pemisahan sampah dari sumbernya yakni rumah tangga  ( di perumahan), kios-kios (di pasar) terlebih di sekolah dan kantor yang relatif lebih mudah pastinya dapat dilaksanakan.

Sehingga kisah pemulung yang tertimbun sampah ketika sedang mengais rejeki tinggal dongeng  pengingat  generasi penerus.

Semuanya  tergantung niat, konsistensi dan disiplin ………………insya Allah kita dan generasi penerus tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s